Wednesday, April 16, 2014

[PROYEKMENULIS] Bahagia Ala Grace dan Ami

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & get discovered! 
 


Bahagia ala Grace dan Ami 

“Iya, pokoknya kalau yang cari saya bilang aja saya lagi pergi keluar kota, lagi mau menenangkan diri.”

“Hah, emangnya kamu mau ke mana, Grace? Pergi bertapa begitu?”

Grace berdecak sambil membelokkan setirnya ke arah kiri.

“Yah nggak, Ayu sayang. Saya cuman mau refreshing. Pokoknya bilang aja saya sibuk, oke? Urusan penting lainnya udah saya beresin kemarin. Oya, sore nanti ada barang datang, tolong dicek yah, Yu.”

“Siap, Grace. Pokoknya serahin aja sama Ayu. Wis Grace tenangin diri dulu ya, kalau ada apa-apa Grace cari Ayu aja.”

Sekarang Grace kesulitan untuk menahan tawanya. Ayu itu terlalu lugu apa gimana, sih.

“Iya, Ayu. Makasih ya, nanti saya kabarin lagi.”

Grace mematikan sambungan teleponnya dan memasukkannya kembali ke dalam tote bag hitamnya. Ia baru saja menelpon salah satu pegawai kepercayaannya di butik, Ayu. Hari ini Grace harusnya, seperti biasa diam di butik yang ia miliki di daerah Seminyak. Namun karena ia merasa butuh hiburan, dan mumpung hari ini hari Jumat, ia memutuskan untuk memarkirkan mobilnya di parkiran The Bay Bali, Nusa Dua.

 dokumen pribadi

The Bay Bali it’s a perfect gateaway buat Grace di saat ia sedang jenuh dengan rutinitasnya. Maklum deh, sebagai owner butik yang baru opening empat bulan yang lalu, Grace selalu sibuk from day to night. Karena belum mendapatkan orang untuk mengurus beberapa job tertentu, saat ini Grace mengambil alih hampir di seluruh bagian. Mulai dari produksi, marketing sampai hal-hal kecil kayak penataan butik. Sebelum membuka butik, Grace udah sukses lebih dulu di online shopping, dan outifits yang dirancang oleh Grace sendiri udah banyak muncul di beberapa majalah lokal yang berbau fashion. Buka sebuah butik just like another huge step for herself. Empat bulan terakhir ini Grace penat banget, jadi dia berhak memanjakan dirinya seharian penuh.

Ngomong-ngomong The Bay Bali, Grace baru belakangan mengetahui tempat ini dari temannya, Chika, yang kebetulan bekerja di hotel daerah Nusa Dua. Katanya ada tempat gaul baru di Bali, semacam Ancol kalau di Jakarta, but this place so much better (iyalah, di Bali gitu). Sebelumnya Grace pernah nongkrong beberapa kali di Starbucks Bali Collection saat malam hari, namun dia nggak pernah notice keberadaan The Bay Bali.

Sore ini, The Bay Bali tidak begitu ramai, mungkin bukan sedang musim liburan juga. Pengunjung yang datang seperti biasa kebanyakan mahasiswa-mahasiswa yang studi di daerah Nusa Dua, dan sudah biasa bagi mereka menghabiskan waktu nongkrongnya di sini. Ada yang jogging, ada yang cuman duduk-duduk di tepi pantai sambil menunggu sunset, ada yang sepedaan romantis sama pasangannya masing-masing, ada juga yang sengaja makan malam di restoran yang cukup pricey seperti Bebek Bengil, Bumbu Nusantara atau Hong Xing, karena baru dapat uang jajan. Kalau dipikir-pikir, anak muda jaman sekarang gaulnya asik-asik yah. Seingat Grace dulu pas ia kuliah, mentok-mentok tempat gaul paling keren hanya di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Yah mungkin kebetulan aja saat ini dia di Bali, apapun yang dilakukan di pulau surga ini terlihat amat sangat keren.

Grace memutuskan untuk duduk di salah satu restoran favoritnya, Bebek Bengil. Karena belum begitu lapar, ia hanya memesan segelas iced lemon tea dan fried calamary sebagai appetizer. Sebenarnya banyak yang nggak suka menghabiskan waktu sendirian seperti yang Grace lakukan saat ini. Tapi menurut Grace, terkadang manusia itu harus bisa sendirian, alone not lonely. Saat sendirian, Grace mendapati dirinya mampu berpikir lebih jernih dan setelah itu menjadi lebih fresh untuk melakukan kegiatan selanjutnya. Sambil menunggu pesanannya datang, Grace mengambil sebuah buku berukuran kecil dari dalam tasnya. Buku itu berjudul “The Happiness Project” karya Gretchen Rubin.  

Grace memutuskan untuk membeli buku ini karena cover­-nya yang menarik, selain itu karena banyak orang yang membahas tentang buku ini. The book simply talks about how Gretchen, the writer, searching for her happiness in one year. Menurut Grace, sebenarnya kata “happiness” ini lagi mainstream banget di berbagai kalangan. Semua orang membahas tentang kebahagiaan. Banyak yang bikin happiness project like 100daysofhappiness, di internet banyak artikel yang membahas tentang how to find your happiness dan sebagainya. Ini semua bikin Grace mikir, segitunya kah orang-orang di luar sana mencari sebuah kebahagiaan?

“Cewekkk, sendirian aja nih?” seseorang tiba-tiba datang menyapa Grace yang lagi asik ngemil fried calamary. Orang tersebut langsung menarik bangku yang ada di sebelah kanan tempat duduk Grace. Kontan Grace terkejut dengan kehadiran seseorang yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. Bukan berarti dia nggak senang sih, senang banget malah. Grace nggak bisa menyembunyikan kesenangannya, sampai-sampai ia mendapati dirinya memeluk seseorang yang baru datang itu. Lupa akan tangannya yang agak belepotan minyak dan mayonaise.

“Amiiiiii! Lo beneran Ami kan??” seru Grace yang lagi kesenengan banget. Ia mengguncang-guncang tubuh sahabatnya ini sampai Ami puyeng sendiri.

“Bukan, hantu. Iyalah, ini gue Ami, sahabat lo yang paling kece sedunia!” 

“Gilaaa! Lo kok nggak bilang-bilang sih mau ke sini?? Trus tau darimana gue lagi di sini??”

“Nyari lo tuh gampang banget kali, nggak butuh jadi anggota FBI buat nyari lo kalau jaman sekarang ada yang namanya Foursquare sama Path. Lo tuh ye, rajin bener check-in sana-sini.”

“Lo ngapain di Bali?? Tega banget lo nggak ngasih tau gue dulu, sahabat macam apa!” Grace sama sekali nggak menggubris celotehan Ami tentang betapa eksis dirinya di media sosial. Yang penting sekarang penjelasan mengapa saat ini Ami bisa ada di Bali.  

“Tapi seneng kan?” ujar Ami sambil mencolek dagu Grace yang lagi pura-pura ngambek tapi sebenarnya seneng campur kaget banget dengan kehadiran sahabatnya, yang tau-tau bisa ada di hadapannya saat ini. Yah gimana nggak  kaget, Ami itu tinggalnya di Medan, tepatnya sih lagi tinggal sementara karena ada kerjaan di sana. Bisa-bisanya dia nyempetin diri terbang ke Bali.

“Heh, pertanyaan gue dijawab dulu. Lo ngapain di sini?”

“Ngunjungin lo lah, sayanggg. Dan sebenarnya gue juga pingin refreshing. Untung bos gue baik hati ngasih gue ke sini. Wow... nice banget tempat ini.” Ami mengerling ke sekelilingnya. Kebetulan Grace memilih tempat duduk di outdoor, jadi bisa langsung menikmati pemandangan pantai. Nggak ada yang lebih eksotis dinner sambil ditemenin suara ombak plus pemandangan pantai. Apalagi sekarang tepat pukul enam sore, langit lagi cantik-cantiknya. Buat nikmatin yang kayak gini, cukup ke The Bay Bali, nggak usah sampai ke Maldives segala.   

“Buset si bos baik banget sih. Eh lo mau pesen apa? Pesen dulu gih. Lo langsung dari bandara? Lo nginep di mana?” tanpa jeda, Grace menyemburkan berbagai pertanyaan ke sahabatnya ini.

“Biasa, bebek bakar sambal ijo aja. Iye, gue langsung dari bandara, keren nggak gue? Kalau nginep...” Ami menyeruput minuman milik Grace tanpa meminta ijinnya terlebih dahulu. “Tempat lo aja, boleh nggak?” tanyanya sambil nyengir lebar.

Grace langsung mengangguk cepat. “Iya, lo di tempat gue aja! Sekalian kita ngerumpi, udah lama banget kan kita nggak sleepover.” Walaupun tempat kost Grace nggak gede-gede banget, tapi senggaknya dia ada kasur cadangan buat Ami tidur nanti. 

“Ihhh, masih nggak percaya Ami bisa ada di samping gueee...” ujar Grace kembali sambil merangkul lengan Ami dan menyenderkan kepalanya di bahu Ami.  

“Norak lo, Grace,” sahut Ami cuek sambil ikutan mencomot fried calamary.

Nggak lama kemudian, pesanan mereka datang. Grace memesan seporsi bebek bengil dan Ami memesan seporsi bebek bakar sambal hijau. Sebenarnya ini sebuah guilty pleasure bagi keduanya, yang katanya sih lagi jaga badan. Cuman karena temanya memanjakan diri, jadi yaudalah hajar aja satu orang satu porsi. Begitu makanan datang, mereka langsung melahap tanpa ampun. Sambil makan mereka sambil bertukar cerita. Walaupun mereka berdua sahabat baik, namun keduanya harus menjalani long distance relationship. Yah mau gimana lagi, semenjak kuliah, mereka udah memilih “jalannya” masing-masing. Grace memutuskan untuk kuliah di Singapura mengambil jurusan fashion business, sedangkan Ami kuliah jurusan bisnis marketing di salah satu universitas swasta terkenal di Jakarta. Selesai kuliah, Grace malah ngacir ke Bali cari peluang baru, sementara Ami menjadi wanita muda karir jaman sekarang.

Ketika lagi asik makan, mata Ami tertuju pada buku “The Happiness Project” yang ada di atas meja, tepatnya di sebelah Grace.

“Eh, Grace, lo baca buku itu juga?” Ami memajukan dagunya ke arah buku tersebut. “Gue pernah baca summary­­-nya di Goodreads, bagus nggak?”

Grace mengangkat bahunya. “Gue belom baca selesai, tapi kayaknya sih not a bad book. Cuman gue lagi mikir sih, Mi. Orang-orang kayaknya lagi gencar banget nyari arti happiness dalam hidup mereka.”

Ami tertawa pelan. “Trus, menurut lo sendiri happiness itu apa?” tanya Ami sambil sibuk dengan bebek bakar sambal ijonya yang enak banget. Walaupun pedas, tapi Ami nikmatin banget.

Happiness itu yaa...” Grace berpikir sebentar, kemudian ia melanjutkan kalimatnya. “Simpel aja sih, ketika gue bisa melakukan hal yang gue senengin and I can do it for the rest of my life.”

Ami mendongak dan membelakkan matanya nggak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Dia sama sekali nggak menyangka akan mendapatkan jawaban seserius itu dari mulut Grace. Padahal dia tadi hanya basa-basi.

“Gila kenapa lo? So deep banget!”

“Eits, gue ada sisi melankolis kali, jangan lupakan itu,” ujar Grace sambil memutar-mutar jari telunjuknya. 

“Tapi bener kok, gue bahagia dengan apa yang gue kerjain sekarang. Emangnya menurut lo happiness itu apaan?”  

Gara-gara mendengar jawaban serius dari Grace, gantian Ami sekarang berusaha menemukan jawaban yang tepat untuk mendeskripsikan apa arti kata “happiness”. Dia nggak menyangka akan ditanya balik oleh Grace.

“Yaelah santai aja kali, Mi. Nggak usah dipikirin ampe segitunya, bukan tes psikotes kok,” sahut Grace yang menyadari raut wajah Ami berubah serius. Kemudian ia menyeruput iced lemon tea-nya yang dia order untuk kedua kalinya.

“Gawat, Grace... kayaknya gue nggak tau deh apa happiness itu buat gue.”

Gantian Grace sekarang yang membelakkan matanya. Tapi sedetik kemudian ia tertawa sambil menutup mulutnya yang baru saja ia masukkan dengan sesuap nasi dan daging bebek. Takut kelepasan muncrat kan yah nggak anggun.

“Emangnya lo mengalami krisis mencari kebahagiaan hidup? Yaelah, Mi. Masa lo nggak tau apa yang bikin lo bahagia? Kerjaan enak, bos baik, gaji gede, itu nggak bikin bahagia?” Grace menggeleng-gelengkan kepalanya. Ami bekerja di salah satu anak perusahaan retail internasional yang cukup ternama di Indonesia. Posisi Ami di perusahaan tersebut juga nggak nanggung-nanggung, yaitu sebagai sales manager di salah satu brand yang ia tangani. Kerjaan Ami nggak hanya stay di kantor, kebanyakan ia harus keliling kota untuk bertemu para klien. Nah, kerjaan kece kayak gitu, apanya sih yang nggak bikin bahagia?

“Nggg... bukan itu sih,” Ami menggigit bibirnya sambil memutar-mutar bola matanya. “Lo jangan ketawa ya, Grace. Kayaknya sih...” Ami keliatan mikir sepuluh kali untuk ngomong ini ke sahabatnya. “Kayaknya sih... kurang kekasih. I don’t knowww, Grace. But seriously, semenjak putus sama Kevin, gue ngerasa bahagia gue mengurang.”

Kontan Grace tersinggung mendengar pernyataan Ami barusan, tentunya pura-pura tersinggung sih. “Sepi? Lah gue ini gunanya apaan dong?” ujar Grace sambil menunjuk hidungnya sendiri.

Ami langsung menepis tangan Grace. “You know what I mean, Grace.”

“Yaampun Amiii...” sekarang Grace benar-benar masuk ke topik yang tiba-tiba agak serius ini. Ia menghentikan tangannya yang sejak tadi sibuk makan. “Kita tuh masih umur dua puluh empat, masih sempet kok ngegaet cowok manapun yang ada. Cuman emang Tuhan lagi kasih lo kesempatan untuk nikmatin hidup lo. Lain cerita kalau lo ada cowo, Mi. Gue rasa cowo lo nggak bakal betah dengan kerjaan lo yang sebentar di pulau ini, besoknya udah di pulau itu, dan pada akhirnya lo juga nggak akan nikmatin hubungan lo, bukannya ini udah jadi sebuah lesson learned lo sama Kevin? Don’t you ever think you are the luckiest girl ever to have this awesome job? Even as your best girlfriend ever..” Grace agak nyombong dikit di bagian ini, yang malah dicibirin Ami, “I am so proud of you and you should be happy.

Ami nggak nyangka Grace bakal ngomong ini semua, terdengar Grace ngertiin Ami banget dibanding diri dia sendiri. Well, bener juga sih. Alasan Ami putus dengan Kevin memang karena kerjaan Ami yang kayak setrikaan. Walaupun putusnya baik-baik, cuman ini sempet membuat berpikir untuk resign from her job, which is kalau dia lakukan, udah pasti Grace memaki dirinya habis-habisan.

“Eh, tapi... lo beneran enjoy kan sama kerjaan lo sekarang?” tanya Grace lagi yang membuat Ami tersadar dari lamunannya.

“Iya, Grace.”

“Nah, yaudah sih. Jangan pernah ngomong gitu lagi, Mi. Kalau orang tanya apa yang bikin lo bahagia, just say it. Say that you love your job and you enjoy your single life.”

“Wow.. lo orang pertama yang ngomong kayak gini, Grace. Why you know me so well?” tanya Ami sambil meletakkan kedua tangannya di depan dadanya. Ceritanya terharu banget.

Grace menepuk-nepuk dadanya. “Grace gitu lohhh. Dan lo tau, saat ini gue cukup bahagia dengan menikmati makan malam dengan sahabat yang paling keceeee, yang rela terbang dari Medan sampai Bali demi gueeeeeeh...”

“Eyaaaaa...”

Grace dan Ami tertawa berbarengan. Kemudian Ami mengangkat gelasnya yang berisi coca-cola dicampur dengan irisan lemon. “Yuks, kita make a toast. We cheers for the best of our life, cheers for our 24th happiness...”

Grace pun mengangkat gelasnya dan mereka menempelkan gelas mereka sampai menimbulkan dentingan pelan.

Cheerssssss!” 

Malam ini harusnya menjadi malam yang biasa buat Grace, karena ia hanya berencana untuk menikmati waktu santainya. Di luar ekspektasinya, Ami tiba-tiba datang dan akhirnya mereka menghabiskan semalaman berdua di tempat yang terlalu romantis untuk sepasang sahabat perempuan. Walaupun hanya makan malam biasa, at least mereka sama-sama belajar satu poin penting tentang kebahagiaan. Ami yang ngerti kalau Grace bahagia dengan apa yang dikerjakannya saat ini dan ia berharap Grace bisa melakukan seumur hidupnya. Grace pun sangat mengerti Ami yang nggak butuh (well, at least untuk saat ini) lelaki manapun di sampingnya, karena Ami sedang dikasih kesempatan untuk menikmati perjalanan menggapai mimpinya. Pada akhirnya pun, mereka sama-sama bisa meyakini bahwa diri mereka sangat bahagia. Dan yang terpenting, baik Grace maupun Ami sama-sama merasa bahagia bisa mengenal sahabat yang bisa mengerti diri mereka masing-masing, lebih dari mereka mengenal diri mereka sendiri. That’s the way they call happiness is.

“Eh, Grace, ini semua lo yang traktir kan?”

Monday, March 31, 2014

A Silence Day

Every week in Friday, Danielle from Sometimes Sweet gives us a writing prompt as she called it a "Journal Day". This is my first entry, actually I was a little bit late for writing this (it was last week prompt) but yeah I just don't care. Danielle's every week journal helps me to get back for writing. It is a really good thing. So here I go! 
 

***

Everyone has different things that keep them going. Sometimes it's the people around us, other times it might be what's waiting for us on the other side of hard work. Whatever it may be, there's usually some sort of motivation to get up every day, get things done, or maybe even go the extra mile. With that said, what would you say is your biggest motivation in life? Has it always been this way?


This is a pretty easy question for me to answer, well especially after I got my dream job. As a barista, we have to work 9 hours per day, 45 hours per week. We have different shifts every day (it means we might go to the store by the morning, or in afternoon or even in evening). It will be so tired for me if I have to go for evening shift, I have to work from 4pm till 1am. Sometimes I could be so bored, sometimes I could be so lazy (especially for drag my butt from the bed!). But then I think of every single customer who will come to the store, somehow they come up with "a story" to tell. I remember of one couple came to our store few weeks ago, they came for a late coffee and to buy some merchandise. I had a little chats with the woman. Like usual, I asked her where she comes from, what she doing right here in Bali blablah, at the end I knew that she is a teacher, not an official one. She comes from UK, travels around Asia because her husband's job and they stay in Australia for a while. She has a big compassion for orphan kids and abused kids, so she takes them all to her home and gives them a proper education and what makes me surprise is she raises them all by her ownself! What a big dedication. I mean like who cares about raising not-a-child-by-your-blood these days? I asked her, does she ever feel so exhausted by raising them all? She said, yes she can be tired sometimes, but seeing the children happy, is more than enough for her. And honestly, she was in Bali because she's in her getaway with her husband, like run away from the reality for a while she said haha. Well. I may not know who this woman is, but that night she inspires me and motivates me to keep do something I passionate about. This is why I treat customers like a friend. I love to talk with them, sometimes we share story. They may not always being nice to us, but I try to respect them (remember the words "customers are the kings"?). It feels weird that I-will-meet-bunch-of-new-people-today this reason makes me get up every morning, but yeah that's the truth. 

Remember that every day is a brand new day. God knows we deserve a new challenge, a new lesson to learn since we live in this world. If someday you wake up and you feel weary, you should remind yourself about all of motivations that you have. Maybe you can write it down, so it can be your daily reminder (: 

***

Anyway, today is 31th March, here in Bali the Balinese celebrate "Nyepi Day" or it has known as "Silence Day". No noises, no electricity, no traveling outside, no cars or people on the road, they just stay at home and pray. Well as for me and my family, since we are not Hindus, we just stay quietly at home. We can't speak and laugh out loud (as we usually do LOL), just for today we are whisppering a lot hehe. Happy Silence Day for all of you who celebrate it. Be blessed and stay awesome!

Wednesday, March 19, 2014

[PUBLISHED] The Book Talk

Where should I begin? 

Finally, my book has published! Let me share a bit how I decided to write my first ever Christian book. 

I started to write this book around two months after I moved in Bali. I wasn’t that busy (not busy at all, actually), I didn’t have anything to do, so I decided to write, almost every day. The idea was born after I shared the same topic about passion in my community at church back then. I have been speaking for almost one and half hours but still feel that there’s still lot to deliver. So write them all in a book that would be very good idea. 

Some closest friends and family surprised when they know that I wrote a book, even my parents. I told my Dad and Mom about this when I finished writing the book and while editing process. My Dad was my first reader and he helped me with the grammatical error and other inputs. And Mom.. as you may guess, she was just like “Wow, really?” then she started brag in her BBM personal status and told her friends that her daughter is actually writing a book and also asked to them buy a copy later (such an adorable Mom!). 

PassionTalk never happen if I just store the idea inside my head. You know, idea only just being an idea if you never give it a try. As the title called, yes this book talks a lot about passion, about future, and also how you define yourself in God before you life the life’s purpose. If you go to the local bookstore, there are soooo many books talk lots about passion itself, but I can 100% guarantee they never talk about passion in God, what God says about passion and why He gave us that in our life. 

 How I store every idea that pops out in my mind in my journal



The very first idea that was born, I got it from one of Bible’s verse:

"For we are God's workmanship, created in Christ Jesus to do good works, which God prepared in advance for us to do." 
Ephesians 2:10 


So yeah, I don’t know what to say anymore haha. The book is available at nulisbuku.com, if you want to order a copy, you just click the picture of my book on the left side bar. Oh, last thing. Did you remember about this post? Some of my closest friends asked me to sign the book and write a message before it delivered to their home, but it will be a little bit harder since I don’t have any stocks of my books and I used self-publishing service to publish the book, which means the book is not ready stock. I was thinking, how about I arrange a mini book launching (heartbumps when I wrote this) in few months later, with closest friends and family members. On that day, we can share anything related about the book, share about our passion, our dreams, or maybe we can do praise & worship together. At the end of the gathering day, I can sign all of the books. Tell me if this a very good idea hahaha. 

Have a nice day everyone and stay awesome!      
  

Sunday, March 16, 2014

Snapshot Sharing 02: First Internship as Mandarin Teacher

On month February last year, I went to Pekanbaru to complete my internship task as a Mandarin teacher in a private school. Yes you heard it right, I worked as a teacher or you might call me as "laoshi" (teacher in Chinese). This is my very first time teaching in a class. It was a fun weeks with the kids. They are so naughty but also adorable at the same time. I have one and two favorite kids actually. The one I remembered named Alice. She wears glasses (gosh, she's only 7 but wears glasses already!) and always sits nicely at the front row. She speaks Chinese fluently and her Mandarin test always a great score. I asked her why she's so good in Mandarin and she said, "Because I speak Mandarin at home with Mom and Dad, when I grow up, I want to be a Mandarin teacher just like you." See, every teacher loves this kind of kid hahaha

Another fun fact of my internship memory, me and Sastika went to same school together for internship. I stayed in her place for two weeks and that was my very first time too visited her family in her hometown. We had a really great time together.

Well, being a Mandarin teacher at school was interesting and fun, but also tell me something: This is not a job that I want. LOL. I love teaching, but maybe not in a school. I hope someday I get a chance to teach something I love to do (blogging or writing workshop? wow sounds so cool).

Oh almost forgot the picture! Here my only picture that I have with the kids. This is my favorite class ever! 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...