Keeping Up With The In-Laws

Lily Aldrin with her mom-in-law, Judy Eriksen. Yang nonton HIMYM pasti tau yaa hubungan mereka berdua ini, hihi *senyum grogi*

Jujur ya, aku nulis ini dengan perasaan yang SUPER deg-degan. Apa yang mau aku bagiin bukan sesuatu hal yang tabu atau apa. Cuma menurutku topik "mertua-menantu" ini sangat sensitif.

Aku nulis postingan ini dalam rangka perpindahan kami ke PIM (Pondok Indah Mertua), yang direncanakan (aminnn) setelah dedek bayi lahir.

Please note, aku nulis ini dengan alasan akhirnya aku berhasil berdamai dengan konsep pemikiranku selama ini tentang the in-laws. Nggak ada benci-bencian sama mertua, beneran kok. Aku bersyukur banget dengan keberadaan mertuaku as I'm grateful for having my husband in my life (:

Sekitar dua bulan yang lalu, aku mulai tegang karena tau bakal pindah ke rumah mertua sebentar lagi.

Dari sebelum menikah, kami emang udah tau akan tinggal di rumah mertua. Namun karena satu dan lain hal, kami harus tinggal di luar dulu sementara, which is good, karena kami baru aja menikah dan alangkah bagusnya bisa memulai rumah tangga secara mandiri.

Bisa ditebak, aku udah nyaman BANGET dengan kehidupan yang BERDUA aja dengan suami. Mau ngapain bebas, masak ini itu nggak ada yang komentar, bangun siang sekali-kali juga gapapah. Pokoknya nyaman banget deh. Jadi wajar dong, aku super tegang harus pindah dan hidup seatap sama mertua?

Dari hasil renungan pribadi, doa semalam suntuk, curhat sama teman yang berpengalaman dan nasihat dari papa konselor, akhirnya ada 5 poin yang bisa aku pelajari untuk bisa get along with the in-laws dan bekal untuk bisa survive tinggal bareng mertua.

1. Jangan jaga jarak sama mertua. 
Dulu aku pernah berpikiran, kalau aku jaga jarak sama mertua, mereka nggak akan 'masuk' ke wilayah pernikahan kami. Tapi setelah dipikir ulang, kok malah jadi terkesan dingin yaa. Padahal harusnya nggak boleh seperti itu. 

Bikin batasan itu harus (apalagi skenarionya tinggal bareng), tapi bukan dengan jaga jarak. Batasan dibuat supaya bisa respect each other, kalau jaga jarak sih rasanya kayak bikin tembok gitu ya. Jadi terlihat nggak mau peduli gitu. Walaupun bukan orangtua kandung, perhatian sama mertua itu tetap penting, gimana pun juga mereka orangtua suami kita kan.

2. Jadi diri sendiri. 
Ini udah alasan yang paling bener deh. Jadi diri sendiri bukan berarti semau gue ya. Maksudnya, nggak perlu lah dibuat-buat atau menjilat di depan mertua. Apa adanya aja. Toh pasangan menikah dengan kita karena kita apa adanya, kan? Biar mertua bisa melihat sendiri pasangan seperti apa yang udah dipilih anaknya. 

Karena aku menantu bontot, dulu aku sering memperhatikan gimana menantu lainnya bersikap di hadapan mertua. Ya kali ada yang bisa aku tiru, kan. Ternyata mereka punya cara sendiri untuk dekat sama mertua. Jadi aku pikir daripada meniru mereka, aku juga harus bisa pake caraku sendiri untuk 'pedekate' sama mertua. Misalnya, aku tau mertuaku senang diajak ngobrol pake bahasa Mandarin. Karena aku memang udah terbiasa komunikasi Mandarin sejak kecil dengan keluarga, ya aku praktekan aja dengan mertua. Alhasil sampai sekarang cuma aku yang paling sering diajak ngomong Mandarin. Ini salah satu cara untuk jadi diri sendiri di hadapan mertua. 

3. Berpikir positif selalu. 
Nggak jarang ketakutan aku dalam menghadapi mertua itu karena selalu berpikiran negatif. Karena ada beberapa kejadian di masa lalu (yang tentunya tidak bisa diceritakan di sini ya, sis!), aku punya penilaian pribadi dengan mertuaku. 

Kalau mau hidup damai aman tenteram dengan mertua, biarlah pikiran positif itu selalu hadir. Jangan punya pandangan negatif dulu, karena belum tentu itu terjadi. Kalau kata papa konselor, selow aja, nggak usah yang gimana-gimana banget. 

4. Nasihat "anggaplah mertua seperti orangtua sendiri" itu nggak selalu benar. 
Yang benar, anggaplah mertua seperti apa adanya mereka. Karena mertua itu orangtua pasangan kita, bukan orangtua kita. Mau bagaimana pun juga, mereka nggak akan pernah sama dengan orangtua kita. 

Orangtua aku bisa dibilang kayak sahabat dekat, tipikal orangtua favorit anak millennials gitu deh *ciehh*. Aku bisa bebas ber-"lo-gue" dengan mamaku, aku bisa bercanda sampai dorong-dorongan sama papaku. Hal-hal tersebut nggak mungkin aku lakukan dengan mertuaku dong, bisa disumpah menantu durhaka deh, hahaha. 

Aku harus bisa memperlakukan mertuaku seperti suami aku memperlakukan mereka. Sewajarnya aja, lah. Balik lagi ke poin sebelumnya, jadi diri sendiri aja. 

5. Jangan membuat pilihan untuk suami ketika menghadapi konflik.
"Sekarang kamu pilih, aku... atau orangtua kamu!" 

*kalimat diucapkan dengan mata berkilat-kilat sambil masukin baju-baju ke koper* 

Plis plis plis, jangan pernah ngucapin kalimat mematikan itu di depan suami kamu, hai para istri. 

Itu sama aja menyudutkan pasangan kita di depan jurang. Kalau dia emang mau, langsung terjun aja deh ke jurang daripada harus memilih.

Maunya sih jangan sampai ada konflik ya, tapi namanya konflik emang nggak bisa dihindari. Saat konflik terjadi, kita bisa minta tolong (secara baik-baik) dengan suami. Coba dijelaskan aja masalahnya apa, dan siapa tau suami bisa bantu untuk memecahkan masalahnya. Biasa konflik terjadi karena kesalahpahaman aja, mungkin cara penyampaian antara kita dengan mertua yang kurang nyambung.

Kalau dari pengalamanku pribadi, aku langsung kasih tau Andreas permasalahannya apa dan minta tolong doi yang ngomong ke orangtuanya. Karena kalau aku sendiri yang maju, udah pasti pake otot ngomongnya, hahaha. Daripada bencana datang, mendingan minta tolong suami aja, karena (biasanya) suami yang paling tau cara ngadepin orangtuanya. Dan dari pengalaman pribadi juga, puji Tuhan kelar sih masalahnya. 

Kesimpulannya, buat yang belum atau sudah menikah, menghadapi mertua itu memang agak tricky. Selama kita nggak berpikiran aneh terus, drama menantu vs mertua nggak bakal terjadi kok.

Biasanya kalau dapet calon suami yang baik, mudah-mudahan dapet mertua yang oke juga. Karena aku percaya pasangan yang baik itu karena buah dari orangtuanya juga kan? Sempurna mah nggak, kalau cocok ya puji Tuhan, nggak cocok... yah berdoa aja pasti dikasih yang terbaik sama Tuhan (:

Comments

  1. Kalo gue jadi elu, Jane, gue gak brani kasih tips apapun sebelum guenya sendiri beneran udah jalanin tinggal sama mertua. Hahahaha. Ibaratnya lu sekarang bikin ancang2 kali ya, tapi nanti tips2 benerannya gue yakin baru bakalan keluar beneran pas lu ud jalanin kehidupan bareng mertua di satu atap. Tiap mertua ada seninya masing2. Papa dan mama mertua, biarpun katanya sepaket, pasti beda. Yang jelas kalo serumah sm mertua saat pny anak itu, kalo bisa kuping dibikin tebel. Grandparents bs lebih extra protection ke grandkids. Good luck, and enjoy the ride.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salah judul ya kayaknya, harusnya how to get along with the in-laws kali ya hahahaha

      Sebenarnya kira-kira udah tau ci tinggal bareng nanti gimana, soalnya udah pernah simulasi walaupun cuma beberapa minggu. Dan soal udah punya anak nanti, yang cici bilang PERSIS sama yang temanku bilang LOOL

      Tapi terima kasih ya ci atas wejangannya. Plis doakan saya *finger crossed*

      *brb ganti judul* ((:

      Delete
  2. Satu lagi, tutup mata & telinga sama cerita horor mertua vs menantu. Serius deh, nggak ada gunanya dengerin hal seperti itu, yang ada malah bikin parno & prasangka buruk.

    Mertuaku paling baek sedunia dan pengertian banget. Malah lebih pengertian dari ibuku sendiri yang kadang masih ada ngototnya hahaha. Yang jelas aku bersyukur banget.

    Yang paling membantu itu buatku ya sering-sering ngobrol. Benar kata orang, tak kenal maka tak sayang. Kalo sering ngobrol kan paling nggak udah saling menyampaikan sudut pandang masing-masing.

    Great post!

    ReplyDelete
  3. another advice buat para single yang butuh wejangan :))
    we, the singles, need to learn something about this too, right? LOL

    another great post cii...

    ReplyDelete

Post a Comment

Hi there! Thank you for reading and commenting here. All comments are moderated, and I reply to your comments daily, so please check back. Nice to chat with you (:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts from this blog

10 Secrets from Ex-Starbucks Barista You Might Want To Know

Hidup Sederhana = Hidup Cukup

7 Things I've Learned as a New Mom (and the list goes on)