Jenis-Jenis Pelanggan Starbucks yang Pernah Ditemui

Tuesday, October 10, 2017

Image from Miniature Calendar

Tiga tahun berlalu sejak aku mulai nulis dan berbagi pengalaman tentang kerja sebagai Starbucks barista. Hari ini tiba-tiba muncul ide untuk nulis tentang beberapa tipe pelanggan yang pernah aku temui. 

Tanpa basa-basi, cusss langsung aja dibahas!

 
1. The regular ones.

Namanya juga coffee shop, pasti ada yang namanya regular customers. Kamu bisa disebut sebagai regular, kalau dalam seminggu rutin datang lebih dari sekali. Bahkan ada yang tiap hari datang juga, karena memang kebetulan mereka kerja di dalam gedung yang sama (aku dulu kerja di gerai dalam mall, btw). Biasanya juga, mereka pasti memesan minuman yang sama. Regular customer itu paling susah pindah ke lain hati. Ditawarin minuman baru atau yang lagi promo juga nggak mau. Kayak aku kalau beli minum di Chatime, jarang banget mesen jenis minum lain selain the classic pearl milk tea.

Mau cerita apa ya dari regular customers... saking seringnya ketemu mereka jadi bingung mau cerita apa, hahaha. Oh, gini. Regular customers itu bisa dibilang tamu setia, jadi cara memperlakukan mereka juga harus beda. Kalau dari aku pribadi, menghafal nama mereka itu udah kewajiban banget. Soalnya nggak enak juga kalau kita tanyain terus siapa namanya, padahal udah sering datang. Pernah ada satu ibu yang suka datang bareng anaknya, terus temanku yang udah kerja lebih lama bilang, "Eh, si ibu itu dateng. Duh, siapa namanya, ya?" Aku jawab, "Melissa, kan? Dia sering dateng sama anak ceweknya itu." Terus temanku ini kaget dan nyahut dalam logat Balinya yang kental, "Wah, hebat nok kamu hapal namanya!" So, point plus ya buat aku :P 

Aku juga belajar nggak usah terlalu perhitungan sama regular customer. Misalnya, mereka mau nambah flavored syrup atau extra espresso shots, aku nggak akan charge ke bill mereka. They'll appreciate this little gesture, trust me. Tentunya aku nggak sembarangan juga, sih, emangnya Starbucks punya guehhh. Kalau dapat restu atau udah dipesenin dulu sama bos, baru dilakukan. 

Walaupun udah jadi pelanggan setia, mereka nggak pernah sok atau bertingkah bossy lho dengan para barista. Barista treat regulars like old good friends, begitu juga sebaliknya. Kadang pernah ketemu, ya, regular customers yang agak sombong, menuntut yang kerja harusnya sudah tahu kesukaan mereka. But thank God, selama aku kerja di Starbucks, nggak pernah ketemu regular customers yang snobbish.

Speaking of snobbish... mari kita lanjut jenis pelanggan yang kedua.

2. The (snobbish) aunties.

Nah, kalau yang ini... ehm... sedikit... sedikit ajaaa... agak ngeselin.

Ciri-ciri the (snobbish) aunties ini, biasanya mereka datang sendiri atau berdua atau segeng sama temen-temennya. Menjinjing handbag berlogo inisial high-end brands tertentu dan sejenisnya, rambut digerai bergelombang atau disanggul agak tinggi, pake baju kompakan dengan teman lainnya is a must. Mereka nongkrong di coffee shop itu mungkin karena dua hal: habis antar atau sedang nunggu jemput anak sekolahan, atau memang lagi jadwal arisan aja.

Sebenarnya tante-tante ini harmless, sih. Justru ngeselinnya itu keluar saat salah satu dari mereka nyamperin kamu untuk ngomong sesuatu yang menurut mereka "penting". Ini ceritanya pernah aku bahas di sini, jadi nggak perlu diulang lagi, yak.

Tiap abis ketemu pelanggan macam gini, aku selalu berdoa, kelak aku sudah menjadi orangtua—which I already am—nggak akan pernah memandang sebelah mata terhadap pekerjaan tiap orang. Bahkan mungkin kalau anak gue suatu hari nanti pengen coba kerjaan blue collar, silakan, nak...  Mama dukung!

Oh ya, ngeselin tante-tante part dua, adalah di saat mereka ngotot kalau promo buy 1 get 1 bisa tetap mendapatkan free upsize dengan kartu kredit dari bank tertentu. I don't mind if you say in nice way, tapi kalau udah naik oktaf dan kalimat kayak "saya udah sering belanja di Starbucks, ya!" keluar, aku lebih baik manggil boss untuk menjelaskan, sedangkan aku ke belakang untuk ngademin hati. Aku sih kalau emosi nggak bakal keluar kata-kata yang harus disensor. But I was born with this resting bitch face, di mana kalau aku lagi nggak marah aja bisa dikatain jutek, apalagi marah beneran, kan? You don't want to mess with me.

3. The generous ones.

Kalau kalian ke counter yang jualan minuman atau makanan, masih suka perhatiin nggak ada kotak kecil seperti celengan di atas meja kasir, biasanya ada tulisan "TIPS... thank you!" di kotaknya? Do you guys know, that they (the workers) really expect for your tips?

Aku nggak pernah tahu seberapa berharganya uang tips kalau nggak jadi barista. Selama menjadi barista, jarang banget aku nemu orang lokal yang kasih tips di dalam kotak itu. Biasanya yang suka tipping adalah orang-orang bule. Uang tips biasa untuk apa, sih? Paling sering untuk bayar parkir harian, hohoho *saya mantan fakir uang tips* :P

Cara pelanggan memberikan tips itu beda-beda. Cara paling standar, nggak terima uang kembalian dan dimasukkan ke dalam kotak tips tersebut. Ada juga yang pengen kasih langsung secara personal, jadi langsung masuk kantong pribadi. Nahhh, yang secara personal inilah biasanya memberikan secara generously karena sesuatu yang sudah kita lakukan untuk mereka.

Pernah suatu hari, ada seorang turis cewek dari Rusia (kalau nggak salah inget), pengen minum Java Chip Frappuccino tapi rikuesannya sedikit ribet. Sekilas yang aku ingat, susunya dia mau ganti dengan soy milk, nggak pakai whipped cream, pokoknya ada beberapa hal lainnya deh. Temenku yang lihat notes di cup-nya sampai bilang, ini ribet amat, dah!

Beberapa hari kemudian, dia datang kembali dan kebetulan aku juga yang sedang shift di kasir. Karena aku masih ingat orderannya, aku langsung 'tembak' aja waktu dia mau order minumannya itu. Dia kaget kenapa aku tahu. Aku bilang aja, beberapa hari lalu kan baru datang dan mesen minuman yang sama, kebetulan juga hari itu aku yang melayani. She looked genuinely happy because somehow I could remember what she ordered. Aku juga paham, lah, kalau misalnya aku yang jadi dia, pasti seneng rasanya bisa diingat oleh barista.

Waktu dia mau bayar, masih ada kembalian hampir 10rb. To be surprised, dia malah nolak kembaliannya dan bilang, "For you, thank you so much!". Wah, nggak mungkin lah kutolak. Buru-buru aku masukin ke kantong apron dan nggak lupa bilang terima kasih. Seneng banget dapet tips ceban, lumayan banget lho buat bayar parkir. Sejak saat itu, aku ngerti yang orang-orang sering bilang: kalau mau orang baik sama kita, kita harus baik dulu dengan mereka.

Gara-gara kejadian ini, sekarang tiap aku belanja minuman atau ke coffee shop, kalau ada kotak tips di atas meja kasir, aku pasti kasih beberapa ribu sebagai tips. Karena udah paham betapa berharganya uang tips itu.

4. The ones who can only speak their mother language.

Kira-kira bisa nebak nggak, pelanggan dari manakah ini? :D

Yak, benar sekali. Pelanggan yang cuma bisa komunikasi bahasa ibu mereka sendiri, biasanya adalah turis dari Cina, Jepang dan Korea. Kalau orang Jepang dan Korea, sih, masih bisa menyebutkan nama minuman dengan pelafalan yang masih bisa dimengerti. Karena bahasa asli mereka dengan bahasa Inggris nggak jauh beda. Kayak misal kopi, bahasa Jepangnya Kohi, sedangkan Korea Koh-pi. Americano, ya Americano. Cappuccino, ya, cappuccino. Sedangkan orang Cina, menu-menu Starbucks di negara mereka tuh ada sebutannya sendiri. Tahu nggak sebutan "frappuccino" dalam bahasa Mandarin itu apa? It's... xing bing le. Beda jauh banget, kan?? Jangan tanya artinya apa, sampai hari ini aku pun nggak paham, hahahahaha. Aku pun baru tahu gara-gara mereka dan akhirnya aku ngulik situs Starbucks China dan mencatat semua menu dalam bahasa mereka.

Kalau kami kedatangan pelanggan dari Cina, biasanya heboh dan ada aja cerita lucunya. Bayangin, mereka ngerocos dengan bahasa Mandarin, sedangkan temanku susah payah mencerna arti dan membalasnya dengan bahasa Inggris acak adul. Kayak bebek lagi ngobrol sama ayam, hahahahaha.

Dulu aku bingung banget, kenapa ya orang Cina itu nggak mau belajar bahasa Inggris, padahal jelas-jelas Inggris itu udah bahasa internasional yang dipakai sejuta umat. Selama aku kuliah di China, aku akhirnya paham kenapa. Selain karena memang negara mereka komunis banget, alias sangat menjunjung tinggi bahasa ibu, mereka juga merasa bahasa Mandarin itu udah menjadi saingan ketat bahasa Inggris sebagai bahasa internasional kedua di dunia. Jadi mereka berasumi, ke manapun mereka pergi, orang-orang pasti paham bahasa mereka.

"Kamu orang Cina??", adalah pertanyaan paling umum yang ditanyakan kalau kebetulan aku yang sedang melayani. Ya jelas bukan, yeeee... saya orang Indonesia keturunan Tionghoa yang kebetulan bisa bahasa Mandarin aje. Terus mereka ber-oooo ria, kemudian dengan girang hati mulai memesan minuman. Bisa kulihat, sih, mereka paling hepi kalau ketemu orang yang bisa bahasa mereka. Mungkin sama aja kalau kita pergi ke luar negeri, lalu ketemu orang yang bisa paham bahasa kita, feels like home aja gitu. 

Oh ya, ada satu trivia lagi yang lucu dari Chinese customers. Waktu kita tanya siapa nama mereka untuk ditulis di cup, mereka akan menyebutkan marga mereka, instead of their name. Misalnya, marga mereka Li, ya kita tulis Li. Marganya Chen, ya tulis Chen. Nanti dipanggilnya, Mr/Mrs/Miss (nama marga mereka). Pernah suatu kali aku kurang mendengar jelas marga yang disebutkan. Alhasil, si customer minta untuk menuliskannya sendiri di cup. Guess what, they wrote in Chinese character! Waktu temanku lihat, matanya langsung muter dan buru-buru manggil aku. Hahahaha!

5. The Generation Z who like to order the secret recipes.

Salah satu "rahasia" di Starbucks, para barista bisa membuatkan minuman secret recipes, dengan catatan kami diberikan resep untuk membuatnya. Biasanya yang suka order minuman jenis ini, tak lain tak bukan adalah dedek-dedek gen Z. Selain karena menarik, mungkin juga mereka nggak minum kopi dan bosen dengan menu standar non kopi punyanya Starbucks. Makanya mereka seneng banget bereksperimen dengan menu secret recipes ini.

Nggak jadi masalah, sih, kalo emang pengen pesen minum lucu-lucuan ini. Yang bikin gemes, kadang mereka lebih sok tahu daripada kita yang jadi barista, aka yang membuatkan minuman mereka. Pernah aku dapet komplen, kok minumannya manis banget, kok minumannnya mahal banget, dll. Mahal karena yang diorder memakai additionals di luar menu standar yang ada. Kemanisan, ya itu karena resepnya aja kaliii. Ada yang udah pakai syrup beberapa pumps, eh masih ditambah caramel sauce, misalnya.

Gara-gara males dikomplen dedek-dedek, setiap kali mereka order secret recipes, aku bakal infoin dulu perkiraan harganya dan rasanya bakal kayak apa. Kalau mereka setuju, cus aku buatin. Tapi kalo nggak sesuai ekspektasi, jangan ngoceh, ya, dek!

 Credit: Pinterest

Btw, Starbucks secret recipes ini tadinya eksklusif, pencetusnya adalah penggemar Starbucks di seluruh dunia, baik yang pelanggan setia maupun baristanya sendiri. Namun, aku perhatiin belakangan ini Starbucks di Indonesia mulai 'mengenalkan' beberapa secret recipes tersebut sebagai seasonal or their fushion drinks. Entah kenapa Starbucks di sini nggak lagi terkesan mewah gitu lhowalaupun interior mereka sekarang tambah bagus dan cozy, karena hadirnya minuman lucu-lucu ini. Ini aku doang atau ada yang berpikiran sama juga? 🤔

Btw lagi, kemarin baru coba Cold Brew-nya Starbucks, yang vanilla sweet cream. Enak uga!

7. The 'cheesy' ones. 

Alias the gombal ones.

Suatu hari, ada seorang cowok masih muda, datang ke depan counter dan bingung waktu melihat menu. Sebagai barista panutan, aku sapa doi dan tanya pengen minum apa. Dia jawab, dia nggak tahu mau pesan apa, tapi dia pengen kopi yang nggak terlalu pahit, lebih pengen manis. Dilihat dari penampilannya, sih, aku menebak dia orang India. Biasanya customer India suka pesen white chocolate mocha, jadi aku menawarkan minuman tersebut dan dia oke. Segeralah aku buatkan minumannya dan doi ternyata suka banget. Selang beberapa hari, doi balik lagi dan ketemu aku lagi. Dia bilang ingin pesan minuman lagi yang lain, dan aku bantu dia untuk memilih.

Beberapa hari kemudian, setelah off dua hari, aku masuk kerja lagi. Salah satu temanku heboh, katanya ada customer cowok nyariin aku kemarin dan nulis surat buatku. Aku kaget dong, customer yang mana ini pake nulis surat segala. Spv-ku mulai cengin aku, katanya, "ciyeee ciyeee Reggie punya secret admire...". Diserahkanlah surat yang ditinggalkan si customer yang ternyata hanya ditulis di balik bill toko. Mau baca suratnya nggak? Aku sengaja minta tolong papa di Bali untuk fotoin demi postingan ini, karena suratnya pun masih aku simpen di kamar lamaku, hahaha.

Thank you very much for chosing and helping me to chose all the coffees. You can really cheer someone up with your smile,. I came here to say goodbye as I am leaving tomorrow. Anyway, best of luck for your future. And you're a great employee person to me. Thank you. 
-Mesh (Bangladesh)

p.s. I was confused to chose my coffee today as you weren't there.  

Gimana? Ter-cheesy 2014 banget, ya!

Jujur, waktu baca aku sempet ge-er dikitttt hahahahaha. Ya gimana dong, ini surat penggemar pertama lah yang aku dapet selama jadi barista. Dalam hati, bangga juga, ya, ternyata I can make someone happy. Di lain sisi, geli juga, sih. Ini orang gombal benerrrr, hahaha. But still, I was really happy receieved this letter. You won't read this blogpost tho, but I still keep your letter. Thank you so much, Mesh! 

8. The ones who come from our kin. 

Siapa lagi kalau bukan orang endonesiaaaaah. 

Ciri khas orang endonesiah yang ke Starbucks cuma satu: selalu beli kopi dengan kartu kredit dari bank tertentu untuk mendapatkan free upsize dan tentu saja untuk mengikuti promo buy 1 get 1. Nggak peduli minuman yang promo favorit mereka atau bukan, yang penting beli satu dapet dua, cyin!

9. The ones who make themselves at home. 

Jadi barista itu nggak cuma bikin kopi, tapi berhubungan dengan banyak orang. Gara-gara jadi barista dan mengenal macam-macam orang, aku sampai mikir, "Oh ternyata ada juga orang kayak gini...". Contohnya yah yang tipe begini, pergi ke coffee shop terus berasa kayak di 'rumah' sendiri. Bolak-balik minta air panas, pinjem pisau buat potong buah yang dibawa sendiri (serius ini ada... buah yang dibawa pun nggak nanggung-nanggung... semangka utuh, sodara-sodara!), pinjem piring untuk tarok buahnya, minjem charger hape atau nitip ngecas, mesen kopi ukuran tall dan duduknya berjam-jam. Nggak usah disebut lah pelanggan dari mana yang kek begini. Namanya juga manusia, macem-macem juga kelakuannya, hihi.

(BONUS) 10. The pregnant lady who is craving for a drink with whipped cream on top.

Aku nggak pernah lupa tentang pelanggan ini. Ceritanya simpel, sih, tapi membekas di memori otak.

Suatu hari, aku lagi shift pagi dan biasanya di pagi hari belum begitu ramai yang dateng ke toko. Tiba-tiba datang sepasang suami istri bule. Istrinya pengen pesen minuman frappuccino atau apa gitu, lalu istrinya rikues whipped cream yang banyak. Kebetulan di gerai kami lagi kehabisan stok whipped cream, jadi harus nunggu partner lain yang lagi ngambil pinjeman dari gerai terdekat. Di luar dugaanku, she looked very upset, malah kayak mau nangis gitu. Aku agak panik dan bengong. Ini kenapa cuma gegara whipped cream orangnya nangis? Terus suaminya kayak comfort her bit, kemudian ngomong ke aku sambil nunjukin perut istrinya, "Dia lagi hamil terus ngidam whipped cream, jadi dia agak kecewa waktu kamu bilang habis." Yaampunnn! Memang ya, preggo lady should have whatever she wants. Akhirnya, aku jelasin whipped cream-nya lagi dalam perjalanan, mungkin dalam beberapa menit udah tiba. Kalau bersedia, silakan tunggu sebentar.

End of story, ngidamnya bumil kesampean juga, deh (dan kuyakin suami pun aman, karena biasanya kalo ngidam nggak kesampean, suami kena imbas #curhatterselubung HAHA). Si istri seneng banget persis anak kecil yang diijinin makan eskrim. Hal-hal receh kayak gini kenapa bikin aku seneng jadi barista.

Masih ada banyak lagi sebenarnya tipe-tipe pelanggan yang pernah aku temui. Yang galak, yang aneh, yang pecicilan, yang creepy (ini pernah dialami mantan barista di tempatku, so there was a creepy guy yang ngotot mau nungguin dia selesai kerja, bahkan sampai dini hari. Karena takut, teman-teman yang cowok jadi nemenin dia banget sampai si creepy guy ini pulang), dan lain-lain.

Seru, sih, selama kerja jadi barista. Pengalamannya banyak banget. Mau tahu ada berapa jenis manusia di bumi ini? I suggest you to work in a coffee shop!

Btw, kalian sendiri tipe pelanggan yang kayak apa, nih? Selain tipe nomor 8 (EYALAH :P), aku juga termasuk tipe nomor 1 juga di langganan coffee shop tertentu. Mau  jadi tipe pelanggan seperti apapun, yang penting jangan lupa untuk always be nice, ya! Walaupun pelanggan adalah raja, tapi kita juga harus menghargai mereka yang udah bersedia melayani kita (:

14 comments:

  1. bener banget! walaupun pelanggan adalah raja, tapi kita juga harus menghargai mereka... apalagi kalo kerja di bidang jasa gitu, kayaknya susah banget buat menghargai, maunya suka seenak udel mereka doang #malahcurhat hahahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha karena cici pernah jadi guru ya? Aku sejak jadi barista makin menghargai banget pekerjaan blue collar banget. Kerjaan mereka keliatan sepele dan sering dianggap remeh sama orang lain, tapi sebenarnya berat juga lho. Belum tentu yang hina seenak udel itu bisa ngerjainnya hal yang sama #lahcurhatjuga hahaha

      Delete
  2. Berhubung cici ga minum kopi (biasa kopi cuma jd part of the mixed drink), jadi jaraaaaang banget ke Starbucks kecuali janjian ketemu sama orang. Cici waktu itu pernah janjian ktm sama salah satu vendor wedding di Sbucks (dia yg mnt ktm di situ), dan dia mesen cm 1 minuman tp kita ngobrol hampir 3 jam. Dianya santai aja kayak udah biasa. Cici yg ga enak, jd tambah pesan lagi selain minuman awal. Kayaknya typical orang yg nongkrong itu di mall Jkt masuk di top list kali ya dibandingin sama the regulars (IMHO), soalnya jarang banget yang pesen Sbucks to go kalau di mall. Nahhh kalo di kantoran, justru malah to go semua sampai hampir gak ada kursinya haha. Enak yang begini kali ya buat company, duitnya muter lbh cepet.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener yang ci Le bilang. Kalau gerai di dalam mall biasanya kebanyakan orang nongkrong, meeting atau ngerjain tugas. Temenku yang kerja kantoran juga bilang Starbucks di gedung kantornya malah nggak pernah ada yang duduk hahaha.

      Sebenarnya nggak masalah sih 1-2 orang mau duduk berjam-jam, yang ngeselin ada aja anak2 se-geng pesen minuman cuma 2 gelas, sedotannya banyakan terus duduk lamaaaa banget! Kan gerah yah, hahaha

      Delete
  3. aku jelas nomor 8 hahaha. dlu cuma mesen yg ada green tea2 nya, mulai kesini-sini mulai mau buat coba minuman lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha standar sih nomor 8 yah, ada promo free upsize sepanjang tahun rasanya rugi nggak dipake :P

      Delete
  4. Aku tipe no.1 walaupun paling seminggu sekali aja ke Starbucks. Kadang suka pengin nyobain menu-menu baru tapi pasti ujung-ujungnya balik pesen hazelnut latte atau cappuccino :)) Jadi inget, aku pernah sampe bete pas ngantri di belakang gerombolan dedek-dedek gemes yang pesenannya kayak yang panjang dan ribet dan berisik hahaha. Salut banget sih, sama para barista yang selalu senyum ramah mau ketemu pelanggan seaneh apapun, and you're so lucky Jane punya pengalaman jadi barista :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selalu senyum itu udah harga mati sih, Ya. Tapi kadang kalau lagi nggak mood terus kesel sama kelakuan customer, selesai melayani pergi ke belakang untuk merepet hahahahaha #curcollagi

      Delete
  5. gua pernah 2 kali jadi yang tipe nomor 9. huahahaha. padahal gua itu jarang banget ke sbux tapi kalo nyari tempat yang bisa buat nongkrong (lengkap dengan power outlet) berjam-jam ya kepikirnya cuma sbux doang. hahaha.

    yang sekali gak tanggung2, gua ama andrew nongkrong selama 5 jam dengan mesen 2 minuman doang. :P gara2 nunggu emma shooting. yang kedua kali masih sama andrew kayaknya kita nongkrong sekitar 2 jam lebih, gara2 nunggu emma pesta ultah temennya. huahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wih, betah juga ko duduk doang 5 jam, terus dua kali nongkrong gara-gara nungguin Emma ya hahaha

      Delete
  6. Walaupun jarang ke starbucks, sebulan belum tentu sekali, haha. Minuman yang aku pesan ya itu-itu aja, Java Chip Frappucino / Chocolate Chip Cream / Hot Signature Chocolate.

    Sekali2 jadi tipe nomor 8, haha. Ya ga boong sih, lumayan banget kalo lagi ada promo, asal ngantrinya wajar ya dijabanin. Masalahnya orang Indo tuh tajir-tajir tapi rada pelit, mungkin orang Surabaya aja kali ya. Kalo tanggal 22, antriannya bikin batal ke Starbucks!

    Pernah juga jadi tipe no9. Itu juga karena butuh air minum sih, secara di Starbucks kan bisa minta air putih hahah, tapi udah beli minuman lainnya kok, cukup tau diri :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh, aku tadinya nggak berani mention orang lokal dari daerah tertentu, but you mentioned anyway HAHAHA soalnya memang waktu aku kerja di Starbucks Bali, pas libur lebaran orang-orang mereka buanyak banget yang belanja pake CC, ampe gempor aku gesekin kartu hahahaha

      Delete
  7. I was laughing so hard when I read about "dedek dedek gen Z", that was exactly yang kita omongin kemarin, right? Well sebenernya yang keki bukan cuma baristanya, once i was queuing behing those dedek-dedek gemas, they took to long for me to handle tapi liat barista2nya sabar ngelayanin, i was touched. Aku aja yang antri sebel, apalagi yang layanin? Anyway, nice post ci! <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. I was writing this article when we talked about that hahahaha. Memang butuh kesabaran ekstra melayani para dedek-dedek itu, soalnya aku gemas karena bisa-bisanya kita yang diomelin, tsk.

      Thank youuuu so much for reading, btw! <3

      Delete

Thank you for reading and commenting here. All comments are moderated and I'll reply to your comments daily, so please check back. Nice to chat with you (: