Japan Travel Journal 07: Tsukiji Fish Market and Ichiran Ramen



Akhirnya, setelah empat bulan lamanya, Japan travel journal ini rampung juga. YAAAAY!

Japan travel journal ini sukes menjadi seri travel terpanjang pertama di blog ini. Mudah-mudahan ada kesempatan lain untuk jalan-jalan lagi, dan bisa dilaporkan di sini kembali ya.

Post terakhir ini merupakan hari terakhir kami juga di Tokyo, karena besok paginya kami udah ke bandara pulang ke Indonesia.

Seperti cuaca sebelumnya ketika kami kembali lagi ke Tokyo, pagi itu diawali awan mendung dan gerimis. Tapi untungnya cuaca kayak gini nggak bikin kami males jalan. Soalnya udah last full day, nih, harus dimaksimalkan.

Tujuan kami hari itu adalah ke Tsukiji Fish Market.

Pasar ikan Tsukiji ini udah masuk daftar must visit-nya si Andreas selama di Tokyo. Maklum, setiap penggila sushi dan sashimi kayaknya ngebet banget ke Tsukiji, termasuk doi. 

Tsukiji fish market ini pada dasarnya pasar tradisional biasa. Yang nggak biasa, karena tempatnya gede banget dan super lengkap. Aktifitas di pasar ini dimulai dari subuh, kira-kira jam dua pagi gitu kali, ya. Dan pelelangan ikan-ikan segernya juga mulai dari jam empat. Buat yang pengen ngerasain kehidupan warga Tokyo yang jauh dari suasana metropolitan, ke sini aja nih.

Pasarnya dibagi dua area: outer dan inner market. Pelelangan ikan, penjualan ikan, dll, semuanya dilakukan di bagian inner market. Nah, biasanya turis jarang yang bisa masuk ke sini. Soalnya bisa ganggu aktifitas mereka gitu, deh. Ya, tau aja kelakuan turis. *ngomongindirisendiri*


Tujuan pertama kami, sushi dan sashimi breakfast!

Apa spesialnya makan sushi atau sashimi di sini? Harus banget ya makan di pasar? 

Jawabannya: HARUS. Apalagi kalau kamu hardcore fans-nya sushi kayak Andreas. Soalnya sushi dan sashimi yang dijual di kedai-kedai dalam pasar ini, ikannya fresh banget dari laut. Jadi rasanya pasti enak abis.

 Salmon sashimi buat sang suami. Doi pun nggak bisa berucap kata pas ngunyah. Endeus banget!

 Tamago sushi for non sashimi eater like me. Tamagonya super smooth, pas ditelen langsung meleleh. Uwoowoo. 

Ada satu warung sashimi yang hits banget di Tsukiji (top recommended by Tripadvisor). Pas kami nemu tempatnya... rameeeee buanget, cyin! Ramenya tuh rame banget, kayak antrean main wahana di Disneyland. Kalau kata salah satu review di Tripadvisor, "Great sushi at a great price, but absurd wait times", bahahaha. Bener banget, sih.

Karena nggak mungkin kami bela-belain ikutan ngantre (karena bisa berjam-jam nunggunya, secara warungnya cilik banget), akhirnya kami ngacir aja, deh. Nggak ngerti, sih, apa yang bikin warung ini rame sampe segitunya. Kalau sama-sama berlokasi di dalam pasar, harusnya tingkat freshness sashiminya sama aja dong, ya.

Tapi yang penasaran pengen nyoba, nama warungnya Sushi Dai. Kami sempet ngira jangan-jangan ini cikal bakalnya Sushi Tei di Indonesia, tapi bukan, hahaha. Namanya mirip, sih.

Sushi Dai ada di deretan sini, tapi nggak kefoto. Kira-kira antreannya kayak gini, deh.

Habis sarapan maknyus, kami keliling di sekitar outer market. Pasar ini nggak rame sama orang lokal aja, tapi turisnya bejibun.

 Jajan gorengan ikan. Gurih dan nggak amis! 

Kami lewatin warung kopi ala-ala gitu. Banyak orang yang ngopi di dalem. Kebetulan kami belum ngopi pagi, mampir sebentar, deh. 


Bagian indoor banyak orang tua yang nongkrong, termasuk kami :P

Eh ternyata kopinya enak! Beda banget sama kopi ala Starbucks, kopinya berasa banget dan wanginya khas. Sayang nggak sempet foto kopinya, tapi biasa aja, sih penampakannya. Seperti biasa aku minum latte, suami selalu minum black. Oh ya, di sini kita bebas ngambil air putih dingin sendiri kalau abis ngopi. 

Sumpit-sumpit cantik buat makan sushi atau ramen. Aku beli beberapa buat oleh-oleh orangtua dan mertua. Mama dan mama mertuaku suka makan pake sumpit, seneng banget pas dibeliin ini. 

Selain sumpit, ada banyak toko yang jual peralatan dapur dan makan lainnya, kayak pisau khusus potong sashimi, kotak bento, mangkok ramen, dll. Aku beli sushi roll maker yang terbuat dari bambu itu, lho. Tapi sampai sekarang nggak pernah dipake, hauhahaha. Sempet pengen beli pisau sashimi juga, tapi buat apa ya, bok. Motongnya aja nggak bisa. 

Kami nggak lama-lama di Tsukiji, karena pasar tutup jam 12 siang. Jadi sebelum jam makan siang tiba, kami udah capcus.   

 ***

Kelar dari Tsukiji, kami mampir ke Shibuya lagi untuk lanjut petualangan kuliner. Kali ini kami pengen nyoba makan ramen lagi. Sebelum ke Jepang, aku banyak denger tentang satu warung ramen namanya Ichiran Ramen dari beberapa food bloggers dan insta foodies. Dan menurut Tripadvisor, Ichiran ini warung ramen yang paling direkomendasiin di Shibuya. 

Lagi-lagi karena top recommended restaurant, pas sampai di lokasi, ngantri lagi dong. Salah satu waiter mereka naik ke atas (karena restorannya musti turun ke bawah, dan saat itu antreannya sampai ke atas) nyamperin kami dan ngasih tau kalau kemungkinan antrean bakal lama. Kami bisa nunggu atau bisa ke gerai Ichiran satunya lagi yang nggak jauh dari sini. Karena udah agak lapar dan males nunggu, kami memutuskan untuk ke gerai satunya lagi aja. Kami pikir cari jalan sendiri aja di Google maps, eh siapa sangka si mbak waiter baik hati itu nawarin untuk nganterin kami ke gerai tersebut. Kami agak kaget, kok bisa sih dia mau anterin kami. Dan bener aja, dia langsung guide kami untuk ke gerai satunya. Menurut si mbak waiter nggak jauh, tapi menurut kami lumayan juga. Beneran dianterin banget, nih? 

Sampai di gerai satunya, eh ternyata ngantri juga, tapi memang nggak terlalu panjang. Mbak waiter-nya malah jadi nggak enak hati minta maaf kalau di sini harus ngantri juga. Yaampunnnn, mbak. Dianterin sampe sini aja udah bersyukur banget, masih pake minta maaf pula. Setelah kami bilang gapapa dan ngucapin banyak terima kasih juga, si mbak akhirnya balik ke gerai tadi. Sebelum balik, dia masih turun ke bawah terus ke atas mastiin kami kalau ngantrinya nggak lama. Terharu bingits, deh, sama si mbak ini. All out banget service-nya. Jempol! 

 Fotonya agak burem karena sambil jalan ngikutin si mbak yang di depan itu.

 Makan di bilik-bilik kecil gitu. Kece yah!

 Enak, sih, tapi aku masih lebih suka ramen yang di Asakusa itu. Mungkin ini kaldunya lebih bening dan kental aja. Cuman suami suka banget. 

Pengen nambah? Tinggal diisi aja form ini. 

Ciehhh, ada yang nambah, hihi.

***
Demikianlah penutupan dari seri travel kali ini *tembak cofetti*. Penutupannya kurang greget, ya? Biarkanlah, yang penting kelar! 

Total liburan ke Jepang kali ini sebelas hari. Ada beberapa tempat yang nggak ketulis di blog ini. Kami sempat pergi ke Ginza (dan nggak belanja apa-apa), hunting oleh-oleh berbau manga buat keponakan dan titipan Pokemon adek di Akihabara, terus balik lagi ke Harajuku khusus belanja oleh-oleh juga. Oh iya, sempat ke Shin-Okubo juga, Korean Town di Tokyo. Ngapain di Korean Town? Iseng aja. Eh malah kebeli dua album Korea, punyanya SNSD dan mini albumnya Taeyeon, hahaha. Terus dinner di restoran BBQ chicken ala Korea, leh juga. 

Sampai jumpa di seri travel berikutnya, ya! Adios, amigos. Stay awesome! 

Japan Travel Journal complete series: 
AndreasPlusJane Japan Travel Journal 01: Shibuya and Harajuku
AndreasPlusJane Japan Travel Journal 02: Tokyo Disneysea
AndreasPlusJane Japan Travel Journal 03: Osaka (Osaka Castle, Dotonburi)
AndreasPlusJane Japan Travel Journal 04: Kyoto (Fushimi Inari Temple, Nishiyama Ryokan experience, Musashi Sushi)
AndreasPlusJane Japan Travel Journal 05: Tokyo SkyTree and Asakusa (nearby)
AndreasPlusJane Japan Travel Journal 06: Mount Fuji Trip 
AndreasPlusJane Japan Travel Journal 07: Tsukiji Fish Market and Ichiran Ramen 

Comments

  1. Yay! Referensi makanan di Jepang nambah lagi! Thanks to you, kak! :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Hi there! Thank you for reading and commenting here. All comments are moderated, and I reply to your comments daily, so please check back. Nice to chat with you (:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts from this blog

10 Secrets from Ex-Starbucks Barista You Might Want To Know

Hidup Sederhana = Hidup Cukup

7 Things I've Learned as a New Mom (and the list goes on)