Setahun Menikah

Iya tau kok, udah lewat dua bulan anniversary-nya, cuma abis liat blog ibu-ibu lainnya yang ngebahas married life-nya setiap anniversary, rasanya sayang kalo nggak ikutan bahas di blog pribadi. So, here you go. 


Aku memang jarang cerita tentang hubungan aku dengan Andreas; gimana kami ketemu, kenalannya gimana, terus pacaran berapa lama sampai akhirnya menikah terus punya anak. Aku mulai sebut-sebut nama Andreas saat kami mulai persiapan merit awal tahun lalu. Tapiii, nanti aku bakal bikin postingan ala-ala "Meet My Boyfriend/Husband Tag" di Youtube, tapi versi tulisan. So you can know us, especially the husband more better, since I mention him a lot here. Mungkin minta doi nyumbang nulis juga di sini? (well, good luck for that, Jane!).

Aku agak bingung gimana memulai cerita pernikahan kami, tapi aku mau cerita satu hal. I tell no one about this, but I have second thought while we were planning our wedding. 

Jengg jenggg... what's second thought? 

Ada satu episode di "How I Met Your Mother" yang berjudul  Best Prom Ever (season 1), di akhir ceritanya ada scene di mana Robin nanya ke Lily, is she having a second thought (about marrying Marshall) or not. Terus Lily jawab iya, tapi lebih ke dirinya sendiri, bukan terhadap Marshall. Lily ragu untuk menikah karena dia ngerasa belum mencapai semua planning mimpinya. Dia takut setelah menikah, dia akan ngerasa "tied down" dan nggak bisa doing something she wanted. 

Aku nggak tau, sih, ini terjadi di setiap brides-to-be atau emang cuma salah satu wedding jitter, tapi aku ngerasain hal yang sama persis kayak Lily. 

Tahun 2014, aku dan Andreas udah mulai ngomongin soal rencana pernikahan. Mungkin Andreas sendiri nggak tau—until he reads this post—kalo aku suka sebel dan berusaha ngelak kalo udah ngomongin ini. Sebelnya, karena waktu itu dia selalu minta aku untuk ke Bogor untuk bantuin dia di usahanya, padahal dia tau banget aku pun punya kerjaan dan harus bantu ngejalanin usaha keluarga juga di Bali. Walaupun itu alasan yang jujur, alasan lain yang lebih jujur, aku takut kalo ke Bogor nanti, aku semakin dekat dengan kenyataan bahwa kami akan segera menikah dan aku bakal stuck bantuin Andreas di usahanya.

I have my own dream planning also like Lily's. Aku mikir waktu itu, kalo aku menikah nanti HANYA untuk bantuin Andreas di usahanya. Aku sampe ngomong, "Kalo kita nikah cuma untuk bantu jaga usaha kamu, status aku sama aja dengan pegawai-pegawai kamu." Tentu aja ngomongnya dalem ati, karena kalo diungkapkan saat itu, mungkin kami nggak sampai di hari ini hahaha. Tapi akhirnya diungkapkan juga, sih, setelah nikah, tapi jadi jokes belaka aja :P 

Tapi Andreas janji satu hal, setelah nikah nanti dia nggak akan membatasi aku for doing anything I want to do, dengan batasan-batasan wajar, yah. Mau nulis, silakan. Mau ngeblog, silakan. Mau ngajar Mandarin lagi, boleh aja. Selama itu positif dan bikin aku hepi, kenapa nggak.

Setahun menikah, Andreas still keeping his promise dan dia juga selalu percaya aku bisa melakukan lebih. Bahkan di saat aku hamil dan pengen jaga anak sendiri di rumah, dia yang ngingetin selalu untuk tetep produktif. Tahun ini aku jadi makin rajin blogging, bisa nulis artikel di web lain, bahkan tulisan honeymoon trip kami dimuat di sebuah majalah in-flight (belum dikirimin nih majalahnya, kalo udah nanti aku pamer yaaa di sini :P). I can't do all that things if he doesn't believe in me. Sepele, sih, yah, tapi itu yang bikin aku bersyukur dan menghargai Andreas lebih lagi.

Setahun menikah, dia juga masih setia being a nice and gentle guy yang aku kenal.

Di saat aku baby blues yang cukup menyedihkan—ngerasa asing di rumah saat pulang dari RS, harus dealing with some issues during sit-moon period—, Andreas ada untuk nemenin and always try to make up my mind kalo aku mulai mikir yang aneh-aneh (you know, newbie mom and her crazy hormones). Yang nggak bisa dilupain, waktu dia nemenin aku nahan sakit kontraksi sampai lahiran. Waktu dokter dateng dan aku siap pushing, dia ditanyain bidan takut darah atau nggak, karena kalo takut lebih baik nggak usah nemenin. Aku tau Andreas takut darah, tapi dia mau-mau aja nemenin aku. Padahal diancem sama bidan galak kalo tiba-tiba pingsan, bakal kena tonjok. Wahh, nggak liat otot lengan suami saya, bu bidan? Tentunya ini becanda ya, walaupun galaknya beneran, sih hahaha

Aku pun juga belajar melakukan hal yang sama yang udah dia lakukan ke aku. Aku belajar terima hobi dia di dunia gym, dengerin dia kalo lagi semangat ngomongin hobinya dengan istilah-istilah yang biasanya aku nggak ngerti, dan nyenengin 'perutnya' dengan belajar masak makanan favorit dia. Aku nggak mau cuma dia yang 'kerja sendiri' di pernikahan kami. Intinya in a marriage masing-masing pasangan harus berusaha to make it works, kan.

Soal bantuin di usahanya, ternyata cukup menyenangkan, sih (tapi kalo disuruh balik full time lagi, aku nggak mau yah hahaha). Selama ngerjain usaha bareng, aku bisa kontribusi beberapa hal, walaupun tadinya aku nggak ngerti sama sekali di bidang usahanya. Sekarang ini, kalo dia nanya ide untuk usahanya, ya aku coba untuk kasih kritik dan saran juga. Mau gimanapun juga, usahanya juga sumber makanan kami sekeluarga, aku juga nggak bisa cuek banget.

Kalo ditanya ada berantemnya, nggak, selama setahun ini? Pastinya ada, but it's not like a huge fight. Biasanya, sih, cuma gara-gara saling berargumen aja terus nggak ada yang mau ngalah (gue, sih, yang nggak mau ngalah LOL).

Sebenernya kalo mau diceritain lebih detil, banyak yang udah terjadi selama setahun ini, di samping penambahan member baru di keluarga inti kami. Kesimpulannya, tahun ini kami banyak belajar soal saling menghargai. Karena kalo kami menikah hanya mikirin kepentingan diri sendiri, bubar jalan grakk, deh. Kayak yang pernah aku bilang berulang kali, nikah itu udah harga mati, saling memperjuangkan itu udah PR seumur hidup. Dan pastinya, kami tetep sepakat kalo Tuhan Yesus satu-satunya leader rumah tangga kami. Itu juga udah harga mati (:

Nggak sabar untuk tahun depan, tahun depannya lagi dan tahun-tahun berikutnya. I hope we can be better and better. Cheers for our marriage! 


P.S. Cek di sini buat yang pengen tau dua bulan lalu anniversary-an kami ngapain (:

Comments

Post a Comment

Hi there! Thank you for reading and commenting here. All comments are moderated, and I reply to your comments daily, so please check back. Nice to chat with you (:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts from this blog

10 Secrets from Ex-Starbucks Barista You Might Want To Know

Hidup Sederhana = Hidup Cukup

7 Things I've Learned as a New Mom (and the list goes on)