7 Things I've Learned as a New Mom (and the list goes on)


Bulan depan, Joshua genap setahun, berarti aku dan Andreas berhasil survived selama setahun menjadi orangtua baru! Wohoooo 🎉🎉🎉

Sama kayak hidup secara keseluruhan, parenthood/motherhood punya wahana roller coaster-nya sendiri. When you hop into the ride, you feel nervous. Pas udah di puncak dan siap meluncur, rasanya pengen teriak sekencang-kencangnya. Setelah wahananya selesai, rasanya lega banget. But still, there will be another ride, and another one, and another one... and so on.

Memang baru setahun, tapi boleh, yaaa, share apa aja yang udah dipahami selama setahun ini. Catatan pribadi juga supaya untuk anak kedua nanti, (siapa tahu) bisa lebih luwes.

And no, we're not planning to have another child (yet)... maybe for the next 3-4 years.

***
1. Tentang begadang untuk menyusui.

Katanya new born itu harus rutin minum susu tiap 2-3 jam, termasuk malam hari. Berarti, kalau bayinya bobo lebih dari dua jam, harus dibangunin untuk nyusu biar nggak kelaparan. Maka begitu, setiap ibu baru harus rela begadang setiap hari, bukannnnn? 

Per hari di mana aku nulis postingan ini, aku baru sadar bahwa sesungguhnya lagu Begadang milik Rhoma Irama benar adanya.

Kalau bayinya lagi bobok, ya harusnya kita ikut bobok aja. Terus kalau udah lewat dua jam bayinya nggak bangun-bangun gimana dong? Bagusss, berarti memang dia belom lapar dan kita bisa lanjut bobok lamaan.  

When the baby sleeps, mommy sleeps too!

Ngurus new born with or without nanny pasti sama capeknya. Punya waktu untuk tidur walaupun cuma 30 menit udah berharga banget. Dulu rasanya sayang banget kalo aku ikutan Josh bobok, lebih baik ngurus kerjaan lain atau refreshing. Padahal sebenarnya bobok itu yang paling aku butuhin, khususnya sebulan pertama pasca lahiran.

Wahai yang belom nikah atau belom punya anak, hargailah waktu tidurmu. You are gonna miss it—at least for 12 months or up—once you're a mom. (kecuali yang anaknya di-sleep train hihi)

2. Tentang melarang Josh memasukkan jari tangan atau benda lainnya ke dalam mulut.

Kesalahan yang bikin aku lumayan bikin nyesel sampai sekarang. Padahal fase masukin tangan ke dalam mulut itu termasuk fase yang krusial untuk bayi. Salah satu melatih motorik halus juga, kan.

Josh mulai masukin/gigit-gigit benda itu sekitar usia 3 bulanan. Setelah itu dia mulai masukin jari tangan dia sendiri. Nah, di sini aku dan Andreas mulai suka ngomong, "tangan bukan untuk dimakan, yah". Plus, orang-orang terdekat juga ikut ngelarang-ngelarang. Sebyelllll rasanya pernah ngomong gitu. Sok-sok bersih, ehhh sekarang anaknya beneran nggak pernah (berani) masukin tangan atau benda ke dalam mulutnya.

Salah satu sisi bagus juga, sih, dia nggak sembarangan masukin benda ke dalam mulut. Minusnya, sampai makanan pun dia nggak berani masukin ke mulut. Somehow dia kayak bingung gitu kalo dikasih finger food atau cemilan kayak biskuit. Alhasil, finger foods selalu berakhir di lantai alias dibuang. Biasanya aku selalu praktekin cara makan pake tangan di depan dia. Kadang-kadang dia ngerti, tapi seringnya dibuang juga. Ujung-ujungnya, disuapinin aja, deh!

Harusnya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan banget, lah, ya. Kalau minum, sih, dia mau pegang gelas/botolnya sendiri. Bulan depan Josh udah mau setahun, mudah-mudahan mulai ada interest untuk makan sendiri—pake tangan atau alat makan. 

3. Tentang marah sama Josh yang rewel tanpa tau sebabnya (dia rewel).

Sekitar 4-5 hari yang lalu, Josh tiba-tiba super manjaaaa dan maunya nempel sama mamanya aja. Biasanya kalau aku tinggal di dalam playpen, dia oke-oke aja main sendiri. Sebelum ditinggal aku bilang kalau aku mau cuci baju, mau masak atau mau ke toilet. Dia memang belum paham, tapi aku biasain untuk kasih tahu supaya dia nggak ngerasa ditinggal tanpa alasan dan karena mamanya memang mau ngerjain hal lain.

Nah, hari itu dia malah jerit-jerit pas aku tinggal. Liat aku menghilang ke kamar mandi aja langsung nangis drama. Karena biasanya nggak begitu, kesel dongggg, apalagi waktu itu lagi kebelet banget. Selama di kamar mandi anaknya nangis heboh. Begitu aku keluar, mata anaknya sembab banget habis nangis sesunggukkan. Aku gendong terus aku ngoceh-ngoceh macam, "Mama, kan, cuma ke kamar mandi bentar, masa kamu nangis sampai segitunya, sih? Biasanya, kan, kamu gapapa Mama tinggal." Anaknya diem aja sambil ndusel-ndusel kepalanya di mukaku. Lah, ini anak kenapa nempel begini?

Selama dua hari kayak gitu, lama-lama aku sewot. Sorenya pas mau mandiin dia, aku baru sadar... kok badannya agak anget, ya? Ternyata buibu, si anak sumeng gara-gara lagi tumbuh gigi atas. Pantesssss, maunya manja-manjaan sama mamanya doang.

Beberapa detik kemudian aku sadar, dari kemarin ini anak sumeng tapi gue omel-omelin. Yaelah, ibu macam apa gue?! ):

Begitu nyadar anaknya lagi sumeng, gantian aku yang nempel-nempel ke dia. Anaknya langsung hepi, senyum-senyum terus. Suami di sebelah ngeliatin terus ngomong, "Makanya, udah kubilang kalau Josh rewel atau apa, cari tahu dulu penyebabnya. Jangan gampang marah-marah, ah." Beres, suami. :P

4. About trying to be a supermom. 

Waktu awal-awal Josh lahir, aku sungkaaaaaaan sekali untuk minta tolong. Lebih tepatnya, sih, aku punya semacam trust issue

Sebelum pindah ke rumah mertua, kami punya mbak yang bantu pekerjaan rumah tangga. Waktu itu ceritanya aku mau mandi, tapi si Josh ngerengek di dalam boks minta digendong. Melihat itu, si mbak menawarkan untuk gendong Josh supaya aku bisa mandi. Awalnya, aku tolak. Aku nggak berani kasih orang lain selain anggota keluarga untuk jagain apalagi gendong Josh. Akhirnya aku kasih si mbak jaga, buru-buru aku mandi abis itu langsung balik ke kamar jagain Josh.

Tiga bulan pertama aku bertahan ngurus Josh sendirian. Suami pulang kerja, baru bisa ganti "shift". Lama-lama aku jenuh, terlalu occupied dengan Josh. Apa kabar kerjaan, apa kabar blogging, nih?

Dari pengalaman itu, aku mulai terbuka dengan tawaran pertolongan dari orang lain. Walaupun sebenarnya aku masih suka apa-apa sendiri, tapi enak juga kalau ada "tangan" tambahan.

Aku sering baca cerita mommies di Instagram yang ngurus anaknya sendiri tanpa bantuan nanny. Ke mana mamanya pergi, anaknya juga ngikut. Those mommies mentioned a lot that they don't have nanny or helper, jadi seperti memberi kesan "gue hebat, gue bisa tanpa asisten".

Sesuper Mama manapun aku yakin mereka butuh bantuan. Kita jadi "super" karena punya support system, ya mereka-mereka yang dengan senang hati membantu.

5. Tentang membanding-bandingkan.

Nah, ini juga salah satu never ending drama di antara kalangan manapun, termasuk emak-emak, ya. Hihi.

(Un)surprisingly, sosial media berperan penting di sini.

Masa-masa Josh susah makan ternyata bukan tantangan yang utama. Lihat bayi-bayi yang liat sendok aja udah mangap-mangap lebar di Instagram DAN berusaha untuk nggak membandingkan dengan Josh, adalah tantangan yang sebenarnya! Apalagi liat anak artis si Kaw* yang pinter banget BLW-nya *kipas-kipas hati yang memanas*

Sosial media sebenarnya nggak bersalah. Kadang yang salah gimana kita responnya aja. Coba kalau situasinya Josh pinter makan, liat Kaw* yang pinter BLW juga pasti biasa aja. Malah mungkin jadi nyinyir... emang gizinya cukup kalo anaknya BLW? Enakan juga spoon-weaning, 'kan jadi tau anaknya makan cukup atau nggak.

Nahhhh... kalau kayak gini kasusnya membandingkan dalam siapa yang lebih benar, siapa yang lebih unggul. Padahal mau pake metode makan apapun, orangtua pasti udah tahu semuanya. Begitu juga dengan hal lainnya.

Aku yakin setiap Mama pasti bangga dengan perkembangan anaknya, apalagi bayi itu cepat banget pertumbuhannya. Tempting buatku untuk "pamer" kepintaran anak sendiri di depan ibu lain, yang aku tahu anaknya belum mencapai tahap yang Josh sudah capai. Biasa, lah, kalo lagi ngumpul emak-emak gitu, kan, pada suka nanya-nanya, "Anak lo udah bisa apa? anak gue udah bisa gini, lho!".

Cuma ya itu, kalo dipikir-pikir, membanding-bandingkan ini samsek nggak ada faedahnya. Mau dibanding-bandingin sampai kapan, bundaaa? Mendingan fokus ngurus anak masing-masing aja, deh! 

6.  Tentang marah-marah di depan Josh. 

Namanya juga emosi spontan, suka nggak sadar ngelakuinnya di depan anak. Apalagi Josh udah mulai bisa ngenalin emosi orang yang lagi seneng, sedih atau marah. Misalnya, kalo aku dan Andreas lagi hepi, dia bisa ikutan ketawa. Kalo kebetulan kami lagi debat dengan nada agak tinggi, tiba-tiba dia bisa teriak "aaaaaaa!" kayak nggak suka gitu. 

Sebenarnya nggak apa-apa untuk showing our emotions di depan anak. Biar mereka ngerti juga manusia tuh emosinya beragam. Yang kami hindari kalo ada hasrat pengen berantem di depan anak, sebisa mungkin ambil napas dalam-dalammmmm biar nggak kebablasan.

7. Tentang cuek sama suami (setelah punya anak).

Katanya anak pelengkap kebahagiaan dalam pernikahan. Ironisnya, setelah punya anak, suami malah dicuekin. Nah, lho?

Setelah Josh lahir, waktu 24 jam yang aku punya tersita cuma untuk Josh seorang. Bahkan aku nggak punya me-time walaupun cuma untuk mandi atau doing "business" in toilet.

Alhasil, tiap kali diajakin 'pacaran' sama suami, aku cuma bisa beralasan klasik, "Besok-besok aja, capek.". Ya kali, udah seharian ngurus bayi, mau ngelonin suami lagi rasanya jenuh banget. Mendingan ikut si bayi bobok. Terus suami cuma bisa pasrah dan manyun... hahahaha! *maap suamiii maaappp*

Sekarang, sih, udah mendingan, walaupun kadang kalau udah sama-sama capek, bawaannya juga pengen cepet-cepet bobok. Cuma kami berdua sadar, we still need our intimate moments.

Bicara soal intim, nggak hanya seks, ya. Kami berdua sama-sama seneng pillow talk. Abis boboin Josh, kalau belum ngantuk banget, kami suka ngobrol. Mulai ngobrolin yang receh, ketawa-ketiwi, sampai yang serius; our future plan, dreams and other else. Rasanya nyenengin aja punya waktu berduaan kayak gini, apalagi kalo udah lamaaaa banget nggak melakukannya. Intinya, setelah punya bayi, jangan lupa sama "bayi gede" yang satunya. Kasian, lho, dicuekin ((:

Oh ya, satu lagi... I read this somewhere, don't forget to enjoy your baby together. Anak bukan cuma punya Mama seorang, tapi punya Papa juga. Note to myself: jangan keasikan sendiri sama anak.

***
Sebagai penutup postingan ini, mau ngutip quote dari seorang bernama Linda Wooten:
"Being a mother is learning about strengths you didn't know you had and dealing with fears you never knew you existed. "
And since being a mother is a privilege for me, I wouldn't mind for 'another ride'! 

Cheers to motherhood! 🍻

Comments

  1. cheers to motherhood! semangatttt kakaknya!!! :)

    ReplyDelete
  2. kalo marah sama anak itu sih manusiawi ya kalo menurut gua. itu tandanya kita care. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya, sih. Cuma kalo papa mamanya yang lagi pengen marah-marah, sebisa mungkin menghindar biar nggak keliatan anak :D

      Delete
  3. kalo masih seumuran josh masih belom ngerti dimarahin, kalo uda seumuran jayden, aku bentak dikit langsung mewek hahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang dia mudeng, sih, ci. Kalo intonasi suaraku naik, tiba-tiba dia bisa diem ngeliatin aku. Tapi ya setelah itu ketawa-ketawa aja anaknya, hahaha.

      Delete

Post a Comment

Thank you for reading and commenting here. All comments are moderated and I'll reply to your comments daily, so please check back. Nice to chat with you (:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts from this blog

10 Secrets from Ex-Starbucks Barista You Might Want To Know

Diary of The Week #6: Selamat Jalan Popo Tercinta