Friday, December 2, 2016

6 Perlengkapan Newborn yang Tidak Wajib Dibeli

Disclaimer dulu, ya. Daftar perlengkapan di bawah ini ditujukan untuk newborn dari usia 1-3 bulan. Perlengkapan yang disebutkan ini bukan berarti sama sekali nggak boleh dibeli, yah. Karena sesungguhnya kebutuhan newborn itu nggak banyak. Semua perlengkapan di bawah ini, menurutku bisa dibeli nanti ketika anak udah lewat dari 3 bulan, yang di mana mungkin kebutuhannya udah berbeda. 

Saturday, November 26, 2016

20 Facts About Me (updated)

Hello!

So, today I decided to update my 20 facts about me. Here we go!

1. I'm a wife, a mom of a son, and currently living in Bogor.

 Mi familia

Saturday, November 12, 2016

Gimana Jadi Orang Bogor?

Review setahun tinggal di Bogor, ahhh.

(emangnya pilem, di-review?)

Jadi abis nikah tahun lalu, aku langsung ngikut Andreas tinggal di Bogor. Kayaknya waktu itu nggak ada proper farewell yang gimana banget sama rumah dan keluarga di Bali. Padahal, sih, lumayan emosional, karena harus beradaptasi lagi di tempat baru, dan tentunya status baru.

Dan setelah tinggal di Bogor, muncul lah pertanyaan-pertanyaan dari sanak saudara dan juga manteman sebagai berikut:

"Kok pindah ke Bogor, sih?" 

"Betah nggak di Bogor?" 

"Di Bogor emang ada apa?" 

"Ngapain pindah ke Bogor? Nggak di Bali aja?" 

dan seterusnya. 

Selain data KTP yang berubah, sampai detik nulis postingan ini, aku sama sekali nggak (atau belum?) ngerasa jadi orang Bogor. Alasannya dijabarkan sebagai berikut:

1. Dari dulu, sekarang dan selamanya, aku ini forever anak ibukota. Darahnya betawi banget, bang!

2. Karena alasan pertama itulah terjadi drama singkat saat menerima KTP baru dari RT setempat. Drama bahwa tidak bisa menjadi #TemanAhok. Iya, nggak sempat daftar di saat masih memegang KTP Jakarta hiks.

(namun yang penting status udah jadi kawin yaaa) 

3. Keburu jatuh cinta sama Bali karena udah sempat tinggal dua tahun. Bali terasa "rumah untuk pulang" karena keluarga (ortu dan para adik) sudah menetap semua di sana. Sekarang kalau ke Bali, ya serasa pulang, bukan lagi untuk liburan. Yaa... liburan tetep, deh. Boong banget ke Bali kalau nggak sekalian liburan, hihi.

Terus ada yang lucu, nih. Mertuaku kalau ditanya kerabat aku ini orang mana, mereka menjawab aku orang Bali hauhaha. Biasanya aku "ralat" dikit dengan kalimat, "Asli Jakarta kok, cuma orangtua udah pindah ke Bali." Pembelaan diri banget nggak mau dibilang orang Bali. Pokoknya gueh orang Jakarte!

Udah setahun, pastinya ada loves and hates di kota hujan ini. Hates-nya, sih, hampir nggak ada yah, kecuali MACET nya, bok! Ampun deh, ngalah-ngalahin ibukota banget macetnya (oke, ini lebay).

Bogor, kan, kota kecil, jalan utamanya ya itu-itu aja. Jadi kalo udah rush hours, macetnya ajubile di beberapa titik tertentu. Apalagi kelakuan sopir-sopir angkot yang literally menganggap jalan raya tuh milik bapaknya. Sampe-sampe suami yang asli orang Bogor bilang, "Apanya yang lovable city, sih?". Btw, Kota Bogor menjadi pemenang "We Love Cities 2016", and the most lovable city in the world (katanya). Makanya suami ngedumel, hihi.

Despite kemacetannya, ada satu hal yang paling aku suka dari Bogor, apalagi kalo bukan... kulinernyaaa. Haiii, Gang Aut!

Walaupun Bogor mulai rame sama kafe-kafe kekiniannya (hai Two Stories yang sampe sekarang belom aku coba *senggol suami*), aku tetep cinta sama kuliner lokalnya.

Apa yang muncul di kepala kamu kalo ditanya soal kuliner Bogor? Roti unyil, kue talas (enak banget, sih!), asinan, soto mie kuning, de el el. Kalo yang nggak halal ada yang namanya ngohiang yang enaknya kebangetan. Kalo soto mi, aku masih prefer yang abang gerobakan dibanding the legend soto mie Agih.

Awal-awal tinggal di Bogor, aku jarang banget nyicipin kuliner lokalnya. Malah pas hamil baru mulai nyobain atu per atu. Tau aja, kan, napsu makannya bumil kayak apa. Satu Gang Aut bisa kali sehari ditilep hauhaha.

Jajanan khas Bogor yang aku belom coba itu lumpia basah. Yang enak itu di Gang Aut, pas di depan toko Ngohiang. Dan katanya yang punya udah 40an tahun jualan lumpia, lho! *applause* 

Sayangnya, Bogor jarang ada yang jualan bakmi—non halal eniwei—yang aku suka. Mungkin karena kebanyakan chinese Bogor bukan orang Medan (kalo di Jakarta, yang jualan bakmi itu kebanyakan orang Medan). Bakmi Yunsin gimana, Jennn? Oke, sih, tapi kurang memuaskan. Malah lebih suka Mie Golek yang di Sentul. Recommended!

The other thoughts of Bogor... well, orang lokalnya, sih, baik dan ramah. Apalagi aku suka order jasa GoFood, sopan santun driver-nya oke-oke, lho. Entah karena memang itu attitude yang harus dimiliki oleh semua driver, yah. Terus kadang aku dipanggil teteh juga. Pas ketemu, eh... ini mah enci-enci banget hihi.

Dan aku, kan, nggak ngerti Sunda, kalau dari intonasinya kadang sounds funny (sorry, no offense, Sundanese!). Padahal katanya bahasa Sunda orang Bogor agak kasar. Cuma mau kasar juga tetep lucu kalau lagi marah. Again, no offense, yah. Btw, jadi keinget postingan soal Sundanese ini. OMG, I just can't. Untung suami nggak Sunda banget, kalo nggak kan aku kualat ngetawain suami mulu hihi. 

Kesimpulannya, aku emang belom (atau mungkin nggak akan bisa) jadi orang Bogor. But surprisingly, aku betah juga tinggal di sini. Mungkin karena tiap hari Minggu aku pasti ke Jakarta untuk ibadah (iya, jauh banget ibadahnya), dan kadang ngunjungin sodara, jadi masih bisa kangen-kangenan sama ibukota.

Sekian untuk postingan di hari Sabtu yang mendung ini. I hope you guys have an awesome weekend! 

P.S. Setelah ngecek folder hape dan laptop, baru ngeh nggak pernah punya foto yang "Bogor banget". Jadi mohon maaf postingan hari ini photoless yaaaah. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...