Bandung Diary #2: Main-main di Tahura, Farmhouse dan Hobbiton

Monday, April 16, 2018


Baca episode sebelumnya dulu, yaaa.

Rencana pagi itu, selesai breakfast di hotel, kami mau meluncur ke tempat kerjanya partner suami. Kebetulan lokasinya memang jauh. Perhitungannya, sih, setelah dari tempat tersebut, kami bakal mampir ke Taman Hutan Raya (Tahura) yang berlokasi di Dago Pakar. 

Kenapa kok pengen ke Tahura?

Sebenarnya, karena baca postingan Mba Lei cerita Bandung tahun lalu. Katanya ada sebuah kafe ciamik di dalam Tahura. Kayaknya kece aja gitu ngopi santai di tengah hutan. 

Begitu kami siap berangkat, eh suami dapat kabar si partner-nya lagi nggak di tempat, siangan baru kembali. Karena waktu setempat terbilang masih cukup pagisekitar pukul setengah delapanaku langsung suggest untuk ke Tahura dulu aja. Mumpung matahari pagi masih nggak begitu panas, pasti enak untuk jalan pagi. 

Maka melaju lah mobil kami... cusss ke Tahura! 


Bener, kannn... udara pagi hari itu segerrr dan adem banget! 

Untung kepikiran ke sini dulu, coba bayangin kalo mengikuti rencana awal, yaitu siang-siang ke hutan. Panas, shaaay! 



Aku nggak banyak foto-foto selama di Tahura, soalnya sibuk menikmati udara pagi. Enjoy the moment gitu, deh. 

Layout Tahura ini super luas dan gedeee banget. Tadinya aku pengen mampir ke kafe ala-ala yang ada di dalam hutan, plus ajak Josh liat penangkaran rusa. Sayangnya, jarak dari gerbang utama ke dua tempat tersebut sangatlah jauh. Kalau nggak salah sekitar 2-3 km. JAUH, KAN? *nggak kokk... lo aja malas jalan*

Sebenarnya, kalau menurut postingan Mba Lei yang ke Tahura juga, mereka bayar ojek yang mangkal di dekat pintu masuk untuk diantar ke lokasi penangkaran rusa dan juga kafe. Ditungguin, lho, untuk bolak-balik. Cuma karena memang kami nggak ngebet banget harus ke sana, jadi nggak dipaksain. Lagipula, rusa doang mah di Kebun Raya Bogor juga ada, hihi. 

Selesai jalan-jalan di Tahura, ternyata waktu kami masih agak panjang menuju siang hari. Di dalam mobil, kami braindstorming enaknya ke mana—turun ke kota apa naik ke Lembang. Tiba-tiba suami nyeletuk, "Eh kita ke Farmhouse aja, kan belom pernah."

Eh iya, bener juga. Mumpung bocah udah lumayan besar, kayaknya seru juga main ke Farmhouse. Pas banget hari itu hari Senin, pasti tempatnya nggak rame-rame amat. Yuk, berangkat! 


Farmhouse Lembang 

Begitu masuk lapangan parkir, kami agak kaget karena jumlah mobil dan bus yang parkir lumayan banyak. Lah, ini anak-anak pada nggak sekolah apa? 

Ternyata, menurut info seorang teman yang berprofesi guru di sekolahan, hari itu memang libur anak sekolahan karena ada UAN. Ohhh, baeklah kalau begitu. 

Tentang Farmhouse ini, sebenarnya aku udah sering dengar gaungnya waktu awal-awal tempat wisata ini hits banget. Lumayan penasaran isinya sebagus apa, khususnya ekspektasiku dengan Hobbiton. 


 Waktu masuk ke area, kita diberi tiket masuk seharga 25k/orang dan bisa ditukarkan untuk minum susu murni segar

How was the milk?
Jujur aja, not my cup of milk, hahaha. Mungkin karena susu murni gitu ada sedikit bau yang khas, beda dengan fresh milk yang dijual di pasaran. 

Kami memutuskan untuk masuk ke area petting zoo terlebih dulu. Walaupun binatangnya dikit banget, tapi lucu-lucu, sih, tingkahnya. Apalagi bawa anak kecil, terus mereka belajar untuk kasih makan binatang itu cukup seru. Sooo gemassss, liat Josh kasih makan kelinci dan para domba. This was his first time, anyway, main-main dengan binatang jinak, selain anjing peliharaan di rumah tentunya, hahaha. 



Yang bikin senang selama di area ini, hewan-hewannya terbilang cukup terawat lho. Nggak keliatan stres dan cenderung bersih. Kami berdua ngebebasin Josh untuk pegang para hewannya, yang penting setelah itu cuci tangan. 

Selesai dari petting zoo, kami lanjut masuk area selanjutnya, yaitu Hobbiton. 

Eniwei, aku cukup kaget ternyata untuk masuk ke sini, harus bayar tiket lagi seharga 20k/orang. Kirain dalam satu area nggak perlu bayar lagi. Dan tiketnya jangan sampai hilang atau dibuang, ya, karena bisa ditukarkan juga dengan makanan kecil. 


Keluarga cemara yang menatap masa depan penuh harapan... tapi suami kok merem, anak malah kayaknya keliatan betek...

Ekspektasiku hampir 0 tentang Hobbiton ini, dan aku sukses dibuat terpesona dengan layout-nya yang rapihhh dan cantik! Apalagi waktu masuk ke dalam rumah Hobbit-nya, super lucu! 

Karena nggak nonton atau baca TLoTR, aku kurang paham tentang dunia Hobbit. Tapi, isi rumahnya menurutku cukup detil lho. Bagus banget malah. Serasa bener ada yang ninggalin rumahnya *lah kok jadi horor* 

Catatan pengingat khususnya yang senang selpian, selama home tour ini kita nggak boleh sembarang menyentuh atau menduduki properti yang ada. Ada stiker tanda di mana kita nggak boleh pegang barang tersebut. Jadi, hati-hati, ya!

 Salah satu sudut rumah favorit aku: dining room!

 Nah, tiket masuk Hobbiton bisa ditukar dengan pie susu ini


Oh ya, buat yang datang dengan keluarga atau teman geng atau arisan squad, terus pengen foto bareng, nggak usah bingung siapa yang bisa fotoin. Ada staff yang siap sedia untuk bantu fotoin kalian, plus diarahkan pose juga jika dibutuhkan. Foto kami bertiga di atas itu difotoin sama Aa-nya, tjakep, kan?

Selesai dari Hobbiton, masih ada beberapa spot lagi yang bisa dikunjungi, seperti toko souvenir, foto studio dengan kostum ala-ala Belanda, restoran dan kafe untuk yang pengen makan atau duduk cantik. Oh ya, kita juga bisa main ke kandang sapi dan memberi mereka minum susu.


Karena waktu sudah hampir menunjukkan jam makan siang, kami pun bergegas kembali turun ke kota. Suami ngidam makan di Ikan Pesmol Cianjur di Jalan Setiabudi. Parah, sih, siang itu kami makan sampe begah banget! Ikan pesmol mereka memang juara!

Ini ikan pesmol. Sekian. 
Photo credit: @doyankuliner

Saking kenyangnya waktu makan siang, kami hampir nggak berencana untuk makan malam lagi. Namun, hawa nafsu ini pun lemah karena browsing Gofood dan menemukan menu yamien (lagi) Gang Monyet, yang juga berlokasi di Sudirman Street. Setelah nunggu hujan malam itu berhenti, kami pun langsung nge-gofood tanpa ragu. Pesanan kami pun datang sekitar jam 8 malam. Begah-begah, begitu buka bungkus bakmie gragas juga makannya, HAHAHA. Si bocah juga ikut-ikutan pulak. Bukan Joshua namanya kalo liat mie nggak napsuan, mah.

***
Sekian cerita hari kedua kami di Bandung. Episode selanjutnya tentang review kecil-kecilan hotel tempat kami menginap, ya. 

Terima kasih yang sudah baca. Stay awesome! 

6 comments:

  1. Waah setahun yang lalu aku ke Farm House dan hobbiton-nya belum sejadi ini. Cuma display pintu rumah hobbit aja, ini sih perlu ke sana lagi kayaknya 😂 Tahura salah satu favoritkuu, paling pas memang ke sana pagi-pagi, kalau udah siang ga kuat sama panasnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi ini sebenarnya Hobbiton baru direnovasi ulang gitu, ya? Soalnya pas ke sana masih ada pengerjaan gitu, sih.

      Ke Tahura ini persis kayak ke kebun raya di Bogor, bedanya yang satu hutan satu "kebun", hahahaha. Aku masih penasaran sama kafe di dalam Tahura, nih. Kapan2 ke Bandung ke sana lagi ah :D

      Delete
  2. pas baca gua mikir, ini hobbitonnya dimana ya, perasaan dulu ga ada... tapi baca komennya, ternyata dulu belom jadi hahahaha... tapi gua kurang suka sama farm house, karena tempatnya kurang kids friendly... emang ada mini zoonya gitu sih, tapi akses menuju kesana agak sempit dan ga stroller friendly... lebih suka de ranch, karena ada lapangan luas buat jayden lari2 hahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi memang si Hobbiton ini baru apa direnovasi ulang gitu, ya?

      Nah, waktu itu sempet baca review yang kayak gini juga, Ci. Cuma mungkin aku nggak bawa stroller dan anak juga pas usianya diajakin main di sana jadi fun-fun aja, sih. Mungkin kalo udah segede Jayden harus cari tempat yang lebih luas buat bebas lari-lari, hahahaha. Ranch ada di Puncak nih, kapan2 mau ke sana, deh.

      Delete
  3. Lahhh ini Hobbiton KW yang lebih advance dr Hobbiton aslinya ini! Wong di Hobbiton asli aja kita kagak bisa masuk ke rumahnya, eh di yang KW malah sampe rumahnya penuh detail hahahaha. Canggih!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaha berarti memang negara kita ini selalu ingin lebih daripada aslinya! Serius deh aku sampe bengong ini perintilannya banyak dan detil amat. Sayang juga nggak bisa diapa-apain

      Delete

Thank you for reading and commenting here. All comments are moderated and I'll reply to your comments daily, so please check back. Nice to chat with you (: