Tentang Sindrom Baby Blues

Monday, July 31, 2017


Beberapa hari yang lalu, muncul video viral di media sosial, tentang ibu yang menganiaya anak kandungnya sendiri (berinisial Baby J) karena diduga mengalami sindrom baby blues.

Sebelumnya aku sama sekali nggak tahu tentang ini. Aku tahu dari Andreas yang baca beritanya di detik.com. Sebelum baca beritanya sendiri, aku hanya bereaksi normal. 

"Oh, baby blues... emang begitu, sih, efeknya. Gangguan emosi soalnya." 

Terus Andreas bingung, pasalnya di berita itu si ibu katanya sampai menampar-nampar mulut anaknya, lalu dibanting di atas kasur. Tangisan anaknya nggak memberhentikan ibunya untuk terus menyiksa anaknya sendiri.  Btw, aku sempat nonton videonya namun hanya bertahan beberapa detik. Batin ini tidak kuat, bundaaaaa T___T

Ternyata si ibu memang diduga mengalami depresi dan bipolar disorder, sehingga membuat dia bertindak gila seperti itu. 

Kemudian, sang suami bertanya kembali, apakah baby blues itu suatu hal yang serius (dan nyata), sampai bikin seorang ibu menyiksa anak kandungnya sendiri?

Well, believe it or not, sindrom baby blues adalah gangguan emosi pasca melahirkan yang cukup serius—dan jika tidak ditangani dengan benar bisa mengarah ke postpartum depression... and of course it's real, honey! 

Andreas bertanya seperti itu karena menurut doi, saat aku melewati pasca melahirkan tahun lalu, aku tidak mengalami sindrom baby blues yang gimana-gimana banget. Padahal dia nggak tahu, ada masanya aku kepingin dijauhin dari Josh. 

Sedihnya, di negara kita sendiri sindrom ini tidak diakui oleh banyak orang. Kebanyakan orang cuma bisa berkomentar, "Ah, kamu manja aja! Mama/nenek dulu nggak pernah kayak gitu" waktu kita menjelaskan kondisi emosi ini. Sakitttt T_T.

Pernah suatu kali dengar cerita teman, waktu dia mengalami baby blues sampai pengen lempar anaknya ke jendela. MAKK... ngebayangin betapa sayangnyaaaaa temanku itu pada anaknya sekarang ini, ternyata waktu bayi sempat ingin dilempar, men! T_T 

Jadi, kenapa bisa baby blues? 

1. Nggak siap (mental) dengan kelahiran sang buah hati.

Poin pertama ini dijelaskan oleh dr. Irawati Sp.Kj dalam artikel yang dilansir dari id.theasianparent.com

Like every newbie moms, segala perintilan Josh yang dibutuhkan saat dia lahir semua aku siapkan lengkap. Justru yang nggak disiapkan dengan baik itu mentalnya.  I didn't even realize having a baby will make a HUGE change in my entire life. Nggak heran waktu Josh lahir, aku sempat bingung dan stres bagaimana caranya membesarkan makhluk kecil titipan Tuhan ini. Untungnya, aku nggak sampai ada hasrat ingin menyakiti Josh, sih. Tapi aku pernah dalam kondisi pengen menjauh dari Josh satu hariii aja. Because that time I was really exhausted!

2. Mengalami kejadian nggak menyenangkan saat mengandung atau pasca melahirkan. 

Puji syukur, selama mengandung Josh adalah pengalaman hamil yang paling menyenangkan. Saking betah hamil, kakak sepupuku bilang aku bisa ketagihan hamil lagi nanti. Bisa jadi, sih... tapi proses melahirkan dan ngurusnya, tolongggggg...

Justru saat pasca melahirkan, tiba-tiba adaaaaa ajaaaa kejadian yang bikin emosi ini super labil. Kejadian apa aja nggak bisa kusebutkan di sini. Intinya, selama seminggu aku merasa sedih banget karena suatu masalah. Setiap ada yang ngungkit masalah tersebut, baik orang luar maupun orang dalam, aku langsung sensi dan nangis. Padahal aku sedang menjalani sit moon period selama sebulan penuh, salah satu rules-nya nggak boleh nangis/marah. 

3. Kelelahan dalam mengasuh new born

Apalagi buat para ibu yang nggak menggunakan jasa baby sitter atau nggak punya helper dalam mengasuh bayi. Ini pun juga aku alami.

Sejak hamil, aku dan Andreas memutuskan untuk nggak menggunakan jasa nanny dan aku nggak keberatan untuk menjadi full time ibu rumah tangga. 

Tibalah Josh lahir, aku sempat ditemani Mama yang datang dari Bali selama hampir 3 minggu untuk menjalani sit moon. Begitu Mama pulang, aku sempat ngerasa kewalahan ngurus Josh. Saking capeknya, lagi-lagi aku bisa nangis sendirian di siang bolong waktu suami nggak ada. 

 Muka kucel (yang disensor) dan pake piyama hampir setiap hari pasca melahirkan.
Dan kayaknya, sih, ini nggak mandi... 

Jadi, dari tiga alasan kenapa bisa baby blues (dan pasti ada alasan lainnya dari setiap ibu yang mengalami, yaa), berikut adalah cara mengatasinya versi Mama Joshua. 

How to beat baby blues:

Pertama, moral support. Support dari siapa? Tentunya yang paling dekat, yaitu suami, di mana kita bisa mendapatkan rasa secure dan comfort.

Waktu aku sadar sedang mengalami baby blues, aku langsung cerita ke suami. Aku minta Andreas untuk googling tentang baby blues supaya dia ngerti ini bukan emosi yang aku buat-buat. And thankfully, he totally understood my condition that time. 

Kedua, jangan disimpan sendiri. Orang yang depresi biasanya nggak mampu untuk meluapkan perasaan mereka. Misalnya, mereka marah atau nggak suka akan sesuatu, tapi mereka nggak bisa mengeluarkannya. Alhasil, perasaan terpendam tersebut sering menjadi bumerang yang membuat diri mereka stres dan akhirnya depresi. 

Sama halnya jika kita para mommies yang sedang mengalami baby blues. Kalau perasaan lagi nggak nyaman, ya diutarakan aja. Disimpan sendiri malah bikin hati makin nggak nyaman. Dan walaupun dalam peraturan sit moon period nggak boleh menangis, it's totally fine untuk mengeluarkan emosi kita. Ngutip dari sebuah artikel tentang baby blues, "if you feel the waterworks coming on, let them come, then get on with your day!".

Ketiga, jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan. Seperti yang udah kubahas di postingan sebelumnya, minta tolong saat membutuhkan itu sangat sangat diijinkan. 

Terakhir, jangan lupa doa dan mengucap syukur. Nggak ngomongin tentang kepercayaan atau agama yang dianut, yah. Tapi aku percaya kenyamanan dan kebahagiaan yang paling hakiki datangnya dariiii Atas. Jangan pernah lupa untuk berdoa dan berterima kasih untuk kehidupan yang baru bersama anak yang sudah dititipkan pada kita (: 

Baby blues syndrome bukan masalah sepele namun juga nggak perlu terlalu dikhawatirkan. Biasanya hanya terjadi dalam kurun waktu yang sebentar dan akan hilang dengan sendirinya. Yang penting kita bisa mengatasinya dengan benar dan tentunya mendapatkan support system yang baik. 

Mudah-mudahan, amit-amitttt, dari teman-teman nggak akan ada kasus baby blues yang sampai membahayakan nyawa si anak, ya. Kids are innocent, masalah gangguan emosi harus bisa kita tangani dengan baik 💪🏽💪🏽💪🏽

Ada cerita pengalaman baby blues yang pernah dialami dulu? (:

6 comments:

  1. aku pernah ada satu masa ga mau nyusuin jayden sama sekali, jadi aku lebih milih pumping trus kasih via botol, dan yang kasih itu si suster, saking aku stress banget... tapi ada suster kayak aku pun juga ga selalu bikin hati lebih tenang, malah kadang celetukan2 dia kayak "asinya ga keluar ya?" atau "asinya ga enak ya?" justru bikin aku tambah down... untung ada suami yang begitu pulang kerja langsung pulang ke rumah, kepala jadi jernih lagi hehehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, iya. Kadang omongan orang lain yang nggak bisa kita kontrol ya, ci. Makanya pengen marah aja jadinya. Untung selalu ada support dari suami tercinta, yaa hehe

      Delete
  2. kalo yang sampe ngebunuh itu gua rasa emang bukan karena baby blues doang ya.. ya yang kayak lu bilang emang orangnya ada kelainan bipolar...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga kurang percaya kalau baby blues sampai pengen bunuh anaknya. Rasanya, sih, itu memang udah gangguan jiwa, kayak si ibu itu memang ternyata bipolar. Seremmm banget! ):

      Delete
  3. saya nggak mau nonton videonya, pasti nanti kzl dan nangis. setuju mba pas hamil kita terlalu excited menyambut kelahiran anak sampai lupa bahwa kita juga baru lahir sebagai orangtua :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah nggak perlu ditonton, Mbak. Sedih ):

      Nah, iya betul. Justru kita lupa waktu anak lahir, kita juga lahir kembali sebagai orangtua, ya (:

      Delete

Thank you for reading and commenting here. All comments are moderated and I'll reply to your comments daily, so please check back. Nice to chat with you (: