Serba-Serbi Menikah di Bali (yang katanya mahal)


Apa yang terlintas di benak kalian kalo mendengar ada yang nikah di Bali?

"Ah, pasti mahal banget deh budget-nya."

"Wih, keren banget nikah di Bali! Pasti mahal yah!"

"Nikah di Bali? Kayak artis aja, deh."

Ketiga jawaban di atas itu yang kami dengar begitu kami memutuskan untuk melangsungkan pemberkatan nikah di Bali.

Orang-orang berasumsi menikah di Bali itu mahal, karena memang Bali itu terkenal dengan destinasi yang cukup eksklusif. Kilas balik 10-15 tahun yang lalu, mungkin Bali masih terkenal dengan best honeymoon destination (sampai sekarang juga sih ya, bok). Kalau untuk melangsungkan pernikahan, kayaknya itu buat kalangan artis aja, deh.

Tapi sekarang malah makin banyak yang pengen nikah di Bali. Nggak sedikit juga anak muda yang rela nabung supaya bisa nikah di Bali.

Jadi sebenarnya, nikah di Bali itu beneran mahal nggak, sih? Kalo budget gue (katakanlah) di bawah 100 juta, memungkin nggak?

Mungkin aja donggg.

Nah, buat yang berencana atau sekedar ingin tau tentang menikah di Bali, berikut ada beberapa poin yang bisa aku bagikan berdasarkan pengalaman pribadi. Semoga membantu ya! 

1. Kenapa mau di Bali? 

Pasti ada alasanya dong kenapa pengen nikah di Bali. Banyak alasan kenapa Bali menjadi destinasi wedding favorit. Kalian boleh tanya ke 10 calon pengantin, kalian akan mendapat 10 alasan yang berbeda.

Alasan kami sendiri karena waktu itu aku sekeluarga resmi menetap di Bali. Akan terasa spesial kalo kami menggelar wedding di Bali. Orangtuaku sendiri rikues, kalau boleh kami menyelanggarakan acara pernikahannya di Bali. Tentu saja ini ide yang brilian!

TAPIII... kami nggak langsung setuju. Karena sama dengan jawaban-jawaban di atas, kami langsung berasa harus keluar biaya besar untuk nikah di Bali. Apalagi kami (mau tak mau) harus menyelenggarakan resepsi di Jakarta juga, dan itu pasti butuh biaya yang lebih banyak lagi. Namun ternyata, biaya masih bisa disesuaikan dengan beberapa hal kok. Cusss poin selanjutnya! 

2. Tentukan konsep pernikahan yang diinginkan

Sebelum susun budget, nyari venue, booking wedding planner dan sebagainya, menentukan konsep itu paling penting. Mau pernikahan yang macam mana? Private intimate wedding, hanya anggota keluarga inti dan beberapa teman dekat? Grand wedding yang akan mengundang banyak tamu?

Untuk konsep grand wedding, pasti akan mahal. Secara dari kuantiti undangan pasti akan banyak, kan? Minimal sebar 500 undangan. Jadi kalau ingin menikah di Bali tapi hemat budget, lupakan konsep ini. 

Kami sendiri waktu itu memilih konsep yang pertama untuk pernikahan di Bali. Karena mengambil konsep private party, perintilan yang kami butuhkan nggak banyak. Kami hanya butuh budget lebih untuk lunch after party dengan mengundang beberapa teman di gereja setempat.

Setelah konsep pernikahan ditentukan, tinggal membuat anggaran budget sesuai keinginan deh.

3. Tentang memilih vendor pernikahan: Jangan memaksakan budget!

Perlu diketahui, segala sesuatu di Bali itu terkadang jauh lebih mahal daripada di Jakarta. Makanan aja mihil sekali, apalagi vendor wedding

Nah, biasanya acara pernikahan yang dibilang mahal atau murah itu dilihat dari selera pengantin dalam memilih vendor.

Jujur kalo soal selera, aku seleranya selangit, padahal doku pas-pasan HAHAHA.

Beneran lho, ini terjadi saat aku harus milih vendor wedding gown dan MUA. Dua hal ini 'kan paling krusial ya untuk bridezilla mempelai wanita. Sebelumnya aku udah sempat naksir beberapa gaun dengan harga sewa yang cukup mahal dan pemilihan MUA yang juga agak mengikuti gengsi.

Kami udah sempat meeting dengan MUA-nya lho. Si cicik MUA ini emang kece banget kerjanya, terbukti lah dari portfolio di Instagramnya. Gaya mekapnya pun nyambung banget sama selera aku, yaitu soft make-up. Sebenarnya harga paket yang ditawarkan reasonable, masih bisa masuk budget, TAPI membuat budget awal jadi agak mepet. Pemilihan MUA ini bener-bener ngikutin gengsi bok! Waktu itu sampai mikir, nggak akan ada MUA lain yang lebih keren dari si cicik ini. Pokoknya harus dia!

Sampai akhirnya, mamaku dan Andreas nanya berulang-ulang, emang harus banget MUA-nya si cicik ini? Nggak ada pilihan lain, kah? Belum lagi Andreas akhirnya meluncurkan kalimat pamungkas, "Kamu jangan gara-gara gengsi, yah. Kamu 'kan belom cari pilihan yang lain."

TT_______TT

Jadi kalo misua udah ngomong begitu, maka aku pun harus rela mencari second option—yang di mana menjadi terasa sulit sekali karena seleraku sudah terpatok sama si cicik MUA itu.

At the end, aku menggunakan jasa MUA dari vendor lain dengan harga yang sangat sesuai dengan budget awal kami. Hasilnya sendiri gimana? Hmmm... kalo boleh mengulang acara, aku nggak mau sama dia. Bukan berarti nggak rekomen, yah. Mekapnya bagus kok, suer. Tatanan ((tatanan)) rambutku juga sesuai rikues yang aku sampaikan sebelumnya. Hanya saja gengsi tetap ingin sama si cicik itu, jatuh cinta banget kayaknya hahahaha.

 Ini dia hasil make-up di hari H.

But anyway, kembali lagi ke budget. Nggak usah memaksakan untuk mengeluarkan biaya lebih yang sebenarnya nggak wajib-wajib amat. Karena biaya macam begini lah yang menyebabkan over budget. Yang penting senang, dompet pun senang. 
 
3. Konsepnya kan private wedding, kira-kira perlu wedding organizer nggak, yah? 

Jawabannya, bisa perlu atau nggak perlu.

Balik lagi ke calon mempelai, karena hanya kalian yang tau jawabannya.

Kalau kami sendiri, kami nggak menggunakan jasa wedding organizer untuk acara di Bali. Siapa yang membantu? Selain PIC dari pihak venue, kami bersyukur banget punya sahabat (our dear groomsmen and bridesmaids) dan keluarga yang berpartisipasi dalam mengurus acara. Rundown dan perintilan acara kami sepenuhnya percayakan pada mereka. Tentunya tetap di-briefing, yah! Bukan berarti "orang sendiri" yang membantu, kerjanya pun suka-suka. Profesional tetap kudu dijalankan.

 Tim hore-nya Andreas dan Jane (:

Kalau mau memakai jasa WO, boleh juga kok. Pokoknya disesuaikan aja dengan kebutuhan dan balik lagi ke budget awal yah. 'Kan judulnya menikah di Bali tuh nggak mahal, hehehe. 

4. Chapel Wedding / Beach Wedding / Villa Wedding? 

Nikah di Bali udah oke, konsep udah mantap, budget sekian-sekian. Sekarang ada lagi yang musti dipikirin kalo mau nikah di Bali, lokasinya enak di mana yah?

Wedding planner / wedding organizer di Bali biasanya menawarkan paketan wedding yang berbeda-beda. Buat yang pengen menikah dengan suasana sakral, ada chapel wedding. Mungkin ada juga yang berpikiran, ah udah di Bali, harus pantai donggg. Sok atuh, ada beach wedding. Pengen private banget sampe nggak boleh ada pengunjung hotel / resor lainnya yang lewat, nih ada private villa wedding.

Setelah udah tau pengen wedding di mana, baru deh nentuin lokasinya. Lokasi dengan tema wedding di atas kebanyakan bertempat di dalam hotel atau resor. Tinggal browsing-browsing aja kok. Kalau sudah menentukan beberapa nominasi venue, bisa liat langsung ke lokasi supaya ada gambaran untuk hari H.

Sedikit informasi, venue kami waktu itu di Tresna Chapel, Ayana Resort. Kami pengen nikah dengan suansana sakral, karena kami melakukan pemberkatan juga. Jadi chapel adalah pilihan kami. Kenapa akhirnya di Tresna Chapel Ayana, karena chapel-nya mungil dan cantikkk, tapi tetap keliatan elegan. Terus background lautnya emejing sekaliii. EDITED: BOABOOO... KOK CHAPEL CANTIKNYA UDAH BERUBAAAH? Ternyata mereka melakukan renovasi dan akan selesai di bulan Juli tahun ini.

Tresna Chapel yang sebelumnya tuh macam giniii nih. Kenapa diubah, Ayana? ):

  
5. Tentang catatan sipil. 

Bagi yang ingin melangsungkan pemberkatan secara Kristiani dan melakukan catatan sipil seperti kami, disarankan untuk memastikan gereja lokal kalian mempunyai cabang di Bali.

Misalnya gini, kalian di Jakarta berjemaat di gereja A, pastikan gereja A ini juga terdaftar resmi di Bali. Karena pihak catatan sipil hanya menerima keterangan dan tandatangan dari pendeta gereja di Bali. Jadi kalau gereja A tidak ada di Bali, terpaksa catatan sipil tidak bisa dilangsungkan. Urus sendiri lagi, deh, di kota asal mempelai.

Kesannya ribet dan eksklusif sekali, yah? Ini murni dilakukan untuk menghindari pernikahan yang abal-abal aja kok. Apalagi di Bali terkenal agak bebas, yang melangsungkan pernikahan pun banyak Karena itulah pihak catatan sipil Bali agak ketat dalam hal ini.

Kami sendiri waktu itu mengalami sedikit kendala dalam hal ini. Sebelum menikah, aku dan Andreas berasal dari gereja yang berbeda. Kami sepakat untuk membawa pendeta sendiri dari gereja lokal keluarga Andreas di Bogor. Kami nggak mengetahui kondisi peraturan capil di Bali sebelumnya, later we found out, gereja lokal Bogor tersebut tidak ada di Bali.

Karena kami sudah jauh-jauh hari mengumpulkan dokumen yang diperlukan, membatalkan capil di Bali nggak mungkin dilakukan. Akhirnya terpaksa kami meminta tolong kepada pendeta dari gereja B, di mana aku sekeluarga bergereja di sana semenjak tinggal di Bali. Kebetulan juga pihak capil sudah kenal baik dengan beliau, jadi proses catatan sipil kami berhasil juga dilangsungkan saat pemberkatan nikah.

Jadi ini penting banget untuk diketahui (dan dipelajari) sebelumnya bagi yang ingin melangsungkan catatan sipil di Bali. Jangan sampai kewalahan seperti kami ya!

Sekian yang bisa aku bagiin tentang nikah di Bali. Mohon maaf aku nggak bisa menyebutkan nominal secara terang-terangan di sini. Beberapa teman dekat kami yang pernah tanya budget wedding kami di Bali, mereka cukup kaget karena nggak mahal, makanya aku berani share di sini. Buat yang masih penasaran dan pengen tau lebih lanjut, monggo japri lewat email aja ya. Sebisa mungkin aku bantu (:

Dan yang belum pernah atau kangen foto-foto wedding kami, tengok aja di sini. Nggak berasa, lho, udah mau setahun lebih!

Stay awesome, folks! 

Comments

  1. Minta emailnya dong kak :) mau mnt sharing soal budgetnya :) thanks

    ReplyDelete
  2. hi jane, can i get ur email ? wanna ask about wedding at bali :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Lee and Jessie, my email is reggieviasantoso@gmail.com (:

      Delete

Post a Comment

Thank you for reading and commenting here. All comments are moderated and I'll reply to your comments daily, so please check back. Nice to chat with you (:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts from this blog

10 Secrets from Ex-Starbucks Barista You Might Want To Know