Thursday, June 22, 2017

My Only 3 Personal MPASI Advices

Setelah menjalani empat bulan MPASI bareng Josh, baru sekarang ini bisa ceritain pengalaman kami berdua. 
 
Kok kami? Iya, soalnya yang ngejalanin, kan, berdua... aku dan Josh. Aku yang nyiapin, Josh yang makan. Kalau Josh makannya pinter, aku senang. Kalau Josh susah makannya, aku .... (isi sendiri titik-titiknya) :P
 
Sebelum start MPASI, aku suka blogwalking ke blog-blog lainnya. Kebanyakan semua heboh sharing list belanja peralatan MPASI. Nggak lupa list peralatan makannya harus kekinian dong, biar anak seneng pas waktu makan.
 
Selain peralatan makan, resep-resep MPASI jaman sekarang juga nggak kalah heboh. Kalau scrolling akun para mommies di IG nggak jarang aku ngerasa terintimidasi. Kok #MPASIoftheday mereka kece sekali?? Itu beneran dimakan sama anaknya? Habis ludes? Kok anaknya baru 7 bulan udah makan nasi goreng? dst... dst...
 
Pertanyannya, apa iya peralatan dan resep-resep MPASI itu perkara paling penting? Gimana dengan behavior anak saat makan? Gimana dengan behavior orangtua (khususnya Mama) saat anak makan? 
 
So, di hari pertama libur panjang ini, aku mau sharing beberapa poin tentang MPASI yang aku dapatkan secara pribadi... dan sebenarnya berharap dulu ada yang kasih tau tentang poin-poin di bawah ini sebelum aku terjun ke dunia MPASI.
 
Seperti biasa, semoga berguna dan menginspirasi, ya! 

Friday, June 16, 2017

Career After College


Ngomongin soal karir setelah kuliah, rasanya kok udah agak basi, yah. Cuma rasanya ada sesuatu yang 'mendorong' aku untuk nulis tentang ini.

Aku lulus kuliah udah 4 tahun yang lalu. Memori tentang karir yang aku jalani seblum akhirnya menikah, masih sangat menempel di kepala ini. And thanks to my diary (yes, aku masih nulis diari!), beberapa hal penting yang aku tulis, akan aku bagikan di sini. 

Tanpa ada maksud tertentu, aku berharap—seperti biasa—tulisan ini bisa menginspirasi beberapa pembaca yang aku tahu masih ada yang kuliah atau usianya di awal 20-an. Buat yang udah menikah dan emak-emak, dijadikan pengetahuan umum tentang gue aja, ya. HAHAHA.

Mari kita mulai curcol tulisan panjang ini.

Monday, June 5, 2017

Bicara Bahasa Mandarin dengan Anak, Kenapa Nggak?

Beberapa hari lalu, aku nggak sengaja nemu video Mark Zuckerberg ngomong bahasa Mandarin dengan lancar, di salah satu forum di Tsinghua University, Beijing, China. Aku cukup kaget kalau ternyata doi bisa ngomong selancar itu. Tengok dulu, deh, videonya.

Nih, tips buat yang pengen berbahasa Mandarin (dan bahasa asing lainnya) dengan lancar, kuncinya PERCAYA DIRI kayak Mark :D

Bukan rahasia lagi kalau bahasa Mandarin udah menjadi global language kedua setelah bahasa Inggris. Setelah nonton video ini, aku merasa makin ke sini makin banyak orang yang tertarik untuk belajar bahasa Mandarin sebagai second language mereka, khususnya bos-bos perusahaan gede, salah satunya si bos Facebook ini.

Satu dekade yang lalu, aku pikir yang mau belajar Mandarin itu masih terbatas yang sipit-sipit macam aku, yang lahir sebagai keturunan Tionghoa, tapi nggak bisa bahasa Mandarin. Atau karena di sekolahnya ada pelajaran Mandarin, terus di rumah nggak ada yang bisa bantu ngajarin, jadi mau nggak mau ngeles, deh. Ternyata aku baru tahu beberapa sekolah negeri pun, pelajaran bahasa Mandarin itu wajib lho. Bahkan saat aku kuliah di China, aku menemukan banyak teman pribumi mengambil progam S1 bahasa Mandarin.

Btw, bahasa Mandarin itu tergolong bahasa yang cukup sulit. Tapi ternyata antusiasme masyarakat lokal kayaknya makin nambah aja tuh.

Waktu beberapa orang tau kalau aku komunikasi dengan Josh dalam bahasa Mandarin, mereka salut dan bilang aku hebat. Sejujurnya, aku nggak pengen dibilang hebat juga, sih. Buat yang udah lama kenal aku pasti tau, deh, bahasa Mandarin itu memang salah satu bahasa ibu di keluargaku. Jadi yaa... ngomong Mandarin ke Josh itu itu menjadi sebuah keharusan buat aku pribadi, because that's our mother language. 

Aku suka banget dengan alasan Mark kenapa doi belajar bahasa Mandarin. Sesimpel karena istrinya Chinese (walaupun ternyata Mandarinnya Priscilla Chan nggak fasih juga, ya, hihi), keluarga mertuanya Chinese dan nenek istirnya hanya bisa berkomunikasi in Mandarin. Wajar banget kalo ada keinginan pengen dekat (atau mencuri hati) keluarga istri, jadi dibela-belain, deh, kursus Mandarin yang susyeh itu.

Buatku pribadi, ngomong bahasa Mandarin dengan Josh itu bukan suatu untuk keren-kerenan. Bukan juga biar dibilang anaknya pinter banget bilingual sejak bayi. Lah, emang bahasa ibu gue kok. Sama aja kayak kita ngomong bahasa Indonesia, begitu juga aku dan bahasa Mandarin.

Selain alasan bahasa ibu, seperti yang aku bilang di awal, makin ke sini makin banyak orang yang belajar bahasa Mandarin, termasuk mereka yang terlahir keturunan Tionghoa. Pasti pernah, deh, denger atau mengalami sendiri, diomongin orang kalo muka Cina tapi nggak bisa Mandarin. Kenapa anak muda jaman sekarang nggak fasih Mandarin, alasannya harus tanya di orangtua, kerena orangtua memegang peran penting. Kalo menurut mamaku, (spesial 'riset' ke beliau demi tulisan ini) karena takut anaknya jadi bingung bahasa. Entar nggak bisa ngomong Indonesia piyeee? Lah, hidupnya di Indonesia kok, orang-orang sekitar juga orang Indonesia. Masuk sekolah juga pasti bisa ngomong Indonesia. Terus, ketakutan speech delay (bakal di bahas di bawah) juga menjadi alasan emak-emak untuk nggak ngajarin bahasa ibu kedua ke anak. Makanya nggak heran yeee, bahasa Mandarin itu identik sama orang tua atau kakek nenek. Padahal nggak sama sekali.

Demi mematahkan teori alasan emak-emak tersebut, aku ngikutin 'jalur' mamaku untuk ngelanjutin bahasa Mandarin ke anak-anakku nanti. Untuk saat ini, ya, Josh dulu. Istilah kerennya, melestarikan budaya nenek moyang, lah. Alasan sebener-sebenernya... takut diomelin mama kalo nggak ngajarin Mandarin ke Josh, LOL #MamaTakutMama

Punya skill berbahasa asing (walaupun hanya satu bahasa) juga banyak banget manfaatnya, salah satunya bisa jadi bekal bertahan hidup.

Maksudnya gimana tuh bertahan hidup?

Contohnya, waktu ke Jepang dua tahun lalu, aku dan suami pede banget bisa jalan sendiri di sana, hanya dengan bantuan Google maps dan tentunya bahasa tubuh. Udah pada tau, kan, kemampuan bahasa Inggrisnya Japanese itu masih agak-agak gimana gitu. Yang bikin kaget, ternyata dengan bahasa Mandarin, kami bisa survive juga lho. Bahasa Mandarin itu bantu kami banget untuk baca huruf kanji dan tebak-tebakan arti. Terus bisa juga berkomunikasi dengan petugas/pelayan yang kebetulan bisa berbahasa Mandarin (this happened two times while we were in Japan. First, sama mas-mas Sevel pas lagi nanya jalan. Kedua, sama mbak-mbak petugas di Metro waktu nanya jalan juga). Ini maksudku untuk bekal bertahan hidup. Ya, kalo nggak bisa juga, sih, nggak masalah. Tapi SO MUCH better, kan? *jawab iya aja, kalau nggak tulisan ini nggak berarti HAHA*.

Bagaimana dengan pernyataan kalau anak yang belajar dua bahasa resiko speech delay? Awalnya aku sempat khawatir, sih. Aku, 'kan, ngikutin daily vlog-nya Bubz. Akhir tahun lalu Bubz ngaplot video ini, di mana dia cerita kalau dia agak khawatir anak mereka si Isaac mengalami speech delay. Bubz dan Tim memang bilingual juga di rumah, they speak both Cantonese and English. Tapi di saat mereka lagi concern, Isaac mulai ngomong beberapa kata dan kalimat, walaupun pelafalannya belum jelas banget. Jadi memang beberapa anak late bloomer gitu, bukan karena kelainan tertentu. Btw, Isaac umur 3 tahun di bulan Agustus ini. Fakta usianya ini yang bikin kolom komen pada gonjang-ganjing, bilang seharusnya anak umur 3 tahun itu udah harus bisa cas-cis-cus. Yang kek gini-gini harusnya emang nggak usah terlalu didengerin, ya! *justsayin*

Kalau baca di situs Baby Center, sebenarnya anak bilingual bakal speech delay itu mitos belaka. Anak yang bilingual di rumah, mereka memang sedikit lambat untuk bicara karena harus menyerap dua bahasa sekaligus dalam otak mereka. Orangtua boleh khawatir kalau anak dalam usia tertentu—yang harusnya udah bisa bicara beberapa kata/kalimat dalam jumlah tertentu tapi belom bisa samsek—baru deh tuh dibawa ke ahlinya untuk dicek lebih lanjut.

Eniwei, so far, di usia 9 bulan lebih ini, Josh mulai paham beberapa kata dalam Mandarin. Dia ngerti kata "pai shou" yaitu tepuk tangan, "yao yao tou" yaitu geleng-geleng kepala (sumpah ini lucu banget! Hahaha), "dao gao" yaitu doa, soalnya Josh pasti doa sebelum makan dan bobok. Waktunya doa, dia diem aja tuh.

Terus, bagaimana dengan bahasa Inggris? Diajarin juga nggak?

Bahasa Inggris belajar di sekolahan aja deh, seus! Sebetulnya sehari-hari aku ngomongnya juga campur-campur Inggris, sih. Misalnya, secetek ngomong "No!", "Good morning/night!", "Hello!", dllnya. Tapi nggak yang sampai full Inggris. Maklum, emaknya cupu kalau bahasa Inggris. Terbatas nulis caption atau status di sosmed aja, 'kan buat pencitraan hauahahaha :P

Ini hanya bits of my thoughts about Mandarin. Nggak tau kenapa tetiba pengen nulis ini. Semua gara-gara video bos Facebook itu. Sampai sekarang masih amaze dia bisa ngomong Mandarin selancar itu hahaha. 

Eh iya, mumpung berhubungan dengan topik, bulan Februari kemarin aku nulis tentang cara belajar bahasa Mandarin di Youthmanual. Baca donggg kalau sempat. Buat iseng-iseng atau dipraktekin juga boleh. Maacih, lho!

Teman-teman di sini, ada nggak yang sama kayak aku 'menelan' dua bahasa sejak bayik di rumah? Efeknya apa, sih, sampai sekarang? Atau yang punya anak, do you guys speak bilingual to your kids? Sharing-sharing di kolom komentar, ya!

Friday, June 2, 2017

Cerita Gimana Bisa Kuliah di China 8 Tahun yang Lalu

I rarely share my testimony about the goodness of God on my blog. Mungkin pernah tapi hanya sekilas. Soalnya kadang ragu untuk menceritakan pengalaman pribadi tentang iman
Karena minggu lalu di gereja baru mengakhiri sermon yang bertemakan Taste and See, kayaknya aku pengen bagiin sesuatu yang berhubungan dengan itu.

Note: What I'm gonna write here is what I believe in. Tapi aku percaya apa yang aku tulis nggak bicara tentang agama tertentu, malah harusnya sangat dekat dalam kehidupan sehari-hari even you're not on the same "belief" with me. Namanya "iman" itu, kan, sangat personal, ya. So aku percaya kalian juga pasti pernah mengalaminya (:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...