Wednesday, April 27, 2016

Malang Travel Journal 01: Batu Secret Zoo

Dua minggu yang lalu, aku sama Andreas nyusun plan trip dadakan ke Malang. Tadinya kami cuman rencana pulang ke Bali aja seminggu. Keinget ada cicinya Andreas yang sekarang udah for good ke Malang, kayaknya ke Malang dua hari a good idea juga. 
So, Malang here we go! 
Kami sampai di bandara sekitar jam sembilan pagi dan langsung dibawa ke Batu untuk jalan-jalan di sana seharian. Karena kami cuman dua malem di Malang, jadi nggak sempet dateng ke semua tempat wisata di Batu. Jadi tujuan hari itu cuman dua, Batu Secret Zoo dan Museum Angkut.

Sebelum sampai Batu, kami diajak makan siang dulu di sebuah resto rumahan. Aku sama Andreas langsung kalap! Andreas masih sempet makan pasta di bandara, perutku cuman sempet diisi satu bakpao daging, itu pun makannya pas perjalanan ke bandara. I almost forgot there's someone else needs to be fed in my belly :P

 
Semua makanannya endeusssss! Favoritku gorengannya dan sate babinya (non halal). Karena bukan penggemar soto, jadi biasa aja. Suami sih suka banget sama soto, jadi nambah lagi.

Sayang banget aku lupa nama restorannya, huhu. Will do an update after I got the information! 

Kelar isi perut, kami lanjut perjalanan ke Batu.


***

Aku udah lupa banget kapan terakhir ke kebun binatang. Kayaknya sih udah lama banget, like almost ten years ago, maybe? Dan kebun binatang yang dikunjungi cuman Taman Safari.

Batu Secret Zoo direkomendasi banget sama iparku ini, katanya bagus dan tertata banget. Nggak kalah sama Taman Safari. Mereka sekeluarga sendiri udah lebih dari dua kali dan nggak bosen. Maklum, iparku punya bisnis tur di Malang. Jadi kalau yang pengen jalan-jalan ke Malang dan sekitarnya, boleh hubungi saya buat dikenalin ke ipar, ya! *numpang iklan* 

I put some high expectations since this is a very recommended zoo by my sist-in-law. We spent for almost three hours in the zoo, and... we highly satisfied! Beside, you spent for only 105K for the ticket (included the museum entry fee). Best deal ever! 

Ini beberapa foto yang diambil di dalam Museum Satwa. Yang menarik dari museum ini, satwa yang dipajang semuanya asli. Bukan sengaja diburu, lho. Tapi semua satwa ini udah mati lalu diawetkan. I thrilled to see all of these wild animals. Ngebayangin kalau habitat asli mereka seperti yang dipajang di dalam kaca ini. Keren!

Replika asli dinosaurus di depan pintu masuk. Gedeeee banget! There is my little nephew admiring the dinosaur. Jadi inget film Night At The Museum.

 As much as I hate to take picture of this, but it looks beautiful. Ron's worst enemy, by the way. 

And here are the real adorable animals!
 Naik kereta gandeng buat kasih makan hewan-hewan lucu.

 Here is Lama. Sesuai namanya, ngunyahnya lamaaa sekali. Rakus pulak!

 
Naik kereta gandeng ini bisa dibilang highlight of our zoo trip. Entah hewannya dilatih apa udah biasa, agresif banget begitu kereta masuk ke wilayah mereka. Padahal belom disodorin makanan, lho. Bukan ponakan aja yang heboh, kami yang dewasa ikutan heboh. Riweh banget pokoknya. Baru ngelewatin dua gerbang, wortelnya para ponakan udah ludes, hahaha. Soalnya kalau nggak disembunyiin, hewannya tau kalau kita masih nyimpen makanannya. Somehow they know we have the food on our hands

Note: Be careful with the camels. They are waaaaaay too aggresive! 

 My most favorite one, The King of the jungle! 


Habis dari zoo, kami langsung dibawa ke Museum Angkut yang lokasinya nggak jauh dari zoo. Nggak sampai lima menit, deh. Walaupun perginya satu hari, tapi aku bagi jadi dua post, karena kalau jadi satu fotonya banyak banget. So, see you in the next post, ya! 

Stay awesome! 

Friday, April 22, 2016

Green Apron Experiences

 Picture credit: Google

Beberapa waktu lalu, aku pernah nulis tiga blog posts tentang pengalaman kerja jadi barista Starbucks. Tulisannya bisa dilihat kembali di sini, di sini dan di sini.

Blog post terakhir yang aku tulis buat Starbucks series, adalah tentang 10 rahasia barista itu. Dan nggak disangka, postingan tersebut traffic-nya paling rame, bahkan sampai sekarang. Aku juga kaget sih, hampir tiap hari ada aja komentar baru di postingan itu (maklum, biasa mah sepi komentar, haha). Ada juga yang kirim email, isinya juga macem-macem. Mulai dari pertanyaan standar yang (sebenarnya) bisa di-Google kayak gimana cara lamar kerja di Starbucks, interview-nya kayak gimana, pengalaman kerja di sana kayak apa, dll.

Karena terinspirasi dari teman-teman yang udah kirim email atau drop comments di blog post, muncul lah ide untuk nyumbang blog posts tersebut menjadi artikel di website Youthmanual.

Apa itu Youthmanual? Langsung diklik aja, ya, link-nya!

I have been reading this cool website since Mbak Laila mentioned it in her blog. Karena langganan baca blog-nya doi dan beberapa kali suka ikutan diskusi di kolom komentar, I assumed that she knows me. Ini murni kegeeran aja, sih, hahaha. Kebetulan juga Mbak Laila salah satu author di Youthmanual, aku langsung nulis email untuk submit ide tulisanku ini and hoping she would say yes. 

And... she said yes! 

Seneng dan bersyukur banget, ternyata Mbak Laila menyambut baik ide ini. I promised her to submit my articles in a week, before my homecoming trip. Dan sesuai jadwal yang udah ditentukan, artikelnya udah naik tayang dalam minggu ini.

So, here they are, my first writings on Youthmanual. You may check the articles here and here. Masih ada satu lagi menyusul, ditunggu ya!

Anyway, setelah artikel ini naik tayang, baru sadar udah lama banget nggak nulis "serius" and I miss writing very much! This is a good thing. Mudah-mudahan makin rajin nulis dengan baik setelah ini. Thank you, Mbak Laila dan Youthmanual buat kesempatannya ya!

Stay awesome, folks!

Friday, April 8, 2016

AndreasPlusJane Japan Travel Journal 07: Tsukiji Fish Market and Ichiran Ramen

Akhirnya, setelah empat bulan lamanya, Japan travel journal ini rampung juga. YAAAAY!

Japan travel journal ini sukes menjadi seri travel terpanjang pertama di blog ini. Mudah-mudahan ada kesempatan lain untuk jalan-jalan lagi, dan bisa dilaporkan di sini kembali ya.

Post terakhir ini merupakan hari terakhir kami juga di Tokyo, karena besok paginya kami udah ke bandara pulang ke Indonesia. 

Seperti cuaca sebelumnya ketika kami kembali lagi ke Tokyo, pagi itu diawali awan mendung dan gerimis. Tapi untungnya cuaca kayak gini nggak bikin kami males jalan. Soalnya udah last full day, nih, harus dimaksimalkan.

Tujuan kami hari itu adalah ke Tsukiji Fish Market.

Pasar ikan Tsukiji ini udah masuk daftar must visit-nya si Andreas selama di Tokyo. Maklum, setiap penggila sushi dan sashimi kayaknya ngebet banget ke Tsukiji, termasuk doi. 

Tsukiji fish market ini pada dasarnya pasar tradisional biasa. Yang nggak biasa, karena tempatnya gede banget dan super lengkap. Aktifitas di pasar ini dimulai dari subuh, kira-kira jam dua pagi gitu kali, ya. Dan pelelangan ikan-ikan segernya juga mulai dari jam empat. Buat yang pengen ngerasain kehidupan warga Tokyo yang jauh dari suasana metropolitan, ke sini aja nih.

Pasarnya dibagi dua area: outer dan inner market. Pelelangan ikan, penjualan ikan, dll, semuanya dilakukan di bagian inner market. Nah, biasanya turis jarang yang bisa masuk ke sini. Soalnya bisa ganggu aktifitas mereka gitu, deh. Ya, tau aja kelakuan turis. *ngomongindirisendiri*


Tujuan pertama kami, sushi dan sashimi breakfast!

Apa spesialnya makan sushi atau sashimi di sini? Harus banget ya makan di pasar? 

Jawabannya: HARUS. Apalagi kalau kamu hardcore fans-nya sushi kayak Andreas. Soalnya sushi dan sashimi yang dijual di kedai-kedai dalam pasar ini, ikannya fresh banget dari laut. Jadi rasanya pasti enak abis.

 Salmon sashimi buat sang suami. Doi pun nggak bisa berucap kata pas ngunyah. Endeus banget!

 Tamago sushi for non sashimi eater like me. Tamagonya super smooth, pas ditelen langsung meleleh. Uwoowoo. 

Ada satu warung sashimi yang hits banget di Tsukiji (top recommended by Tripadvisor). Pas kami nemu tempatnya... rameeeee buanget, cyin! Ramenya tuh rame banget, kayak antrean main wahana di Disneyland. Kalau kata salah satu review di Tripadvisor, "Great sushi at a great price, but absurd wait times", bahahaha. Bener banget, sih.

Karena nggak mungkin kami bela-belain ikutan ngantre (karena bisa berjam-jam nunggunya, secara warungnya cilik banget), akhirnya kami ngacir aja, deh. Nggak ngerti, sih, apa yang bikin warung ini rame sampe segitunya. Kalau sama-sama berlokasi di dalam pasar, harusnya tingkat freshness sashiminya sama aja dong, ya.

Tapi yang penasaran pengen nyoba, nama warungnya Sushi Dai. Kami sempet ngira jangan-jangan ini cikal bakalnya Sushi Tei di Indonesia, tapi bukan, hahaha. Namanya mirip, sih.

Sushi Dai ada di deretan sini, tapi nggak kefoto. Kira-kira antreannya kayak gini, deh.

Habis sarapan maknyus, kami keliling di sekitar outer market. Pasar ini nggak rame sama orang lokal aja, tapi turisnya bejibun.

 Jajan gorengan ikan. Gurih dan nggak amis! 

Kami lewatin warung kopi ala-ala gitu. Banyak orang yang ngopi di dalem. Kebetulan kami belum ngopi pagi, mampir sebentar, deh. 


Bagian indoor banyak orang tua yang nongkrong, termasuk kami :P

Eh ternyata kopinya enak! Beda banget sama kopi ala Starbucks, kopinya berasa banget dan wanginya khas. Sayang nggak sempet foto kopinya, tapi biasa aja, sih penampakannya. Seperti biasa aku minum latte, suami selalu minum black. Oh ya, di sini kita bebas ngambil air putih dingin sendiri kalau abis ngopi. 

Sumpit-sumpit cantik buat makan sushi atau ramen. Aku beli beberapa buat oleh-oleh orangtua dan mertua. Mama dan mama mertuaku suka makan pake sumpit, seneng banget pas dibeliin ini. 

Selain sumpit, ada banyak toko yang jual peralatan dapur dan makan lainnya, kayak pisau khusus potong sashimi, kotak bento, mangkok ramen, dll. Aku beli sushi roll maker yang terbuat dari bambu itu, lho. Tapi sampai sekarang nggak pernah dipake, hauhahaha. Sempet pengen beli pisau sashimi juga, tapi buat apa ya, bok. Motongnya aja nggak bisa. 

Kami nggak lama-lama di Tsukiji, karena pasar tutup jam 12 siang. Jadi sebelum jam makan siang tiba, kami udah capcus.   

 ***

Kelar dari Tsukiji, kami mampir ke Shibuya lagi untuk lanjut petualangan kuliner. Kali ini kami pengen nyoba makan ramen lagi. Sebelum ke Jepang, aku banyak denger tentang satu warung ramen namanya Ichiran Ramen dari beberapa food bloggers dan insta foodies. Dan menurut Tripadvisor, Ichiran ini warung ramen yang paling direkomendasiin di Shibuya. 

Lagi-lagi karena top recommended restaurant, pas sampai di lokasi, ngantri lagi dong. Salah satu waiter mereka naik ke atas (karena restorannya musti turun ke bawah, dan saat itu antreannya sampai ke atas) nyamperin kami dan ngasih tau kalau kemungkinan antrean bakal lama. Kami bisa nunggu atau bisa ke gerai Ichiran satunya lagi yang nggak jauh dari sini. Karena udah agak lapar dan males nunggu, kami memutuskan untuk ke gerai satunya lagi aja. Kami pikir cari jalan sendiri aja di Google maps, eh siapa sangka si mbak waiter baik hati itu nawarin untuk nganterin kami ke gerai tersebut. Kami agak kaget, kok bisa sih dia mau anterin kami. Dan bener aja, dia langsung guide kami untuk ke gerai satunya. Menurut si mbak waiter nggak jauh, tapi menurut kami lumayan juga. Beneran dianterin banget, nih? 

Sampai di gerai satunya, eh ternyata ngantri juga, tapi memang nggak terlalu panjang. Mbak waiter-nya malah jadi nggak enak hati minta maaf kalau di sini harus ngantri juga. Yaampunnnn, mbak. Dianterin sampe sini aja udah bersyukur banget, masih pake minta maaf pula. Setelah kami bilang gapapa dan ngucapin banyak terima kasih juga, si mbak akhirnya balik ke gerai tadi. Sebelum balik, dia masih turun ke bawah terus ke atas mastiin kami kalau ngantrinya nggak lama. Terharu bingits, deh, sama si mbak ini. All out banget service-nya. Jempol! 

 Fotonya agak burem karena sambil jalan ngikutin si mbak yang di depan itu.

 Makan di bilik-bilik kecil gitu. Kece yah!

 Enak, sih, tapi aku masih lebih suka ramen yang di Asakusa itu. Mungkin ini kaldunya lebih bening dan kental aja. Cuman suami suka banget. 

Pengen nambah? Tinggal diisi aja form ini. 

Ciehhh, ada yang nambah, hihi.

***
Demikianlah penutupan dari seri travel kali ini *tembak cofetti*. Penutupannya kurang greget, ya? Biarkanlah, yang penting kelar! 

Total liburan ke Jepang kali ini sebelas hari. Ada beberapa tempat yang nggak ketulis di blog ini. Kami sempat pergi ke Ginza (dan nggak belanja apa-apa), hunting oleh-oleh berbau manga buat keponakan dan titipan Pokemon adek di Akihabara, terus balik lagi ke Harajuku khusus belanja oleh-oleh juga. Oh iya, sempat ke Shin-Okubo juga, Korean Town di Tokyo. Ngapain di Korean Town? Iseng aja. Eh malah kebeli dua album Korea, punyanya SNSD dan mini albumnya Taeyeon, hahaha. Terus dinner di restoran BBQ chicken ala Korea, leh juga. 

Sampai jumpa di seri travel berikutnya, ya! Adios, amigos. Stay awesome! 

Japan Travel Journal complete series: 
AndreasPlusJane Japan Travel Journal 01: Shibuya and Harajuku
AndreasPlusJane Japan Travel Journal 02: Tokyo Disneysea
AndreasPlusJane Japan Travel Journal 03: Osaka (Osaka Castle, Dotonburi)
AndreasPlusJane Japan Travel Journal 04: Kyoto (Fushimi Inari Temple, Nishiyama Ryokan experience, Musashi Sushi)
AndreasPlusJane Japan Travel Journal 05: Tokyo SkyTree and Asakusa (nearby)
AndreasPlusJane Japan Travel Journal 06: Mount Fuji Trip 
AndreasPlusJane Japan Travel Journal 07: Tsukiji Fish Market and Ichiran Ramen 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...