Birth Story: Arrival Of Joshua Emmanuel Yu

Walaupun udah hampir puluhan kali cerita soal lahirannya Josh ke teman-teman yang besuk di RS atau di rumah, tetap nggak afdol kalau nggak diceritain di blog. 

So here it is, the story of arrival of baby Joshua.

Disclaimer: Cerita di bawah ini tidak dibuat berlebihan, ya. Karena nggak pengen 'nakut-nakutin' moms-to-be yang baca ini. Sakit itu pasti, karena emang itu prosesnya. Tapi rasa sukacita waktu bayi kita lahir itu juga pasti kok (:


18 Agustus 2016

Ini hari keempat aku 'cuti' untuk nggak jaga toko bareng suami. Due date sih masih jauhhh, sekitar tanggal 5 September, tapi aku dan Andreas pede banget Josh bakal lahir di minggu ini atau bulan Agustus akhir. Jadi Andreas minta aku rest aja di rumah biar nggak terlalu capek untuk persiapan lahiran. 

Pas siang sebelum jam makan, tiba-tiba ngidam Cheetos puff yang keju itu lho. Sadis banget nggak ngidamnya? Seinget aku Cheetos puff emang udah diproduksi secara lokal, pernah liat di Giant kalau nggak salah. Kebetulan ada Indomaret di seberang tempat tinggal, kali aja ada sekalian jajan yang lain. 

EH TERNYATA BENERAN ADA DONG. Harus caps lock, soalnya pengen banget terus ketemu. Langsung beli dua bungkus!

Malamnya, tiba-tiba aku ngerasain nyeri di bagian pinggang ke bawah. Aku langsung asumsikan nyeri itu gara-gara makan Cheetos, hahahaha. Becanda deng. Udah pasti ini kontraksi. Nyerinya datang dan pergi, tapi temponya nggak konstan alias nggak teratur. Rasa nyerinya agak susah dideskripsikan, but it was not that painful. Aku dan Andreas langsung kegirangan karena kalau udah kontraksi begini, berarti Josh bentar lagi lahir, nggak mungkin bulan depan. Malam itu masih bisa tidur pules.

19 Agustus 2016

Besok paginya... lho kok sakitnya makin menjadi, nih? Rasa nyerinya mulai ngeselin, menjalar ke perut bagian bawah, pinggang terasa panas. Kebetulan obgyn aku ada jadwal praktek pagi itu, langsung deh aku minta Andreas untuk nggak ke toko dulu dan nemenin aku cek. Aku yakin banget Josh bakal lahir dalam waktu dekat, dan rasa sakit ini minimal udah pembukaan 1 lah. Padahal nggak ngerti juga, sih, pembukaan itu sakitnya macam apa.

Sampai di RS, rasa sakitnya nggak menghilang, malah sepertinya jarak kontraksinya udah teratur walaupun aku nggak hitung, Tapi setiap beberapa menit sekali, sakitnya itu muncul, beberapa detik kemudian hilang, dan seterusnya. Aku pun bikin 'pengumuman' di grup keluarga inti kalau aku udah mulai kontraksi dan lagi di RS untuk cek. Semua anggota keluarga excited, khususnya si Mama. Mama sama yakinnya dengan kami kalau Josh bakal lahir paling cepat hari ini atau besok.

Dan ketika nama aku dipanggil, masuklah aku ke ruangan si dokter. Dengan bangga aku 'laporan' ke dokter kalau aku siap lahiran karena udah mulai ngerasain kontraksi dari semalam. Dokter pun ikutan senang, beliau bilang aku tetap harus di USG dulu dan akan periksa dalam.

Periksa dalam...

WAH... aku baru inget kalau ada yang namanya prosedur periksa dalam!

Rasa deg-degan campur senang sebelumnya berubah murni deg-degan aja! Konon katanya, periksa dalam itu rasanya super nyebelin, hahahaha. Tapi yaudalah, karena berikutnya akan periksa dalam terus untuk cek jumlah pembukaan. So I surrender.

Nggak perlu tanya rasanya apa pas diperiksa dalam, yang pasti posisi kaki aku superrr awkward. Tips buat calon mama yaaa, ketika periksa dalam rileks aja dan tarik nafas dalam-dalam. Karena kalau kita ngelawan, kita bakal makin kesel sama si dokter. Jadi lebih baik berserah aja.

Setelah periksa dalam, aku berharap dokter bilang udah pembukaan 1. Namun ternyata, dokter bilang belum ada pembukaan apapun, dan tidak ada lendir atau darah yang keluar.

Lagi-lagi ya... nggak usah tanya perasaan aku kayak apa pas dokter bilang gitu. Keselnya dobel, sis! Mesti sakit yang seperti apa baru ada pembukaan T_T

Akhirnya dokter cuma mengingatkan UGD RS 24 jam, jadi kalau aku merasakan sakit yang semakin intens, langsung cus aja. Dan dokter nggak bilang apa-apa tuh kapan lahirannya. Emang kami aja kali ya yang kepedean.

Pulang ke rumah beraktifitas seperti biasa, suami berangkat ke toko dan masih sempat nge-gym malamnya.

Di hari yang sama, jam setengah enam sore

Nah, sakitnya makin terasa setelah makan malam. Pain level-nya semakin bertambah. Pinggangku sakit luar biasa. Iya, luar biasa, lho. Keinget tadi pagi dokter bilang belum ada pembukaan, sekarang aku YAKIN ini pasti udah pembukaan 1. Andreas nawarin mau ke RS atau nggak, aku bilang nggak usah, karena percuma kalau ke RS dan pas dicek belum ada kemajuan apapun. Sebenarnya aku lebih males mesti melewati prosedur cek dalam itu lagi. Aku bilang tunggu rasa sakitnya benar-benar nggak bisa ditoleransi, baru berangkat ke RS.

Ketika siap tidur, aku sama sekali nggak bisa tidur. Ini rasa sakitnya makin jadi-jadian, aku bahkan nggak bisa berbaring tenang. Aku sampai berlutut di tepi ranjang nahan sakit. Andreas berkali-kali nawarin untuk ke RS, tapi aku tolak. Galau banget sebenarnya, karena ya alasan itu tadi. Tapi dengan rasa sakit kayak gini, nggak mungkin kalau belum ada pembukaan.

Akhirnya aku telepon Mama, waktu itu udah jam sebelas kurang, waktu di Bali udah jam dua belas. Aku coba deskripsiin rasa sakitnya ke Mama sambil meringis di dekat jendela. Mama bilang mau nunggu apa lagi, langsung aja ke RS, itu udah kontraksi dan pasti mau melahirkan. Lah, ini siapa dokternya, ya? Hahaha.

Ya udah, daripada nahan sakit tanpa tahu tindakan selanjutnya, akhirnya kami berangkat ke RS, TANPA dandan dulu.

Cita-cita untuk melahirkan cantik gagal deh. Boro-boro mau gambar alis atau nyatok rambut, jalan aja udah males, pengen ngesot aja rasanya. Ibu-ibu hot di Instagram itu gimana, ya, bisa tetap kece pas lahiran. *lirik Chelsea Olivia yang baru lahiran kemarin* 

Di UGD RS

Sampai di RS, aku nggak langsung masuk ke ruang UGD, sempat disuruh nunggu beberapa menit. Waktu itu rasa sakitnya udah kayak mau BAB, tapi nggak persis juga, cuma rasanya kayak gitu. Aku sampai ngibrit ke toilet takut beneran mules, namun ternyata nggak. Terus aku inget salah satu tanda mau lahiran selain kontraksi, keluarnya flek atau darah. Pas dicek, ternyata nggak ada juga.

Balik dari toilet, ternyata namaku udah dipanggil. Dengan perasaan super nggak karuan, aku masuk ke ruangan UGD dan siap dicek oleh bidan. Denger-denger, bidan senior di RS ini cukup galak, apalagi ke bumil yang manja. Jadi aku nggak mau kelihatan manja, cukup kasih tahu aja kalau aku udah ngerasain sakit ini dari pagi, tapi dicek dokter, belum ada pembukaan. Pas bilang pinggang aku sakit banget, bidannya cuma komentar, "Masa?" dengan nada paling dingin. Rasanya pengen aku geplak, dan langsung pengen nangis karena kalau beneran aku melahirkan malam ini juga, si bidan ini lah yang akan menangani aku. Biar Tuhan yang beri aku kekuatan.  

Dan sekali lagi, buibu, setelah melewati prosedur ngeselin itu, bidannya ngomong: "Udah pembukaan 1 ya, Bu. Saya rasa, sih, bisa melahirkan pagi ini."

HOREEEE!

Tapi langsung meringis lagi nahan sakit. Rasa senang mau ketemu Josh udah agak ketutup sama rasa sakitnya. Dan apa kata bidannya barusan, aku bakal melahirkan pagi ini banget, nih?

Setelah diskusi sama suami mau pulang atau langsung nginep aja di RS, kami memutuskan untuk nginep aja. Karena biar kalau ada apa-apa, bisa langsung ditangani. Daripada di rumah galau nggak jelas. Karena sebelumnya udah booking kamar, suami diminta untuk mengurus administrasi supaya bisa buka kamar. Sementara aku dibawa ke ruang persalinan untuk CTG dengan kursi roda. Untuk pertama kalinya aku duduk di kursi roda dan aku benar-benar ngerasa udah nggak berdaya sampai harus pakai kursi roda, huhu.

Di Ruang Persalinan

Pas lagi CTG, aku dikejutkan oleh kedatangan Bapak dan Ibu DL (DATE Leader. DATE adalah sebutan community cell dari JPCC), Kak Ocen dan Kak Ellen. Ternyata Andreas udah laporan dan minta dukungan doa kalau aku udah masuk RS. Nggak disangka mereka datang subuh-subuh (bareng anak mereka pula!) untuk jenguk kami.

Kak Ellen masuk ke ruang persalinan dan nemenin aku selama CTG. Aku masih bisa ngobrol cukup tenang sambil nahan kontraksi. Sesekali aku bener-bener diem karena nahan sakit, Kak Ellen yang bantu soothing aku dengan mengusap-usap pinggang aku. Thank you banget, Kak!

Setelah CTG, aku masih berbaring sebentar di ruang persalinan sebelum pindah ke kamar yang udah tersedia. Aku milih untuk stay di kamar aja biar bisa lebih rileks, daripada harus ngendon di ruang bersalin. Malah saat itu ada ibu lainnya yang datang setelah aku dan mau melahirkan juga. Daripada jiper duluan nanti dengar si ibu mengejan, mending di kamar aja deh.

Oh ya, sebelum pindah ke kamar, kami doa bareng berempat. Selesai berdoa, aku lumayan lebih tenang dan siap istirahat ngumpulin energi untuk lahiran nanti. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul setengah satu dini hari.


Setelah Kak Ocen dan Kak Ellen pulang, aku dan Andreas mencoba untuk tidur. Aku berusaha banget untuk tidur, tapi nggak bisa. Posisiku serba salah di atas ranjang. Aku juga bolak-balik ke kamar mandi karena ada sensasi mau BAB, tapi itu cuma mules kontraksi. Karena aku gelisah, Andreas juga nggak bisa tidur. Dia berusaha menenangkan aku yang udah mulai nggak jelas. Aku pengen banget bisa tidur untuk ngumpulin tenaga, tapi rasa sakit ini mengalahkan segalanya.

Dan di sini lah drama dimulai.

Kontraksi yang aku rasakan makin intens, makin sulit buat dikendalikan hanya dalam beberapa jam. Latihan nafas ala senam hamil pun dipraktekan tapi nggak begitu nolong. Nggak tahu ada berapa macam pose aku praktekin buat ngurangin rasa sakitnya. Mulai dari nungging, jongkok, sampai  akhirnya berlutut di lantai nggak berdaya. Sampai puncaknya aku WA Mama, bilang mau epidural aja, yang langsung dilarang keras, huhu. Di detik ini, Andreas yang mukanya kasihan banget karena nggak tega liat istrinya begini, nawarin untuk manggil bidan. Aku nolak, karena sebelum pindah ke kamar inap, si bidan galak itu udah mesenin jangan panggil-panggil dia terus kalau sakit. Kan bete banget digituin. Tapi Andreas insist untuk manggil bantuan karena liat aku udah menggeliat nggak jelas di lantai. 

Setelah beberapa menit, akhirnya seorang suster masuk kamar dan menemukan enci-enci dengan cepolan yang literally really messy, lemah lunglai di pinggir sofa bed. Aku bilang sama suster ini udah sakit banget, bawa aku sajalah ke ruang persalinan. Dan untuk kedua kalinya aku dibawa dengan kursi roda, padahal jarak kamar ke ruang persalinan deket banget. Cuma kali ini aku benar-benar nggak mampu jalan.

Sampai di ruang bersalin, ternyata si bidan lagi tindakan ibu yang tadi mau melahirkan. Aku pun disuruh tunggu di kamar bersalin terpisah, sendirian, Andreas nggak boleh masuk karena ya itu sedang ada tindakan.

Di kamar bersalin aku semakin menggila. Yang aku inget, sensasi pengen BAB itu datang terus dan aku langsung ngibrit ke toilet di ruangan yang sama. Akhirnya aku cuma pipis, dan pas nyeka, jeng jeng jeng... ternyata udah keluar darah cukup banyak. Antara senang dan takut, ini berarti aku udah pembukaan lagi, minimal 3 atau 4 lah. Aku keluar kamar dan laporan sama asisten bidan kalau aku udah keluar darah. Lagi-lagi aku cuma disuruh nunggu, karena mereka sibuk sama si ibu yang mau lahiran itu. Ya iya juga sih, aku kan lagi nunggu pembukaan aja, mau ditangani seperti apa, kan?

Sambil nunggu aku coba untuk latihan nafas buat persiapan ngejan nanti. Ternyata memang in real labor, latihan di senam hamil itu nggak ada apa-apanya. Aku makin nggak bisa mendeskripsikan rasa sakit di level ini. Rasa sakit mau melahirkan itu benar-benar nggak bisa disamakan dengan rasa sakit apapun.

Nggak berapa lama, aku dengar samar-samar suara, "Ayooo, bu, pushhh, pushhh" dari luar. Ditambah ada suara ngejan si ibu yang mau ngeluarin anaknya.

OMG... si ibu tadi itu datang belakangan dari gue, dan dia udah push push push???

Ini kenapa aku nolak untuk stay di kamar bersalin, sendirian pula. Mental sempet drop karena si ibu itu udah lahiran, karena beberapa menit setelahnya, suara "oekkk oekkk" pun terdengar. Mencoba menghibur diri, mungkin si ibu itu lahiran anak kedua, jadi lebih cepat prosesnya.

INI ANDREAS UDAH BOLEH MASUK BELOM YA?

Emosi aku udah nggak bisa dikontrol. Lucunya, walaupun sakit banget, aku nggak nangis. Cuma pengen teriak aja, tapi aku belum bisa teriak. Aku cuma pengen suami aku di sini sekarang.

Aku sebut-sebut ayat di Filipi 4:13 untuk self-calming, tapi... kok nggak ngefek juga ya, Tuhan? T__T
Orang-orang bilang kalau lagi kontraksi itu jangan fokus ke sakitnya, fokus ke dede bayinya aja yang bentar lagi mau keluar. Jujur ya, gimana jangan fokus ke sakitnya, wong itu yang menguasai seluruh jiwa raga ini.

Sekitar jam 3 subuh 

Bidan akhirnya masuk untuk mengecek pembukaan. And guess what, aku sudah pembukaan 4! Kalau udah masuk pembukaan 4, biasanya akan cepat ke proses pembukaan berikutnya.

Mulai pembukaan 4 dan seterusnya, aku kayaknya setengah sadar. Yang aku inget, aku mulai teriak-teriak, berusaha ngejan tapi langsung diomelin bidan karena belum saatnya. Aku mulai diinfus, karena takut kekurangan cairan. Aku sempat dipaksa makan tapi aku nggak mau. Padahal terakhir makan ya sore kemarin, setengah enam sore itu. Aku udah nggak konsen untuk melakukan hal lain. Akhirnya Andreas bantu aku untuk minum air putih, susu, teh manis secara berturut pake sedotan. Seenggaknya aku harus isi tenaga, or else, I don't have enough energy for pushing. 

Oh ya, aku masih sempat dengar bidan bilang aku mungkin melahirkan paling cepat sekitar jam 7 pagi.

Entah udah di pembukaan berapa, papa mama mertua datang dan ikutan nunggu di ruang bersalin. Aku masih teriak-teriak kesakitan dan bilang ke mereka ini sakit banget, aku udah nggak tahan. Tangannya Andreas udah kebal kali aku remes-remes dari subuh tadi.

20 Agustus, pagi hari, sekitar jam 7 pagi 

Obgyn aku akhirnya datang, dan ketika beliau lihat aku udah mulai nyoba ngeden sendiri, aku langsung diomelin lagi. Aku nggak boleh sembarangan ngeden tanpa instruksi, karena (1) jaitannya entar bakal banyak! (2) kepala dede bayi nggak bisa turun, yang ada malah nyangkut di atas T_T. Beneran, deh, di saat itu aku mikir para mama jaman dulu yang anaknya selusin, harus ngelewatin kayak gini sebanyak dua belas kali??

Ketika dokter datang, itu jadi alarm di satu ruangan kalau aku siap lahiran.

THIS IS IT. 

Aku mulai disuruh ambil posisi, kaki dibuka selebar-lebarnya, dan tanganku refleks nyari tangannya Andreas lagi untuk pegangan. Antara terharu, kesakitan, senang, deg-degan semua campur jadi satu. Bentar lagi ketemu Josh!

Namun ternyata... Tuhan berencana lain. (atau aku sebenarnya yang 'merubah' rencana-Nya?)

Setelah mengejan 20 menit, kepala Josh nggak turun juga, sementara aku makin lemas dan aku salah ngejan. Suster sampai pasang selang oksigen untuk bantu nafas. Karena kalau sampai oksigen aku berkurang, Josh dalam keadaan bahaya. Nggak berapa lama, aku mendengar ucapan dokter yang langsung nampar aku.

"Ibu, tolong dengar instruksi kami, ya. Ibu harus bisa ngejan dengan benar, kasihan bayi ibu. Saya cuma bisa kasih dua kali ngejan lagi, ini udah hampir 30 menit. Kalau sampai dua kali nggak bisa juga, terpaksa saya lakukan tindakan emergency c-section." 

Oh Tuhan Yesus. Aku sama sekali nggak prepare untuk operasi. Selama hamil, aku positif banget bisa lahiran secara natural, bahkan sampai aku sempat 'divonis' kemungkinan nggak bisa lahir normal karena mata minus, aku masih optimis bisa lahir normal.

Ultimatum dokter tadi itu benar-benar bikin aku sedih.

Dan di saat aku mencoba ngejan sekuat tenaga lagi, still... nothing happen down there.

Dokter nggak mau nunggu lagi, beliau langsung bilang ke Andreas untuk diskusi cepat untuk melakukan tindakan operasi, karena mereka harus segera menyiapkan tim dokternya terlebih dahulu. Kalau sudah, Andreas harus siap tandatangan formulir setuju c-section.

I was really bummed out. Aku sempat menyalahkan diri sendiri kenapa nggak bisa ngejan. Aku juga menyalahkan diri sendiri karena udah membuat Josh 'nunggu' lama di bawah sana. Dia pasti udah kesakitan juga karena aku nggak bisa bantu dia untuk keluar.

Intinya, aku sangat menyesal kenapa nggak bisa melahirkan secara normal.

Ketika dokter keluar ruangan, aku langsung say sorry ke Andreas kalau aku nggak kuat lagi. Aku masih sempat mikirin biaya yang harus dikeluarkan bakal over budget. Aku makin sedih ketika aku liat Andreas nangis saat itu sambil megangin tanganku. Dia cuma bilang, "Nggak usah minta maaf dan nggak usah mikir yang lain. Sekarang yang penting Josh dan kamu bisa selamat. Operasi aja, ya?".

If the c-section is the best way for both of us, so it is. 

Dengan cepat suster memasang kateter urin dan... dicukur. Nggak usah tanya ya yang dicukur apaan, LOL.

Note ya, ini aku masih ngerasain kontraksi yang sakitnya ajubilesjhd#*$^!!*#*!! Suster terus mengingatkan untuk atur pernafasan dan JANGAN ngejan. Jadi sesungguhnya, rasa sakitnya itu karena nggak boleh ngejan. Kalau diingat lagi, aku jadi takut ke toilet untuk ngeden, hiks.

Long story short (ini aja udah long banget yaa. Please bear with me, namanya juga birth story), aku dibopong ke ranjang beroda dan langsung cus ke ruang operasi. Sebelum masuk ruang operasi, baju piyamaku yang udah super lusuh dan pastinya bau keringat, diganti dengan baju operasi. Dan di saat itu aku baru sadar, aku masuk ke ruang operasi, sendirian. Aku bahkan nggak sempat ngomong sepatah dua kata ke Andreas. Ini benar-benar menakutkan buat aku. Semuanya di luar dugaan.

Masuk ruang operasi, aku langsung menggigil. Dingin banget! Tapi ruang operasi ini nggak semenakutkan yang aku kira sebelumnya. Ruangannya putih banget, terang banget, dan ada lagu Justin Bieber sedang berkumandang. Ada beberapa dokter lalu lalang di sekitarku, dan akhirnya aku siap dibius oleh dokter anestesi. Karena aku udah melalui rasa sakit yang ruaaaaar biasa, rasa sakit ketika dibius itu nggak berasa apapun. Selesai dibius, sakit kontraksi hilang dalam sekejap, dan aku berasa surgaaaa banget!

Aku disuruh berbaring, dan operasi akan segera dimulai. Aku sempat nanya obgyn-ku yang lagi duduk di sebelahku. "Dok, sakit nggak?". Obgyn kesayanganku itu cuma senyum manis dan bilang, "Ibu doa aja, ya."

Selama proses operasi, aku masih sadar dan nggak tertidur. Masih sempat mendengar perbincangan para dokter soal makanan kaki lama di jalan mana gitu (nggak hafal jalanan di Bogor).

Dan nggak beberapa lama, salah satu dokter bilang, "Ibu, ini mau ngeluarin dede bayinya ya." Tiba-tiba badan aku ditekan kuat dan digoyang-goyang oleh semua dokter. Jadi begini caranya mau mengeluarkan bayi secara sesar ya??

And before I know it... I heard the loudest cry ever in the room. Joshua was born at 08:48 am. Praise the Lord! 

Setelah itu aku masih bisa memperhatikan Josh yang sedang diperiksa oleh suster dan dokter anak. Sebelum Josh dibawa keluar untuk diobservasi, suster meletakkan badan mungilnya di atas dada aku. He's so cute, oh my God. Yang aku lihat pertama adalah matanya. Yes, he has his father's eyes, hahaha. UPDATE: ternyata matanya lebih besar daripada kami berdua, lho!

Selama proses penjahitan, aku tertidur pulas. Capek banget, men. Dan ini pasti efek obat bius.

Setelah selesai semuanya, aku dipindahkan ke ruang pemulihan (kalau nggak salah) sebelum ke kamar inap. Anggota keluarga yang pertama aku lihat setelah operasi, yaitu Andreas. He looked so exhausted, karena nggak tidur semalaman dan badan remuk gara-gara aku selama di ruang persalinan. But he looks glowing at the same time. He is officially a father to our son. He walked towards me and I hugged him, cried. Aku nggak nangis saat Josh dikeluarkan dari perutku, tapi aku nangis saat meluk Andreas. Buatku dia luar biasa, nggak pernah ngeluh kalau aku minta tolong ini itu selama hamil, dan sampai akhirnya aku nggak berhasil lahiran normal, dia tetap support aku. Dia juga yang ingetin aku, jangan define yourself as a good mom or not dari cara lahiran. Mau normal atau operasi, semua ibu harus melalui proses yang luar biasa untuk mengantar seorang buah hati.

Aihh, mau nangis lagi pas ngetik ini. Dan beneran nangis pas liat si ciyik lagi bobo nyenyak di sebelah. Being a mom indeed a special feeling (':  

So, Josh... if someday you find Mom's blog and read this post, one thing you have to know that Mom loves you so much. Makasih ya udah betah tinggal di perut selama 38 minggu, dan semoga tetap betah sampai kamu baca postingan ini. I love you to the moon and back! 

Bentar lagi sebulan ya, nak (:

Comments

  1. gosh kak, aku deg deg an bacanya >< walaupun rasanya kk gk nakut2in, kok aku tetep takut yah? hahaha. But this is calming. and one thing I wanna say, To God Be The Glory yah :') Semoga kalian selalu bahagia & diberkati dalam Tuhan kak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. setelah baca ulang komenku, kok it seems like I'm ready to be a mom yah. ahahah. still need to find the man koks kak :')

      Delete
    2. Hahaha takut mah wajar kok, but we have to embrace it!

      Makasih ya buat doanya. God bless you too and good luck for meeting the one *winks*

      Delete
  2. Ah Jane, aku ikutan terharu baca birth story-mu. Baby Joshua is so cute, semoga jadi anak baik, pintar dan selalu disayang sama semua yaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you for reading, Eya! Aminnn, makasih ya (:

      Delete
  3. Hallo Jane, been a silent reader for so long. Hehehe.

    Congrats ya! Your baby is so cute.
    Trus iya, jangan nyalahin diri sendiri karena gak berhasil lahiran normal. Still, you are his mom. His best mom.
    Lagipula ya, kalo uda kesakitan gitu, hilang blas kog semua teori cara ngejan, cara napas, dll. ahahahaha.

    semangat yaaa!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Petris!

      Thank you so much ya! And yes, teori selalu lebih mudah dibanding saat harus benar" melakukannya hahaha

      Thanks for reading my blog too! (:

      Delete
  4. Hi Jane, baru baca postingan ini. ikut deg2an bacanya. setelah selesai cuma mikir, 'untung dulu gw milih operasi dari awal' haha. gw cemen banget sih ga berani lahiran normal, mau dihina2 orang lain juga bodo amat deh. tapi bersyukur ya akhirnya Josh lahir normal dan sehat2.. ga masalah mau gimana lahirannya, yg penting mama dan baby selamat ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha gapapa ci, memang kontraksi itu sakitnya luar binasa! Kalau nanti hamil lagi, aku juga mau langsung operasi aja, nggak mau ambil risiko untuk normal lagi. Salut sama maama-mama jaman dulu ya yang belum kenal operasi yah. Bisa lahirin sampai selusin anak hahaha.

      Iya, no matter how we deliver our baby, yang penting sehat dan selamat yah (:

      Delete

Post a Comment

Hi there! Thank you for reading and commenting here. All comments are moderated, and I reply to your comments daily, so please check back. Nice to chat with you (:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts from this blog

10 Secrets from Ex-Starbucks Barista You Might Want To Know

Hidup Sederhana = Hidup Cukup

7 Things I've Learned as a New Mom (and the list goes on)