Tuesday, May 23, 2017

My Favorite Articles This Week


Setelah dua minggu nggak ada postingan baru yang berarti—kecuali curhatan khas emak-emak ini, hari ini pengen share dua artikel yang aku tulis di dua portal berbeda (tapi dua-duanya anak dari Zetta Media, sih hihi). Agak cheating, tapi nggak apa-apa, deh. Semoga setelah ini bisa nulis postingan baru untuk blog!

Artikel pertama murni untuk hiburan. Because my huge love for Critical Eleven, aku memutuskan untuk nulis sesuatu tentang itu. Alasan kenapa nulis tentang Anya, soalnya di film Anya tuh gambaran perempuan Indonesia masa kini banget nggak, sih? Aku bukan Anya banget pastinya, tapi seru juga kalo bisa belajar dikit-dikit dari Anya biar jadi istri yang lovable buat suami. Setuju, yah? :D


Tips untuk nulis artikel (biar viral) di portal macam Hipwee: tulis yang sedang kekinian. Aku curi kesempatan untuk nulis tentang Critical Eleven karena memang lagi diomongin banget. Walaupun memang udah muncul beberapa artikel serupa, aku coba ngupas dari sisi yang agak berbeda. Puji syukur, lho, terakhir ngecek artikel ini udah di-share sebanyak 1,000+ kali! Mayannnnn. 

Artikel kedua ini lebih ke informasi buat mama-mama yang baru aja melahirkan. Aku nulis beberapa hal tentang sit moon period yang merupakan tradisi orang Cina, yang kudu dilakukan oleh perempuan pasca melahirkan. The one that I most regret for not (frequently) doing it was... pake gurita! Pantes perut gini-gini aja, ish!


Semoga tulisan di atas berfaedah untuk mengisi waktu hari ini, ya.  Happy reading and hope you have a great day! 

Friday, May 19, 2017

I'm The Mother of The Year

Ada yang udah nonton video viral di grup Whatsapp, tentang anak kecil terbalik dari ban pelampung waktu berenang di baby spa? Posisi si anak malang tersebut benar-benar terbalik 90 derajatdengan kedua kaki di atas dan kepala menghadap ke bawah... ke dalam air!!

Jantung rasanya langsung lepas setelah nonton video singkat itu. Buru-buru nyamperin Josh yang lagi main di bawah, terus aku peluk-peluk sambil nangis T___T 

Terus kenapa video kemarin bikin aku emosional sekali? 

Berikut alasan yang bisa diberikan: 

1. Aku lagi marah dan kesel banget karena Josh susah makan (lagi). 

Buat yang ngikutin Instastory aku, beberapa waktu lalu aku sempet sharing soal makannya Josh. Beberapa kali juga aku mention kondisi Josh kalo lagi makan seperti apa. Di blog ini juga pernah aku sesekali nyebut kalau Josh susah banget makannya. 

Nggak jarang aku stres sendiri kalo lagi mikirin soal ini. Pernah 1-2 kali muncul keajaiban, tiba-tiba Josh mau makan dengan gampangnya. Tapi dengan gampangnya juga keajaiban itu tiba-tiba hilang. 

Kemarin itu aku udah di puncak emosi. Kalo Josh nolak makan, biasanya aku biarinin aja. Entah kenapa kemarin itu aku berubah wujud menjadi ibu tiri. Di saat Josh udah geleng-geleng nolak makanannya, aku pegang kepalanya, lalu aku paksa masukin sendok ke mulutnya, sampai anaknya berontak. Nangis? IYA LAH. Siapa juga yang suka dipaksa. Tapi aku sampai setega itu masukin beberapa sendok dengan cara yang sama.  

Ending-nya gimana? Makanannya diemut, anaknya stres, makin sebel sama aktifitas makan, dan anaknya nggak mau nengok ke mamanya sampai mangkok dan sendok udah nggak dipegang mamanya lagi. 

I'm not proud of what I did. 

Tapi ternyata aku belom kapok. Malamnya, I repeated the same thing. Nggak lupa kali ini disaksikan suami dan mama mertua. Selesai makan malam, aku gendong Josh duluan ke kamar untuk kasih nenen. Guess what happened. 

Josh nangis histeris. 

He wanted to breastfeed, tapi mulutnya masih 'nyimpen' makanan yang aku paksa suapin tadi. Aku korek makanannya keluar, dia makin jerit. Mungkin kalo dia bisa ngomong, he wanted to say that he hates me. He hates that I force-feed him. Dan sekarang di saat dia pengen nenen—which his favorite dan sesuatu yang bisa calm him down dari perlakuan emaknya hari ini, dia malah makin benci. He refused my breast and my heart breaks. Aku langsung bangkit dari tempat tidur dan pelukin dia sampai nangisnya reda. I said sorry to him, repeatedly. Mama sama sekali nggak bangga dengan apa yang udah mama lakukan ke kamu, Josh. Apa yang udah mama lakukan itu nggak benar dan udah nyakitin kamu.

Thus, Mother of The Year award belongs to me. 

Selesai peluk-pelukan, akhirnya dia menikmati sesi nenennya, kemudian lelap. Suami masuk ke kamar begitu aku tidurin Josh di crib-nya. I sat there, he looked at me and I began to cry. 

Nggak ada yang ngalahin sedihnya seorang Mama yang abis berbuat salah ke anak. Mungkin rasa sedihnya juga dirasain oleh orangtua si anak yang 'kecelakaan' di kolam baby spa, karena mereka lalai mengawasi anak mereka. 

Jadi seorang mama itu gampang. Nikah, hamil, punya anak, jadi mama, deh. Namun jadi seorang mama yang baik itu butuh proses belajar yang panjang.

Selama 9 bulan ngurus Josh, beberapa kali ketemu masalah aku selalu ingin dapat cara yang cepat untuk menyelesaikannya, termasuk selama menghadapi MPASI Josh ini. Aku lupa kalau cara yang tercepat itu nggak selalu benar dan baik

Cekokin makanan ke anak itu memang cepat, tapi buat mental anak sungguh nggak benar. Gimana dia bisa senang makan, kalau cara makan aja dipaksa kayak gitu? Gimana dia bisa makan banyak, kalau ketemu sendok mangkok aja langsung bete? 

Masalah anak susah makan bukan sesuatu yang baru. Kayaknya itu memang udah jadi momok untuk para ibu, deh. Mungkin aku harus bisa menemukan cara yang berbeda untuk ngatasin masalah ini. Masalahnya, sih, memang sama. But every child is different, Josh is different. 

Mudah-mudahan kejadian kemarin bikin aku bertobat. Makan bisa dipelajari pelan-pelan. Mungkin mamanya harus mulai rajin masak yang enak-enak. Selama Josh sehat, aktif dan selalu ramah sama setiap orang, I guess I have nothing to worry about (:  


Btw, semoga anak di video tersebut baik-baik saja, ya ):

OH YA! Kelupaan nulis alasan keduanya. Padahal kayaknya ini alasan terpenting juga, yaitu... LAGI DATANG BULAN!

Saturday, May 13, 2017

Diary of The Week #3: What a week!


Akhirnya nonton Critical Eleven di bioskop! 

I'm a fan of Critical Eleven by Ika Natassa since the novel came out in 2015. Buat yang suka baca novel pasti nggak asing sama judul ini yang sukses nangkring di rak best seller di mana-mana. 

Wednesday, May 10, 2017

Won't Give Up For My Country

Image credit to kompasiana.com
 
 
"Love and faithfulness meet together, 
Righteousness and peace kiss each other."
Psalm 85:10 (NIV) 

Saat cinta dan kesetiaan bertemu, 
maka kebenaran dan damai pun bercinta. 

Jangan putus asa untuk rumah kita, kawan. 
Karena sesungguhnya masih ada harapan. 

Friday, April 28, 2017

Orang Tionghoa Nggak Boleh Jadi Barista?

Woh, judul postingannya udah cukup menengangkan belum?

Beberapa waktu lalu aku dapet sebuah DM di Instagram yang bikin aku gatel pengen ditumpahkan di sini. Isi DM-nya curhatan. Bisa dibaca di bawah ini:

 Btw, udah minta ijin ke ybs kok untuk posting ini (:

Lagi-lagi soal stereotype orang Tionghoa dengan profesi pekerjaan yang dipilih. Klise sekali, bukan? 

Respon setelah baca DM ini, ya senyum-senyum cantik aja. DM itu aku balas sesingkat dan sepadat mungkin. Thank God setelah itu yang mengirim DM ini menikmati pekerjaan baru dia sebagai barista.

Sekarang curhat dikit leh, yaaa.

Waktu aku jadi barista dulu, orang-orang terdekat sama sekali nggak mempermasalahkan pilihan pekerjaanku. Justru yang paling sering mempermasalahkan orang-orang yang nggak kukenal dan sebaliknya.

Komentar yang paling sering datang dari customer. Nggak jarang lho, kalau misalnya ada pelanggan tante-tante keturunan Tionghoa lagi belanja dan kebetulan aku yang melayani, mereka pasti komen yang menjurus sinis seperti, "Kamu ngapain kerja di sini?", "Emang gajinya berapa, sih?", "Kamu nggak takut kotor ya?". Pertanyaan terakhir itu nyebelin banget, sih. Percayalah, saat si tante mengucapkan kata "kotor", pekerjaan yang aku lakukan saat itu nggak 'bersih' di mata dia.

Nggak cuma tante-tante, kadang ada juga bapak-bapak. Biasanya mereka berkomentar, "Kamu digaji berapa di sini? Mending kerja kantoran kayak saya. Gajinya juga besar. Kebetulan di tempat saya lagi cari pegawai...", kemudian mengeluarkan kartu nama. Zzzz. Nggak ada yang salah menawarkan pekerjaan. Yang salah caranya itu, lho, Pak! 

Sampai sekarang aku masih bingung kenapa masih banyak orang di luar sana yang menghubungkan ras dengan pekerjaan mereka. Kalau orang Cina di Indonesia haram bekerja di bidang blue collar, apa kabar barista-barista Starbucks yang kerja di negara Tiongkok sendiri? Apa masih berani nyinyir mereka dengan alasan yang sama?

Intinya, sih, mau kerja di bidang apapun—selama itu halal—nggak ada hubungannya sama sekali dengan ras atau agama. Nggak benar itu kalau orang Tionghoa harus jadi bos atau pedagang, atau agama tertentu hanya boleh bekerja di profesi tertentu. Kalau begitu rumusnya, Pak Ahok nggak mungkin bikin baper sebagian dari warga Jakarta beberapa hari ini kalau beliau nggak pernah jadi gubernur.

Soal bikin malu temen atau orangtua, takut jadi cibiran orang lain, dll... coba tanya diri sendiri dulu. Malu nggak jadi barista? Malu nggak nyapu, ngepel, cuci piring di dapur? Kalau nggak, ya hajar aja. Kasarnya, ya, yang kerja gue kok, yang digaji juga gue, yang CAPEK juga gue, kok situ yang ribet. Yang setuju katakan YES!

Plis, gaes. Sebelum kamu berkomentar dengan pekerjaan orang lain, coba tolong posisikan diri sendiri menjadi orang lain tersebut. Kalau nggak bisa, ya jangan berkomentar. Capek, lho, ngomongin orang. Lebih baik mikir hal yang paling esensial: kontribusi apa, sih, yang sudah kita berikan dari apa yang kita kerjakan? (:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...