Tuesday, May 19, 2015

5 Things To Discuss Before Getting Married

 Credit to Livello Asia for Andreas & Jane

Masih dalam suasana persiapan the wedding of Andreas and Jane, aku memutuskan untuk membuat blog post ini. Persiapan pernikahan ini udah berjalan selama setahun, dan sepanjang persiapan ini, nggak jarang kami menemukan beberapa hal yang sangat aku syukuri boleh terjadi. Ada beberapa hal penting yang menurut kami harus didiskusikan dengan pasangan sebelum menikah. Begitu mendapat ide untuk menulis ini, aku keinget kalau Kak Andra pernah menulis hal yang sama di sini. If you're ready to get married, you also have to be ready to talk about this with your partner.

Berikut lima hal penting yang wajib didiskusikan sebelum menikah:

1. Tempat Tinggal 
Menurutku pribadi, tempat tinggal setelah menikah adalah satu hal yang paling penting di luar persiapan pesta pernikahan. Pandangan setiap orang tentang tempat tinggal setelah menikah berbeda-beda. Ada yang bilang setelah menikah baiknya langsung keluar (pisah dengan orang tua), namun ada juga pasangan yang harus tinggal bersama orang tua atau mertua. Aku sendiri berada di option kedua, tinggal bersama mertua, yaitu orang tua Andreas. Baik tinggal di luar maupun bersama mertua, bukan suatu hal yang benar atau salah, semuanya adalah pilihan dan keputusan dari setiap pasangan. Sejujurnya, aku dan Andreas missed this important part of our marriage planning. Kami terlalu sibuk mengurus persiapan pesta pernikahan, sampai melupakan hal yang cukup krusial ini. Jadi kalau memang serius dan siap menikah, diskusikan soal ini terlebih dahulu bersama pasangan, dan jangan lupa di-sharing-kan ke orang tua masing-masing. Note to remember: sebelum resmi menjadi pasangan suami-istri, diskusi dengan orang tua sangatlah penting. Sebisa mungkin libatkan mereka dalam persiapan pernikahan. Emang sih, yang nikah kita dengan pasangan, yang memulai hidup baru adalah kita dengan pasangan, but still parents are parents, hormati keberadaan mereka. 

2. Agama dan Tradisi 
Kepercayaan yang aku pegang mengajarkan untuk menikah dengan seseorang yang have same faith. Baik agama maupun tradisi, aku dan Andreas tidak memiliki kendala, karena kami sama-sama Kristiani dan sama-sama keturunan tiong hoa. Namun ada beberapa hal yang sedikit berbeda di antara kami. Keluarga Andreas masih merayakan atau menjalani beberapa tradisi, di mana tradisi tersebut tidak pernah lagi dijalani oleh keluarga aku. Karena nantinya aku tinggal bersama orang tua Andreas, aku harus terbiasa dan memahami kebiasaan dan tradisi yang mereka jalani. Dari sini akhirnya kami belajar untuk saling menghargai dan menghormati keluarga masing-masing.

3. Sejarah di Masa Lalu 
Ngomongin masa lalu emang nggak enak. Kalau kata orang, "yang sudah berlalu, biarkan berlalu" hahaha. But you know what, ngomongin masa lalu itu perlu, apalagi kalau itu bersangkutan dengan keberadaan kita saat ini (ihh kok jadi dalem gini hahaha). Kebetulan papaku adalah marriage counselor, di luar identitas sebagai "papanya Jane", papaku banyak membantu kami dalam mempersiapkan pernikahan ini. Aku nggak tau konseling pra-nikah itu wajib dilakukan oleh setiap pasangan yang mau menikah atau nggak, tapi di gerejaku sendiri mengharuskan setiap pasangan mengikuti kelas konseling pra-nikah. Mungkin kalian akan mikir, "Ah, gue kan nggak bermasalah sama pasangan gue, ngapain ikut kelas segala?" atau "Nanti gue nggak jadi nikah lagi setelah ikut kelas!". Believe it or not, kejadian kedua itu yang sering terjadi LOL. Konseling bukan untuk orang yang bermasalah aja, tapi justru membantu mempersiapkan ke depannya. Masa lalu itu kesannya "aib" untuk dibicarakan kembali, padahal sebenarnya kita perlu tau sekilas tentang masa lalu pasangan kita. What happened in the past, has brought us today. Apa yang harus dibereskan dan diceritakan, ceritakan aja. Lebih sekarang tau jelek-jeleknya pasangan, daripada habis nikah baru tau and you will be like whattttt

ps: kalau emang serius, pernikahan nggak akan batal kok setelah ikut konseling pra-nikah ((:

4. Finansial dan Karir
Pembahasan finansial adalah soal yang cukup sensitif, sama seperti cerita masa lalu, pandangan finansial dalam pernikahan harus didiskusikan sebelum menikah. Kalau boleh jujur, secara finansial, aku belum begitu matang. Aku masih belajar banyak tentang hal ini dari mamaku, karena bisa dibilang mamaku sangat mengerti soal finansial dalam keluarga. Kondisi finansial aku dengan Andreas, bisa dibilang cukup berbeda, namun kami sudah sepakat, dalam pernikahan nanti siapa yang bertanggung jawab atas finansial keluarga. Hal-hal yang berkaitan dengan finansial yang harus dibicarakan, biasanya seputar; kebutuhan sehari-hari (sandang, pangan dan papan), kebutuhan rekreasi, kebutuhan investasi mendatang, dll. Ini penting untuk dibicarakan, karena once again, money talk is never easy to talk about. Sebisa mungkin finansial di antara pasangan, cukup dibicarakan di antara pasangan itu juga. If you guys have any thoughts about financial, personal or in marriage, please kindly share with me here or by email. I really appreciate it.

Soal karir setelah menikah juga harus dibicarakan, karena ini menyangkut dengan masalah waktu dan prioritas. Andreas sendiri adalah entrepreneur, bahasa kerennya wirausahawan, dan mayoritas keluarganya sampai kakak-kakak iparnya pun berprofesi yang sama. Sikon pekerjaan Andreas sebagai wirausahawan dengan aku yang juga wirausahawan agak berbeda. Andreas kebanyakan standby di tempat, sementara aku kebanyakan keluar. Walaupun pekerjaan Andreas adalah sumber utama penghasilan kami nanti ketika berkeluarga, lucky me Andreas malah mendukung aku supaya bisa tetap beraktifitas di luar usahanya, kalau bisa ikut "menghasilkan", that's even great. Setelah menikah, suami memang wajib sebagai pencari nafkah, namun nggak melulu istri harus menjadi ibu rumah tangga. Di jaman modern ini, aku hampir jarang menemukan perempuan yang bercita-cita ingin menjadi IRT. Andaikata mereka ingin di rumah saja, biasanya banyak yang memilih untuk tetap produktif, dan akhirnya muncul istilah working from home. Contohnya ada Andra Alodita dan Mommy Snow a.k.a Tara Amelz, yang sekarang sibuk mengurus keluarga, namun tetap fokus menjadi lifestyle blogger.

5. Visi dan Misi (planning 5-10 years after the wedding)
Sesaat kami mulai pacaran, kami sudah banyak diskusi soal visi dan misi. Aku bersyukur banget, visi dan misi kami sejak awal sudah kompak, walaupun memang kami mempunyai mimpi dan passion yang berbeda. Aku inget banget, sebulan setelah jadian, Andreas made a long list about his five years planning, that time he was 20 years old. I still keeping the list and when I read again, I was surprised. Plan yang dibuat Andreas, benar-benar terjadi di lima tahun kemudian, yaitu hari ini. Visi dan misi, juga rencana di masa yang akan datang, sangat membantu perjalanan sebuah hubungan. Iya sih, kita berencana, Tuhan berkehendak. Namun seiringnya kita berencana, di sebuah titik tertentu, we will meet God's purposes on us. Tentunya sebelum planning, kita berdoa dulu ya. 

pps: marry the guy who makes 5 years planning about his (and you both) life. I mean, look I am now *runss*

Fun fact about this blog post: I am writing this post together with Andreas. Well, not literally together, but he gave me some ideas to write. Thank you, honey! 

Jadi, siapkan Anda menikah? *eyaaaaa* Aku bukan marriage expert, bahkan aku sendiri belum memulai pernikahan. Namun karena aku lihat jaman sekarang banyak pasangan muda yang memutuskan untuk menikah (bahkan ada yang lebih muda dari aku), dan beberapa dari yang aku kenal, mereka menghadapi konflik yang semestinya bisa dihindari, namun terjadi karena tidak didiskusikan sebelum menikah. Aku ngerti lah, we are young and so passionate about love (apaan dehhh), jadi kadang yang dipikirin yang enak-enak aja. Trust me, aku salah satu yang sempat naif soal pernikahan hahahaha. Sebelum paragraf penutup ini ngawur kidul, aku undur diri. Good luck to those every one who are preparing a wedding (and marriage). Stay awesome!

Friday, May 15, 2015

What I Am Looking Forward To

 Source: Pinterest

1. The wedding. Believe or not, the wedding is five months ahead and I am feeling super bizarre lately! The preparation so far has been well (and I am gonna share the details soon on the blog!). Now I'm dealing with the on-process invitations design and looking for suitable wedding souvenirs. Any ideas, ladies?

2. Honeymoon planning. Andreas and me finally got chance to search some places to go for our honeymoon. Honeymoon is another exciting (yet important) thing to plan after the wedding. Every married couple deserves a peaceful honeymoon after the big day. We decided to go somewhere already, wish us luck to get those best-deal tickets!

Anyway, this was happening yesterday:

A: Let's go London for honeymoon!
J: WHAT?
A: Pengen liat royal baby nih. *screencapstiketsupermahalkelondon*
J: Aku sih nggak masalah ke London (dalam hati: mau bingit gilak!), tapi habis pulang honeymoon kamu siap ya makan nasi putih sama tahu tempe, ya kalau mau mewah tambah kerupuk dikit. No sushi date for months. Gimana? (dalem hati lagi: lumayan duitnya nabung buat nyicil rumah)
A: Nggak jadi deh, yang deket-deket aja ya honeymoon-nyaaaa *nadamanja*

Introducing, my future husband, ladies.

3. Project I am currently doing. It's something that is definitely challenging but I just love the opportunity to be able to learn something new. The main idea was coming from my mom, but I am 100% in charge on this project. Can't wait to share updates with you in the future!

4. Plans after married. The most popular question asked by mom and dad. I'm guessing they are quite worried about my life after married, because I'm gonna move again from this beautiful island to another city. There are some plans I would like to do but still looking for another opportunites to try. Adult life is never easy, I guess?

The whole post today are all about wedding related, that's pretty normal for me right? Because I have nothing to think or care about excpet the whole wedding planning things, well beside my jobs and other activities. I'm proudly can say that I'm more confident about my own wedding. Just hope everything is gonna be fine till the big day. Stay awesome people! 

Friday, May 8, 2015

Eat in Bali: Chicken Run

Hey guys, how's your Friday so far? I hope everything is going well. Hari ini lagi kepengen bahas kuliner. Salah satu resolusi 2014 (yes, it's freaking last year!) adalah untuk mengunjungi lebih banyak tempat makan di Bali dan me-review-nya di sini. Pada kenyataannya, aku belum bekerja lebih keras untuk itu. So, di tahun 2015 ini, yang sudah berjalan sampai bulan kelima (WHAT?), I will try my best! 

Pernah denger tempat makan Chicken Run? Sebenarnya aku udah lama banget tau tempat ini, tapi karena whole roasted chicken is not my common choice for meal, jadi nggak pernah menginjakkan kaki di sini. Begitu Andreas nemu tempat ini dari TripAdvisor, doi langsung semangat. Maklum, penggemar ayam panggang banget nih. Jadilah siang itu kami mampir ke Chicken Run.

Posisi tempat makan ini cukup mudah untuk di-notice, karena ada dua patung "chicken run" besar sambil memegang garpu dan spatula (which is for my little brother, they look kinda creepy at night haha) sebagai ikon mereka. Saranku, lebih baik ke sini naik motor aja, soalnya agak ribet parkir kalau bawa mobil, karena tempat ini juga tepat di sisi kiri lampu merah. 

Walaupun cukup kecil, ternyata tempat ini nice banget. Karena mungkin konsepnya bukan dine in, jadi pas lagi makan di sana, beberapa customer datang untuk takeaway order. Menunya tentu aja roasted chicken, pilihannya ada yang whole chicken sama quarter chicken. Buat yang nggak makan roasted chicken, boleh nyobain Chicken Schnitzel (boneless meat). Ada side dish-nya juga loh, seperti french fries, potato wedges. Karena nggak kepengen makan roasted chicken-nya, so I went for their Chicken Schnitzel, which is very good. Dan Andreas, nggak usah ditanya lah yah, tentu aja dia order whole roasted chicken, just for himself. 


Soal harga... coba tebak kira-kira berapa? I was quite surprised when we were about to pay. Totalnya cuman Rp 105,000 (8.75 dollars) saja sodara-sodara! Ternyata Chicken Run nggak kena pajak atau service, ditambah rasanya yang oke, jadi boleh dibilang ini murah banget! Rp 60,000 untuk whole roasted chicken dan Rp 45,000 untuk Chicken Schnitzel. Pantes aja yang beli kebanyakan bule, mereka juga bingung kali ayam panggang seekor nggak sampai 10 dolar hahaha. 

Buat yang suka kuliner dan penggemar ayam, boleh banget mampir ke sini kalau ke Bali. If you need a friend, I am always available, especially when you ask me to go eat (:

CHICKEN RUN
Jl. Sunset Road No. 18, Seminyak
(0361) 737133

Tuesday, April 28, 2015

10 Secrets from Ex-Starbucks Barista You Might Want To Know

Semenjak resign dari Starbucks, intensitas aku ngunjungin Starbucks untuk beli kopi malah semakin tinggi daripada sebelum aku kerja di sana. Bedanya sekarang aku kayak jadi Starbucks snob gitu, kalau order kopi agak bawel rikues ini itu, hahaha.

Dua minggu yang lalu, pas lagi ngopi di sana, aku iseng-iseng browsing dan nemu list ini di sebuah website. Jadi beberapa barista ngumpulin rahasia-rahasia mereka yang mungkin selama ini nggak diketahui oleh para customer. Kayaknya misal, sering nggak kalau kalian order minuman yang punya dua macam size cups (medium, large), terus kalian order yang medium, habis itu mbak kasirnya bilang, "Nggak large aja, Kak? Harganya cuman beda tiga ribu lho", terus pikir-pikir cuman beda dikit yaudah deh order yang large. Padahal sebenarnya kalau kasusnya di Starbucks, misal kamu order Grande Latte di-upsize ke Venti, komposisi susu di kopi kamu akan semakin banyak (size grande dan venti masing-masing berisi 2 shots espresso). Kalau tujuannya memang pengen more caffeine, mendingan stick to normal size aja. Walaupun cuman murah tiga ribu, kasarnya itu cuman untuk nambahin susunya aja.

Inspired by the same list, aku pun nyusun beberapa rahasia "pribadi" dari seorang (mantan) barista, yang mungkin kalian pengen tau. Pengen tau atau nggak aku tetep post di sini hahaha. Semacam trivia lah jadinya. Check this out! 
 

1. We do Starbucks secret recipes, just show us the recipes when you ordering.
Soalnya kadang yang order secret recipes nggak punya resep, berasumsi semua barista Starbucks bisa bikinin. Dan satu hal yang penting, biasanya secret recipes overpriced, karena menggunakan macam-macam bahan (tergantung resep). Nah, yang biasa order secret recipes tak lain adalah golongan anak-anak ABG (literally anak baru gede). Karena secret recipes itu menarik, mereka seneng ordernya, tanpa tau sebenarnya rasanya enak atau nggak. Apesnya, kalau nggak enak, ditambah harganya kemahalan, mereka ngomel-ngomel deh. Jadi biasanya aku infoin dulu, kira-kira tuh rasanya bakal kayak apa, kalau mereka nggak keberatan ya lanjut bikinin, dengan catatan aku jangan diomelin yah, dek, kalau nggak sesuai ekspektasi. Secret recipes terunik yang pernah aku buat namanya The Bomb! Frappuccino, harganya sekitar 60,000-65,000 rupiah. Mahal kannnnn?

2. We pay parking fee from your tips. *thankyousomuch!*
Nggak banyak yang tau kalau uang tips itu gunanya apa atau masuk ke "kantong"-nya siapa. Pernah ada satu customer bule nanya aku, uang tips itu dipakai buat apa. Aku jawab aja jujur buat bayar uang parkir, karena kebetulan aku kerja di outlet dalam mal, biaya parkirnya mahal banget cyin. Terus si customer itu langsung terlihat lega kalau uang tips dipakai buat hal berguna hahaha. And guess what, he personally gave me some more. Buru-buru deh aku kantongin ke apron-ku sebelum keliatan CCTV :P

3. Frappuccino drinks only available in Starbucks.
Frappuccino itu udah di-copyright sama Starbucks. So, jangan expect green tea frappe yang kamu order di luar Starbucks seenak aslinya. And oh, never say our Frappucinno with "frappe", especially when you order in Starbucks. Our boss hates it. 

4. Not all of baristas are latte artists.
Kita nggak dilatih khusus untuk bikin latte art, tapi untuk yang basic kayak bentuk hati, daun, masih bisalah. Nih, aku aja bisa.


5. We can't re-heat your coffee.
Aku suka nemu beberapa customer minta kopinya dipanasin ulang karena udah dingin. The truth is, we can't do that. And extra hot coffee will burn your hands. Silakan enjoy kopi kalian selagi panas ya!

6. Here is your sweetness level: 
Espresso Drinks (Latte, Cappuccino, etc)
Tall > 3 pumps // Grande > 4 pumps // Venti > 5 pumps
Frappuccino Drinks 
Tall > 2 pumps // Grande > 3 pumps // Venti > 4 pumps

7. What is "Americano on the rock"? 
Sebenarnya sama aja kayak Americano biasanya. Bedanya, kita bakal fill up gelas kamu dengan iced cubes, lalu espresso shots. I don't know why, tapi Americano on the rock identik dengan minumannya cowok-cowok fitness atau bodi gede. Serius, ini cuman perasaanku aja, no offense loh, soalnya kadang-kadang Andreas suka order juga hahahaha *kaburaja*

8. Americano means "American that doesn't really drink coffee". Konon, Italian people nyebut Americano itu adalah kopinya orang Amerika, karena mereka mencampur espresso dengan air. Italian doesn't drink coffee like that. They just gulp the espresso shot in the small cup like this, it calls demitasse by the way.

9. Here's my favorite own Starbucks recipe, the basic recipe comes from Double-Shots Iced Shaken Espresso. Ingridients: double shots espresso, 2% milk (just ask the barista), 2 pumps of condensed milk (you can add more depends of your sweetness craving), shake it! It suits for your morning-to-go coffee.

10. Why we often misspelled your name on your cups?
Nah, ini dia yang paling fenomenal di dunia per-starbucks-an *halah*. Ada yang bilang kalau ini salah satu taktik marketing-nya Starbucks secara tidak langsung. Tadinya aku nggak setuju, tapi setelah liat video parodi ini dan baca artikel pengakuan seorang asisten manajer Starbucks tentang misspelling nama customer, aku ngerti kenapa barista Starbucks suka (dan secara sengaja) salah menulis nama customer. Aku sendiri nggak pernah iseng untuk salah eja nama customer, paling cuman nulis short message or doodling di cup mereka (cheesy banget kannn). Aku rasa kalau "taktik" marketing yang dimaksud di video parodi tersebut, nggak bisa diterapakan di Indonesia. Sense of jokes-nya orang Indonesia belom senekat orang barat sana. Para abege aja langsung jutek kalau kita salah nulis namanya, apalagi kalau bapak-bapak atau ibu-ibu, wah urusannya ruwet deh. Dan aku rasa... Starbucks butuh taktik marketing yang kayak gimana lagi sih, mau namanya salah eja atau nggak, tetep aja kan kita sering foto minuman kita kalau lagi nongki di warung kopi hits ini, hehehe.


List ini murni dari pengalaman pribadi aku selama kerja di Starbucks. Masa kerja aku jadi barista bisa dibilang pendek (7 bulan), tapi pengalaman yang aku dapet priceless. Dan sejujurnya, aku bangga bisa bikin list ini di blog hahaha. 

Ada yang pernah kerja di Starbucks atau ada yang sering ke Starbucks (regular customer) di sini? Share your stories here, I would like to hear. Stay awesome!

Read more about my Starbucks working experiences here: 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...